Selamat siang, Sobat Bidan!

mual muntah pada ibu hamil

Mual muntah (morning sikcness) pada kehamilan muda memang hal atau keluhan yang umum terjadi, ya. Ada beberapa ibu hamil yang mengalami mual muntah ini selama beberapa bulan pertama saja, ada yang lebih lama, ada juga yang tidak mengalami mual muntah sama sekali. Nah, sebenarnya mual muntah yang masih dalam kategori normal bagi ibu hamil itu yang bagaimana, sih? Kita akan membahasnya bersama di postingan kali ini. Simak sampai selesai, ya!

Apa Penyebab Morning Sickness?

Sebenarnya, mual muntah atau morning sickness pada kehamilan muda adalah hal yang normal, selama tidak berlebihan. Menurut penelitian, sekitar 70% wanita mengalami mual muntah di kehamilan mudanya. 

Ini disebabkan karena meningkatnya kadar HCG (Human Chorionic Gonadotrophin). Hormon ini diproduksi oleh sel-sel yang membentuk plasenta atau ari-ari. Di usia kehamilan antara 12-14 minggu, hormon ini memang sedang tinggi-tingginya diproduksi, jadi wajar bila ibu hamil menjadi lebih sering mual. 

Namun, di usia kandungan menginjak 16-20 minggu, mual muntah perlahan akan berkurang, atau bahkan hilang sama sekali bagi sebagian ibu hamil. Ini tentu berbeda pada setiap ibu hamil, namun bukan berarti ibu yang tidak mual muntah sama sekali misalnya, mengalami kehamilan yang tidak normal. Semuanya normal jika masih dalam batas dan tidak berlebihan.

Mual Muntah yang Masih Wajar, Bagaimana?

Kadar hormon HCG yang ada di dalam tubuh ibu hamil menandakan bahwa kehamilan berjalan dan berkembang baik. Seiring menuanya usia kehamilan, hormon ini akan mengalami penurunan bersama dengan meningkatnya kadar hormon yang lain (estrogen-progesteron). 

Saat mual muntah ini tidak berlebihan (tidak sampai lebih dari 10 kali per hari), tidak membuat ibu dehidrasi atau pingsan misalnya, ini masih termasuk kategori wajar. Seringnya, penyebab ibu hamil mual muntah adalah indera penciuman yang jadi lebih sensitif, seperti saat mencium wewangian atau makanan tertentu yang beraroma tajam. Mual saat hamil juga tidak ada hubungannya dengan masuk angin, telat makan, atau pola makan tidak teratur.


Yang Tidak Normal, yang Bagaimana?

Mual muntah yang tidak normal dan bisa menjadi gejala hiperemesis gravidarum adalah mual muntah yang berlebihan, membuat ibu sama sekali tidak mau makan dan minum, bahkan bisa sampai pingsan. Hiperemesis gravidarum ini terjadi karena kadar HCG yang terlalu tinggi dalam tubuh ibu hamil. 

Ibu bisa mengalami mual dalam waktu yang lama dan muntah sampai berkali-kali setiap hari. Gejala ini bisa menyebabkan ibu dehidrasi, terjadi gangguan metabolisme, serta penurunan berat badan dengan cepat. Jika mengalami hiperemesis gravidarum, maka ibu harus ditangani oleh dokter.

Bagaimana Cara Mengurangi Mual Muntah?

mual muntah
Tips kurangi morning sickness
Ada beberapa cara atau tips sederhana yang bisa dicoba untuk mengurangi morning sickness ini, di antaranya ;
  • Sediakan craker di dekat tempat tidur, makanlah langsung setelah bangun tidur
  • Minum air putih hangat setelah bangun tidur
  • Bangun dari tempat tidur dengan pelan-pelan
  • Jangan biarkan perut kosong
  • Makanlah camilan ringan sepanjang hari
  • Makan sedikit-sedikit tapi sering
  • Perbanyak minum air putih atau cairan lain
  • Minum tablet tambah darah di malam hari

Nah, itu dia Sobat Bidan, seputar morning sickness atau mual muntah yang masih dalam batas normal. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Pic by: Pexels.com
Selamat siang, Sobat Bidan!

pantyliner adalah


Adakah di antara Sobat Bidan yang sering memakai pantyliner di luar saat menstruasi? Sebenarnya, pemakaian pantyliner terlalu sering itu dianjurkan tidak, sih? Nah, postingan kali ini akan membahas tentang pantyliner dan serba-serbinya. Simak sampai selesai, ya!

