Waktu menstruasi setelah melahirkan pada setiap wanita berbeda-beda. Yang normal, yang bagaimana, ya?

menstruasi setelah melahirkan

Selamat siang, Sobat Bidan!

Ada yang baru melahirkan dan merasa cemas karena belum menstruasi lagi? Sebenarnya kapan sih, waktu yang tepat kembali menstruasi setelah bersalin? Tenang, hal ini ada penjelasan ilmiahnya, kok. Simak postingan ini sampai selesai ya, Sobat Bidan!

Kapan waktu yang normal?

Waktu yang normal bagi seorang ibu untuk mendapat menstruasi kembali pasca bersalin ini berbeda-beda. Tak hanya antar wanita, kadang seorang wanita mengalami waktu berbeda mendapatkan kembali menstruasinya pada setiap persalinannya.

Hal ini berkaitan erat dengan apakah ibu tersebut menyusui bayinya atau tidak. Ibu yang menyusui si kecil selama 6 bulan penuh secara eksklusif, bisa jadi akan mendapat menstruasi kembali dalam kurun waktu yang lebih lama. 

Ibu belum akan mendapat menstruasi bisa sampai 6 bulan, bahkan lebih. Apa lagi apabila si kecil menyusu dengan adekuat, pagi, siang, malam. Kemungkinan ibu mendapat menstruasi bisa lebih lama lagi.

Berbeda halnya dengan ibu yang memberi si kecil sufor atau kombinasi sufor dan ASI. Ibu cenderung akan lebih cepat mendapat menstruasinya kembali. Rata-rata, ibu yang tidak menyusui bayinya akan kembali menstruasi dalam waktu 45 hari setelah melahirkan atau antara 3 - 10 minggu. 

Jadi, memang tidak ada waktu pasti kapan seorang ibu akan mendapat menstruasi kembali setelah melahirkan. Namun, jika ibu tidak menyusui bayinya tapi tak kunjung menstruasi juga sampai 3 atau 4 bulan lamanya, maka segeralah periksakan diri ke dokter. Mungkin saja ada kelainan yang lain.

Sedangkan ibu menyusui yang belum mendapat menstruasi bahkan sampai 6 bulan, tidak ada yang perlu dicemaskan. Itu adalah hal yang normal.


Apa penyebabnya?

Penyebab kenapa ibu menyusui lebih lambat mendapatkan menstruasinya kembali pasca bersalin adalah karena pengaruh hormon. Pada saat menyusui, hormon-hormon yang digunakan untuk ini seperti hormon prolaktin akan meningkat jumlahnya secara pesat.

Hormon prolaktin yang berlimpah ini kemudian akan menekan produksi hormon-hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini juga berperan penting dalam siklus menstruasi. Jika hormon reproduksi ditekan seminim mungkin, maka ibu tidak akan mengalami ovulasi. Karena tidak adanya ovulasi tersebut, maka ibu tidak mengalami menstruasi. 

Kemungkinan untuk hamil pun menjadi kecil karena tidak adanya ovulasi tadi. Itulah sebabnya kenapa menyusui disebut juga dengan MAL (Metode Amenorhea Laktasi), yang merupakan cara KB alami. 

Apa bisa hamil lagi?

Meski dikatakan sebagai kontrasepsi alami dan menekan kehamilan, namun banyak juga ibu menyusui yang tiba-tiba hamil lagi. Hal ini berkaitan dengan ovulasi pertama setelah persalinan. Meski belum mendapatkan menstruasi lagi, namun bukan berarti masa subur ibu belum kembali. Apa lagi jika ibu masih dalam usia yang produktif.

Maka dari itu, untuk mencari aman, segeralah menggunakan metode KB setelah ibu melahirkan. Meski belum menstruasi, tapi jika ibu dan suami berhubungan, bukan tidak mungkin ibu bisa hamil lagi. 

Metode kontrasepsi dengan menyusui tersebut juga berlaku hanya pada saat ibu menyusui secara eksklusif, dalam artian hanya dalam waktu 6 bulan saja. Akan lebih baik jika ibu tetap menggunakan KB meski belum 6 bulan menyusui untuk berjaga-jaga. Karena keberhasilan dari MAL tadi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti baby blues, ibu kelelahan, dan juga stres pada ibu.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal yang perlu diketahui tentang menstruasi pasca bersalin. Bagaimana, sudah tidak cemas lagi, ya? Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,


Jangan sepelekan pola BAB pada bayi baru lahir, begini yang benar.

bab pada bayi

Selamat siang, Sobat Bidan!

Punya bayi memang kebahagiaan tersendiri, ya. Ada banyak hal baru yang bisa Sobat Bidan pelajari sebagai ibu, tak terkecuali pola buang air besarnya. Pernahkah Sobat Bidan merasa cemas dengan jenis tekstur atau frekuensi BAB pada bayi?

Sebenarnya, BAB yang bagaimana sih, yang normal pada bayi? Simak postingan ini sampai selesai, ya!

Pengaruh ASI

Sebenarnya, buang air besar pada bayi sangat dipengaruhi oleh apa yang dia konsumsi. Apakah ibu memberinya ASI atau justru susu formula. Kedua asupan ini akan memberi efek buang air besar yang beda kepada bayi. 

Jika si kecil diberi ASI dan dia buang air besar kurang lebih lima kali dalam seharinya, hal ini justru bagus. Itu artinya bayi ibu terpenuhi kebutuhan cairan dan ASI-nya. Frekuensi itu pun bisa jadi akan berbeda setiap harinya, tergantung banyaknya ASI yang diminum bayi. 

Hal ini jelas akan berbeda lagi dengan bayi yang tidak diberi ASI, atau hanya diberi susu formula. Menurut sebuah penelitian, ASI sangat lebih mudah dicerna dibandingkan susu formula. Itu sebabnya, bayi yang diberi ASI jarang terkena masalah pencernaan. Jika kemudian frekuensi BAB-nya lebih sering pun ini termasuk hal yang lumrah dan tidak perlu dikhawatirkan selama masih dalam batas normal.

Tekstur Feses

Jika ibu mendapati pup si kecil bertekstur sangat halus atau kadang juga berair, tidak perlu khawatir. Itu bukan berarti si kecil mengalami diare. Hal tersebut lumrah apalagi bila si kecil diberi ASI. Si kecil yang diberi susu formula tekstur fesesnya akan cenderung lebih keras.

BAB yang Tidak Normal

Jika feses bayi berlendir, berbau, dan cair, inilah yang harus ibu waspadai. Ketiga tanda ini merupakan gejala diare pada bayi. Biasanya, bayi ASI jarang terkena hal ini, jika pun sampai terjadi, biasanya akan sembuh sendiri dan tidak lama. Sedangkan bayi sufor memang akan lebih berisiko mengalaminya.

Yang perlu diwaspadai juga adalah saat si kecil tidak BAB sampai satu minggu atau lebih, dan fesesnya lebih sering keras dan kering. Selain bisa karena kekurangan cairan, itu juga bisa jadi tanda bayi mengalami alergi.

Pada bayi ASI, alergi bisa terjadi saat ibu makan makanan tertentu. Pada bayi sufor, kemungkinan paling sering terjadi adalah bayi alergi pada jenis laktosa. Jika demikian, segera bawa bayi ke dokter atau bidan.

Nah, itu dia sekelumit tentang BAB yang normal pada bayi. Sudah tidak bingung dan cemas berlebihan lagi bukan, Sobat Bidan? Semoga artikel ini bermanfaat!

Salam sayang,