Dalam masa nifas, ada perubahan tubuh yang terjadi. Namun jangan cemas, ini adalah hal normal.

perubahan fisiologis masa nifas

Selamat siang, Sobat Bidan!

Masa nifas merupakan masa pemulihan pasca melahirkan yang kira-kira berlangsung selama kira-kira 6 minggu, ya. Pada dasarnya, tidak ada perbedaan signifikan yang terjadi antara masa nifas ibu yang melahirkan normal dengan ibu yang melahirkan sesar.

Selama masa ini, ada perubahan tertentu yang mungkin saja terjadi pada ibu. Hal tersebut tidak perlu dicemaskan, karena memang lumrah terjadi di masa nifas. Apa sajakah bentuk perubahan tersebut? Simak postingan ini sampai selesai, ya!

Rasa Sakit di Payudara

Beberapa hari setelah bersalin, rasa sakit di payudara ini memang kerap menjadi keluhan ibu nifas. Namun, hal ini normal karena merupakan penyesuaian payudara terhadap keluarnya ASI. Tak jarang payudara bisa bengkak karena hal ini.

Yang perlu ibu lakukan adalah terus menyusukan ASI tersebut pada si kecil. Kalau terlalu sakit, ibu bisa memompanya dan menyuapkan pada bayi. Lakukan kompres hangat terlebih dahulu sebelum dan sesudah menyusui supaya lebih rileks. Jika tak tertahankan sakitnya, maka ibu bisa berkonsultasi dengan dokter supaya diberi obat pereda nyeri.

Perut Masih Sering Kontraksi

Hal ini pernah dijelaskan secara detail di sini, ya. Intinya, perut ibu masih berkontraksi seperti saat menstruasi karena rahim sedang mengalami involusi atau proses kembali ke bentuk semula. Kontraksi juga menandakan bahwa rahim telah bersih dan tidak ada sisa plasenta yang tersisa di sana sehingga tidak terjadi perdarahan.

Perut kontraksi itu wajar
Tidak Nyaman di Area Vagina

Khususnya untuk ibu yang melahirkan normal dan terdapat luka robekan di vagina, maka rasa tidak nyaman ini pasti akan terasa. Hal tersebut bisa hilang dalam beberapa hari atau minggu, tergantung dari tingkat robekan dan jahitannya. Jika sangat mengganggu, ibu bisa duduk dengan menggunakan bantal khusus untuk ibu nifas yang di tengahnya ada lubang.

Rambut Lebih Rontok dan Warna Kulit Berubah

Karena sudah tidak hamil lagi, hormon-hormon kehamilan yang semula tinggi pun akan menurun drastis. Hal tersebut sudah pasti akan membawa perubahan seperti rambut lebih rontok. Itu sudah pernah kita bahas di postingan ini, ya.

Selain itu, warna kulit seperti strech mark yang terjadi selama hamil juga akan berubah. Mungkin tidak langsung hilang begitu saja, tapi warnanya akan semakin memudar dan tidak terlalu kentara seperti saat hamil.

Mengalami Kesulitan Saat BAK

Tak jarang ibu nifas mengalami kesulitan saat hendak buang air kecil. Hal ini disebabkan karena terjadi luka atau pembengkakan di jaringan yang ada di sekitar kandung kemih dan uretra. Itulah yang menyebabkan ibu sulit BAK. 

Namun, adanya kerusakan saraf dan otot yang terhubung ke kandung kemih dan uretra pun kadang akan menyebabkan sebaliknya. Ibu bisa saja tanpa sadar mengeluarkan urin seperti pada saat tertawa, batuk, atau bersin. Hal ini bisa diatasi dengan senam kegel untuk kembali mengencangkan otot-otot panggul pasca bersalin.

Perubahan Emosi yang Tidak Terprediksi

Hal ini juga akan terjadi pada ibu nifas, dan normal selama masih dalam batasannya. Masa-masa hamil dan melahirkan yang sangat melelahkan menjadi penyebab utama dari perubahan emosi tersebut. Namun, jika sampai berlebihan seperti jadi takut melihat bayinya sendiri, tiba-tiba menangis sendiri, itulah yang perlu dikhawatirkan. Kita pernah membahasnya di sini, ya.

Adanya mood swing
Mengalami Penurunan BB

Pasca melahirkan, percayalah BB ibu sebenarnya sudah turun banyak. Hal ini karena bayi, plasenta, dan air ketuban sudah tidak lagi ada di dalam tubuh ibu. Namun, banyak sekali ibu yang masih merasa gemuk pasca melahirkan, dan ini adalah hal yang normal. Jika ingin BB kembali seperti semula, maka ibu harus pandai menjaga pola makan dan olahraga.

Nah, itu dia beberapa perubahan yang akan terjadi pada ibu selama masa nifas. Jangan cemas ya, hal tersebut merupakan hal yang wajar dan normal. Sebaiknya ibu fokus saja pada si kecil dan kebahagiaan ibu karena kehadirannya.

Demikian Sobat Bidan, semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,



Duduk terlalu lama saat hamil bisa mempengaruhi posisi janin di dalam perut ibu. Bahayakah?

duduk terlalu lama saat hamil

Selamat siang, Sobat Bidan!

Katanya, terlalu banyak duduk saat hamil bisa menghambat persalinan, ya? Faktanya, hal itu berpengaruh pada posisi kepala janin di dalam perut.

Sekitar 15% wanita ternyata mengalami kehamilan dengan posisi posterior. Posisi ini artinya, kepala janin sudah berada di bawah, namun bagian belakang kepalanya berlawanan dengan tulang belakang.

Hal ini membuat kepala janin dalam perut menghadap ke atas, padahal seharusnya kepala janin harus menghadap ke bawah. Penelitian menyebutkan bahwa pengaruh posisi ini salah satunya disebabkan karena ibu hamil lebih sering duduk dalam waktu yang lama. 

Ketika kita duduk dalam waktu yang lama, maka posisi lutut biasanya akan sejajar atau lebih tinggi dari panggul. Posisi demikian akan membuat panggul terdorong ke belakang dan menyebabkan tulang belakang janin menempel dengan tulang belakang ibu. Maka, terjadilah posisi posterior tadi. 

Posisi ini jelas akan menghambat proses persalinan ibu secara normal. Namun, ada lho, cara supaya posisi posterior ini berubah pada posisi yang seharusnya. Cara-cara tersebut, antara lain sebagai berikut :

Duduklah dengan Posisi yang Benar


Di trimester akhir kehamilan, sebaiknya ibu mulai mengatur posisi saat duduk. Sebaiknya, saat duduk ibu harus duduk tegak dan sedikit mencondongkan badan ke depan. Hal ini akan membuat panggul juga ikut condong ke depan dan memberi ruang pada kepala janin untuk 'berputar' pada posisi yang benar.


Pertahankanlah postur duduk seperti ini dalam kegiatan apa pun seperti saat sedang bersantai nonton tv, atau pun makan. Ibu bisa memberikan bantal sebagai sandaran punggung supaya badan lebih condong ke depan dan panggul ikut naik. 

Saat bersantai seperti nonton tv misalnya, jangan duduk di sofa yang bisa menelan tubuh ibu. Tetap duduk di kursi dengan sandaran bantal dan posisikan kedua tangan di lengan kursi. Selonjorkanlah kaki ke bawah sehingga posisinya tidak sejajar dengan perut.


Lakukan Aktivitas Ringan di Tempat Kerja

Jika pekerjaan di kantor mengharuskan ibu dalam posisi duduk yang lama, maka lakukanlah aktivitas ringan. Misalnya, dengan meregangkan tubuh setiap 30 menit sekali atau berjalan-jalan ringan. Jika memang keadaan tidak memungkinkan dan ibu harus duduk terus, maka jagalah sikap duduk seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Hati-hati Naik Turun Tangga

Perhatikan pula saat ibu hendak naik atau turun tangga. Posisi yang benar bagi ibu yang sedang hamil besar adalah naik turun tangga dengan posisi tubuh menyamping. Tapaki tangga satu per satu dengan tubuh menyamping dan berpeganganlah.

Naik turun tangga dengan posisi ke depan seperti saat sebelum hamil akan menyebabkan posisi lutut lebih sering sejajar dengan panggul. Ini bisa menghambat perputaran kepala janin dari posisi posterior tadi ke posisi yang normal.

Lakukan Latihan Ini

Seminggu sekali, lakukanlah yoga atau berenang dengan gaya bebas. Jika tidak ada waktu, maka ibu bisa melakukan latihan merangkak dengan tangan dan lutut seperti gerakan orang yang sedang mengepel. Hal ini bagus agar kepala janin bisa berputar ke posisi yang benar.

Duduk dengan Gym Ball

Paling mudah, ibu bisa duduk di rumah dengan gym ball. Posisi duduk dengan alat ini akan membuat panggul lebih tinggi dibanding lutut. Pantulan bola dari gym ball juga bisa membuat janin untuk putar balik secara pelan-pelan. Posisi yang paling optimal untuk duduk di atas gym ball ini ada pada saat kepala janin menghadap ke bawah dan tubuh janin berada di kiri perut ibu. 

Nah, itu dia beberapa tips dan fakta mengenai duduk berlama-lama saat hamil. Sudah bisa dipraktikkan, ya, semoga persalinannya lancar!

Salam sayang,