Beda Pembalut dan Pantyliner?

Sekilas, pembalut dan pantyliner tampaknya sama ya, Sobat Bidan. Tentu yang membedakan hanya ukuran, daya serap, dan ketebalannya saja. Keduanya pun berbahan dasar sama yaitu kapas asli atau sintetis. Karena pembalut mempunyai daya serap yang lebih tinggi serta lebih tebal, pembalut cocok sekali dipakai pada saat kita mengalami hari-hari awal menstruasi, saat darah sedang banyak-banyaknya. 

Sedangkan pantyliner, karena bentuknya yang tipis dan kecil, serta daya serapnya lebih rendah dari pembalut, sering digunakan pada hari-hari terakhir menstruasi. Ada juga yang memakai pantyliner di fase menjelang menstruasi karena keluar cairan banyak dari miss-V mau pun flek-flek kecoklatan.

Kenapa Pakai Pantyliner?

Sejumlah penelitian menyatakan bahwa ada beberapa hal yang menjadi alasan bagi seorang perempuan hingga ia memakai pantyliner terlalu sering. Berikut di antaranya :

  • Jumlah cairan di miss-V yang berlebihan. Cairan ini akan menjadikan area miss-V lembap jika dibiarkan. Karenanya, banyak perempuan yang menggunakan pantyliner untuk menyerap cairan miss-V ini supaya tidak lembap
  • Spotting. Bercak darah yang sering keluar di luar menstruasi dinamakan spotting. Tentu supaya tidak bocor dan meninggalkan noda, perempuan butuh pantyliner saat sedang terjadi flek tersebut
  • Inkontinensia urine, atau keluarnya pipis tanpa bisa ditahan. Ini merupakan suatu penyakit yang kadang dialami perempuan. Tentu daripada memakai pembalut atau popok dewasa, memakai pantyliner jelas lebih nyaman
Apa Risiko yang Dapat Terjadi?

Ada beberapa risiko yang dapat terjadi jika memakai pantyliner setiap hari atau terlalu sering, di antaranya :
  • Iritasi. Bagian sekitar miss-V bisa saja terjadi iritasi karena bergesekan dengan pantyliner. Hal ini disebabkan bahan pantyliner tidak sepenuhnya lembut. Selain itu, ada juga pantyliner yang dicampur bahan kimia seperti pemutih dan pewangi, hingga pada kulit yang sensitif tentu akan menyebabkan iritasi
  • Infeksi di miss-V. Miss-V yang sehat adalah yang mendapat sirkulasi udara cukup dan tidak lembap. Memakai pantyliner dapat meningkatkan kelembapan karena plastik yang direkatkan ke celana dalam akan mengurangi sirkulasi udara. Ini bisa membuat area sekitar miss-V berkeringat. Miss-V yang lembap akan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang bisa menyebabkan infeksi
Bagaimana Tips Memakai Pantyliner?

pantyliner
Tips memakai pantyliner
Jika memang harus memakai pantyliner dengan sering bahkan setiap hari, berikut tips yang dapat dicoba :
  • Konsultasikan lebih dulu ke dokter agar jelas diagnosa keluhan yang mengharuskan memakai pantyliner (misal keputihan atau flek)
  • Pilih pantyliner yang tidak mengandung pemutih dan pewangi, baca tipsnya di sini
  • Ganti pantyliner setiap 4 jam sekali agar tidak penuh bakteri dan lembap
  • Gunakan celana dalam berbahan katun yang lembut dan adem
  • Beri miss-V udara yang leluasa, misal saat tidur tidak usah memakai pantyliner dan celana dalam supaya miss-V tetap bisa bernapas
  • Jika memang sangat perlu dan dianjurkan dokter, pakai pembersih kewanitaan yang mengandung povidon-iodine untuk mencegah pertumbuhan bakteri di sekitar miss-V
Nah, itu dia Sobat Bidan, hal-hal terkait tentang pantyliner. Intinya, memakai pantyliner setiap hari atau terlalu sering tidaklah dianjurkan, justru kalau bisa sebaiknya dihindari. Namun, bila ada indikasi tertentu sesuai anjuran dokter, tidak ada salahnya juga untuk memakai pantyliner dengan tetap memperhatikan tips di atas, ya. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,


Pic by : Pexels.com

Selamat siang, Sobat Bidan!

mengatasi kembung pada bayi

Mempunyai bayi tentu memberi warna-warni tersendiri dalam kehidupan kita, ya. Banyak sekali hal-hal baru yang akan kita jumpai, kadang bahagia, cemas, bingung, dan sebagainya. Salah satu hal yang bisa membuat seorang ibu cemas adalah ketika si kecil kembung.

Aduh, kenapa ya, salah makankah? Masuk angin, atau yang lain? Nah, jangan panik dulu Sobat Bidan, postingan kali ini akan membahas tentang sebab dan cara menangani kembung pada bayi. Simak sampai selesai, ya!

Penyebab Kembung, Apa Saja?

Beberapa hal dapat menjadi penyebab si kecil mengalami kembung, di antaranya :

  • Kurang minum. Jika asupan ASI atau cairan si kecil kurang, maka ini bisa berakibat sembelit atau susah BAB. Nah, sembelit ini biasanya ditandai juga dengan keluhan sakit perut serta perut kembung. Maka dari itu, pastikan ASI yang ibu berikan cukup, ya. Jika bayi sudah diberi MPASI, tambahkan juga asupan air mineral dan makanan yang mengandung cairan.
  • Makanan berlemak atau tinggi serat. Ibu tidak boleh memberikan sembarang makanan pada si kecil. Beberapa bayi punya masalah pencernaan yang sangat sensitif dengan jenis makanan tertentu. Misalnya saja makanan berlemak seperti gorengan atau makanan berserat tinggi seperti sereal. Hal ini bisa memicu kembung pada perutnya.
  • Terlalu lama menangis. Menangis merupakan suatu hal yang wajar bagi si kecil. Namun, bila si kecil menangis terlalu lama, ini akan membuat perutnya kembung. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya udara yang masuk melalui mulut ke saluran pencernaannya.
  • Makan dan minum sambil bermain. Ini juga bisa memicu perut kembung pada si kecil. Alasannya, si kecil akan cenderung lebih cepat menelan makanan saat ia sedang bermain, sehingga udara yang ikut tertelan pun jadi lebih banyak. Selain membuat bayi mudah kembung, makan minum sambil bermain juga bisa meningkatkan risiko tersedak.
kembung
Makan sambil bermain picu kembung
  • Konsumsi brokoli, kol, dan kacang. Sebaiknya ibu mengombinasikan ketiga sayuran ini dengan makanan lain saat diberikan pada si kecil. Pasalnya, sayur-mayur tersebut bisa membuat perut bayi jadi kembung.
  • Intoleransi laktosa. Ini merupakan ketidakmampuan sistem pencernaan bayi untuk mencerna protein yang ada dalam susu sapi, dan dapat menyebabkan kembung. Segera bawa si kecil ke dokter jika penyebab kembungnya karena intoleransi laktosa, ya.

Bagaimana Cara Menanganinya?

Untuk menangani atau pun mencegah perut kembung pada si kecil, ibu harus memperhatikan hal-hal berikut ini :

  • Suapi atau susui si kecil saat ia sedang tenang untuk meminimalisir udara yang ikut masuk ke lambungnya
  • Pijat perut bayi atau urut punggungnya dengan minyak telon secara lembut, bisa membantu mengeluarkan angin penyebab kembung
  • Sendawakan bayi setelah disuapi atau disusui dengan cara menepuk-nepuk punggungnya. Ini juga akan membuat si kecil tidak gumoh
  • Miringkan botol susu saat menyusui agar tidak ada udara di dekat tutup botol yang ikut masuk ke saluran pencernaan
  • Gunakan botol yang bisa mencegah masuknya gelembung udara
  • Tegakkan tubuh si kecil saat ia menyusu atau makan. Jika sambil berbaring, pastikan posisi kepalanya lebih tinggi dari perut
Meski pada umumnya kembung pada si kecil tidak berbahaya, namun ibu tetap perlu waspada. Jika sudah dilakukan cara-cara tersebut kembungnya tidak berkurang, segera bawa ke dokter. Apalagi jika kembung tersebut muncul bersama gejala lain seperti demam, diare, atau muntah.

Nah, itu dia beberapa penyebab kembung pada bayi dan cara menanganinya. Jadi, jangan panik berlebihan dulu ya, Sobat Bidan. Semoga postingan ini bermanfaat!


Salam sayang,


Pic by : Pexels.com
Selamat siang, Sobat Bidan!

kontraksi rahim setelah bersalin

Ada yang baru saja melahirkan atau punya pengalaman serupa? Kenapa sih, perut kok masih berkontraksi dan nyeri rasanya, padahal sudah selesai proses melahirkan? Ada yang seperti itu? Jangan cemas ya, Sobat Bidan, kontraksi pasca melahirkan adalah hal yang normal. Yuk, simak ulasan berikut sampai selesai!

Kontraksi yang Masih Terasa

Dalam satu sampai dua hari pasca bersalin, Sobat Bidan kadang memang masih akan mengalami kontraksi sehingga perut terasa nyeri. Rasanya bisa jadi seperti nyeri menstruasi, atau bahkan lebih tajam dan sakit. Ini adalah hal alamiah dan normal, dan justru pertanda bagus bagi Sobat Bidan. 

Biasanya, rasa nyeri ini akan sedikit terjadi lebih ringan pada Sobat Bidan yang baru pertama kali melahirkan. Hal ini disebabkan karena otot-otot rahim masih kencang sehingga kontraksi berjalan stabil. Beda dengan Sobat Bidan yang sudah melahirkan anak kedua dan seterusnya. Jarak antara kontraksi rahim dan relaksasinya lebih pendek, jadi rasa sakit saat kontraksinya pun lebih terasa. 

Apa Penyebabnya?

Jika Sobat Bidan bertanya-tanya apa yang menyebabkan kontraksi ini masih terasa, maka jawabannya adalah karena proses involusi uterus yang sedang berlangsung. Involusi uterus merupakan proses kembalinya ukuran dan bentuk rahim ke ukurannya semula sebelum hamil. Proses ini memerlukan dorongan otot-otot rahim, sama seperti saat mengeluarkan janin. Jadilah rahim berkontraksi untuk mendukung proses penyusutan ini. Involusi uterus membutuhkan waktu 6-8 minggu sampai rahim benar-benar kembali ke ukuran semula.

Ditambah proses menyusui yang mengeluarkan hormon oksitosin, maka wajar jika kontraksi semakin terasa. Hormon oksitosin juga mampu membantu berjalannya kontraksi. Perlu Sobat Bidan tahu, kontraksi ini pertanda bagus karena berarti tidak ada sesuatu yang tertinggal di rahim. Jika setelah melahirkan rahim malah terasa lembek dan tidak ada kontraksi, hal tersebut justru dapat memicu perdarahan. Dicurigai karena masih ada sisa persalinan yang tertinggal misalnya sisa plasenta, sehingga mengganggu kontraksi dan proses involusi uterus.

Bagaimana Cara Mengurangi Nyeri?

Meski tidak bisa dicegah, Sobat Bidan bisa melakukan beberapa hal ini untuk mengurangi nyeri akibat kontraksi tersebut.

  • Tidur tengkurap dan ganjal perut dengan bantal. Banyak yang mengatakan bahwa cara ini ampuh mengurangi nyeri. Tapi, untuk Sobat Bidan yang melahirkan secara sesar, jangan sesekali melakukan hal ini jika jahitannya masih belum kering benar, ya
  • Jangan sampai menunda pipis. Kandung kemih yang penuh dapat menekan rahim sehingga memicunya untuk berkontraksi. Karena itu, tak apa jika Sobat Bidan BAK meski tidak terasa ingin pipis sekalipun
kontraksi setelah bersalin
Kompres perut dengan air hangat
  • Kompres atau berendam air hangat. Cara ini bisa membuat Sobat Bidan merasa lebih rileks dan santai
  • Pijit dengan lembut, jangan terlalu keras. Cukup dengan mengelus perut dengan lembut saat nyeri sedang datang menghampiri
  • Konsumsi ibuprofen atau obat pereda nyeri lainnya jika diizinkan oleh dokter
Nah, itu dia ulasan tentang kontraksi pasca melahirkan yang kadang membuat Sobat Bidan khawatir. Sudah paham ya, sekarang? Jadi, tidak perlu cemas lagi karena kontraksi pasca bersalin justru suatu kemajuan yang bagus. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang.