Selamat siang, Sobat Bidan!

Makan pedas saat menyusui, bolehkah?
Di bahasan nifas kali ini, yuk, kita bahas satu rumor yang menyatakan bahwa makan pedas saat menyusui itu dilarang. Alasannya macam-macam, katanya bayi bisa ikut diare jika ibu makan makanan pedas. Benarkah demikian? Itu mitos atau fakta? Simak ulasan berikut sampai habis, ya!

Rupanya, itu hanya mitos

Dr. Paula Meier Ph.D menyebutkan bahwa sebenarnya tidak ada pantangan makan bagi ibu menyusui termasuk makanan pedas sekalipun. Jelas, ini hanyalah mitos yang beredar di masyarakat karena tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan kebenarannya. 

Payudara ibu sudah mempunyai penyaring nutrisi yang nantinya akan diproduksi menjadi ASI dan disimpan sebagai nutrisi atau sumber tenaga ibu. Proses produksi dari makanan menjadi ASI ini pun berlangsung cukup lama, antara 4-6 jam setelah makan. Ibu hanya perlu menghindari makanan yang jelas memberi efek buruk bagi tubuh seperti alkohol. 

Apa rasa ASI akan berubah?

Pada dasarnya, rasa dari ASI tidak akan dengan mudahnya berubah meski ibu makan makanan dengan beraneka ragam rasa seperti pedas, manis, asam, mau pun asin. Bila pun terjadi perubahan rasa pada ASI setelah ibu mengkonsumsi makanan tertentu, pedas misalnya, itu akan menjadi pengalaman baru bagi bayi untuk mencecap aneka ragam rasa makanan. Akan tetapi, rasa ASI-nya pun tetap akan lebih dominan dari rasa yang lain, jadi ibu tidak perlu khawatir.

Ada keuntungannya, lho!

Mungkin belum banyak ibu yang tahu bahwa mengkonsumsi makanan pedas saat menyusui juga memiliki keuntungan bagi si kecil. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa bayi yang menyusu dari ibu yang makan beraneka ragam makanan seperti manis, pedas, asin, dan sebagainya, kelak tidak akan pilah-pilih makanan saat dia mulai makan. 

Hal ini terjadi karena sejak menyusui si kecil biasa mencecap beraneka rasa tersebut, jadi lidahnya akan mudah menyesuaikan saat dia mulai makan makanan padat. Karena inilah, bayi ASI biasanya lebih doyan makan daripada bayi yang hanya disusui dengan sufor yang punya rasa sama.

Amati efeknya

Meskipun tidak dilarang, namun tentunya ibu tidak boleh berlebihan saat makan makanan pedas di masa menyusui ini. Bisa jadi makanan pedas tersebut akan mengganggu pencernaan ibu sendiri, seperti diare. 

Begitu pula, perhatikan reaksi pada bayi setelah minum ASI saat ibu makan makanan pedas. Ada kemungkinan bayi akan jadi rewel, tidur lebih sebentar, tampak tidak nyaman, diare, dan timbul reaksi pada kulit. Jika timbul gejala demikian, berarti si kecil termasuk sensitif dengan rasa pedas yang dikonsumsi ibu. Namun, perlu juga diperhatikan faktor lainnya, karena bisa saja bayi mengalami hal tersebut bukan karena rasa pedasnya.



Nah, itu dia Sobat Bidan, penjelasan seputar konsumsi makanan pedas pada masa menyusui. Intinya, ibu tidak dilarang makan makanan pedas saat menyusui asal jangan berlebihan dan si kecil tidak menunjukkan gejala sensitifnya terhadap rasa pedas. Semoga postingan ini bermanfaat, ya!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com
Selamat siang, Sobat Bidan!

Tanda-tanda persalinan
Adakah yang masih menunggu detik-detik hari perkiraan lahir si bayi? Sudah menyiapkan berbagai keperluan yang diperlukan belum? Jangan ragu untuk segera mengemasi perlengkapan bayi dan ibu dalam sebuah tas, ya. Agar jika tiba saatnya bersalin, sudah tidak perlu repot lagi.


Adakah Sobat Bidan yang masih awam mengenai tanda-tanda persalinan? Bagi Sobat Bidan yang baru pertama kali hamil, mungkin masih bingung tentang bagaimana tanda menjelang persalinan. Baiklah, simak ulasan berikut sampai habis, ya!


1. Bayi terasa turun

Sudah pernah merasakan sensasi ini? Di mana kepala bayi seolah memenuhi rongga panggul hingga membuat kandung kemih terdesak sehingga sering bolak-balik kamar mandi. Jika ibu sudah merasakannya, maka bersiaplah, sebentar lagi persalinan akan menjelang. Empat minggu sebelum bersalin atau pada umur kehamilan 36 minggu biasanya bayi di dalam perut sudah mapan seperti ini. 

Namun begitu, pada ibu primigravida atau yang baru pertama kali hamil, penurunan kepala bisa terjadi di detik-detik menjelang persalinan atau justru pada saat persalinan itu berlangsung. Sedangkan normalnya, penurunan kepala pada primigravida terjadi sebelum umur kehamilan 38 minggu.

2. Nyeri punggung dan kram perut yang hebat

Jika Sobat Bidan mulai merasakan nyeri di sekitar punggung bagian bawah dan paha yang menjalar semakin hebat, segera bersiaplah, sebentar lagi akan memasuki proses persalinan. Selain itu, Sobat Bidan juga akan merasakan tekanan di area panggul sampai dubur yang teratur. Itu menandakan bahwa otot dan sendi tubuh sedang bergeser untuk persiapan proses persalinan.

3. Cairan keputihan berwarna kemerahan dan lebih kental 

Tanda-tanda menjelang persalinan yang berikutnya adalah bloody show. Bloody show artinya keluarnya bercak-bercak kemerahan menyerupai darah yang kental dari jalan lahir. Cairan ini merupakan cairan yang tersumbat oleh leher rahim. Karena mendekati persalinan leher rahim akan semakin melonggar, maka keluarlah cairan yang tersumbat ini. Jika sudah muncul bloody show, saatnya Sobat Bidan berangkat ke tempat bersalin yang sudah direncanakan.

Pakai pembalut 
4. Kontraksi yang kuat dan teratur

Beda dengan kontraksi Braxton His atau kontraksi tipuan yang jarang-jarang, saat menjelang persalinan Sobat Bidan akan merasakan kontraksi yang teratur. Kontraksi tersebut misalnya dimulai dari satu kali setiap lima menit sekali dengan durasi 40 detik, begitu terus hingga terjadi semakin sering. 

Kontraksi terjadi sebagai upaya penurunan kepala bayi dan untuk mendorong adanya pembukaan pada leher rahim untuk proses persalinan. Tubuh Sobat Bidan bisa jadi menggigil meski tidak kedinginan. Tapi jangan khawatir, itu merupakan salah satu mekanisme tubuh yang normal untuk mengurangi rasa sakit selama kontraksi. Redakan dengan pijat atau berendam di air hangat.

5. Pecahnya air ketuban

Jika di kehamilan tua Sobat Bidan sering merasakan rembes-rembes di celana dalam, itu merupakan air ketuban yang keluar sedikit-sedikit. Hal ini yang menyebabkan wanita saat kehamilan tua bisa mengalami penurunan berat badan, karena keluarnya cairan ketuban tersebut. Sebagian besar wanita akan mengalami hal ini, dan hanya 15-20 persen saja yang air ketubannya pecah secara langsung.

Namun, bila Sobat Bidan mengalami pecah air ketuban dalam satu waktu sehingga membuat basah kuyup di umur kehamilan yang sudah mendekati HPL, maka segeralah pergi ke tempat bersalin. Ini merupakan tanda pasti persalinan yang harus ditangani sesegera mungkin. Tapi, bila air ketuban itu pecah jauh sebelum waktu persalinan, ini merupakan salah satu tanda bahaya yang akan kita bahas nanti di postingan selanjutnya.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa tanda-tanda persalinan yang mesti diketahui. Segera berangkat ke faskes terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan jika Sobat Bidan sudah mengalami tanda-tanda di atas. Semoga postingan ini bermanfaat!

Semoga persalinannya lancar!
Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels
Selamat siang, Sobat Bidan!

Seputar solusio plasenta
Salah satu tanda bahaya pada kehamilan khususnya di kehamilan tua adalah solusio plasenta. Ada yang sudah pernah mendengar atau sudah mengetahui istilah ini? Jika belum, yuk, simak ulasan berikut sampai selesai!

Apa itu solusio plasenta?

Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta (ari-ari) dari tempat implantasi normalnya, sebelum waktunya. Umumnya, plasenta akan lepas dalam kala tiga persalinan atau setelah lahirnya bayi. Namun, pada kasus solusio plasenta, plasenta akan lepas bahkan saat ibu masih mengandung atau belum ada tanda-tanda akan bersalin.

Bagaimana gejalanya?

Ada beberapa tanda gejala apabila seorang ibu mengalami solusio plasenta. Gejala tersebut dibagi menjadi tiga tingkatan berdasarkan ringan dan beratnya rasa sakit yang dialami ibu, yaitu : 

  • Kelas 0. Solusio plasenta kelas 0 ditandai dengan plasenta yang penyok pada saat persalinan, serta adanya gumpalan darah. Pada kasus ini, ibu tidak akan mengalami gejala yang berarti.
  • Kelas 1 atau solusio plasenta ringan, ditandai dengan adanya perdarahan ringan atau bisa juga tidak. Nyeri rahim yang ringan, tekanan darah dan denyut ibu normal, tidak ada gawat janin, dan tidak ada perubahan koagulasi darah.
  • Kelas 2 atau solusio plasenta sedang. Kasus ini ditandai dengan ada atau tidaknya perdarahan ringan. Nyeri perut sedang sampai berat dengan kontraksi yang tetanik.  Peningkatan denyut jantung dan tekanan darah ibu dipengaruhi posisinya (duduk atau berbaring, dll) serta terjadi gawat janin.
  • Kelas 3 atau solusio plasenta berat. Ditandai dengan ada atau tidaknya perdarahan berat dari jalan lahir. Terjadi kejang atau nyeri rahim yang sangat kuat, ibu bisa langsung syok, terjadi koagulopati dan kematian janin.
  • Berbeda dengan plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir) yang darahnya berwarna merah segar, darah yang keluar dari solusio plasenta ini cenderung pekat dan kehitaman.
  • Perut mengejang dan keras seperti papan.
  • Jika tidak ada darah yang keluar dari jalan lahir, itu justru lebih berbahaya karena bisa jadi terjadi perdarahan di dalam dan tertahan oleh plasenta.
Apa penyebab dan faktor risiko kasus ini?

Berikut beberapa faktor risiko seorang ibu bisa mengalami solusio plasenta, di antaranya :
  • Trauma, seperti apabila ibu jatuh dengan hentakan yang keras
  • Ibu hamil dengan hipertensi
  • Ibu hamil yang merokok atau mengkonsumsi alkohol
  • Ibu hamil yang memakai kokain atau narkoba
  • Ibu hamil dengan tingkat sosio-ekonomi rendah sehingga tidak tercukupi kebutuhan nutrisinya
  • Tali pusat pendek
  • Pernah mengalami solusio plasenta sebelumnya
  • Usia terlalu tua atau terlalu muda
  • Ibu hamil yang mengalami ketuban pecah dini
Diagnosis dan penanganan

Untuk menegakkan diagnosa solusio plasenta, dibutuhkan pemeriksaan fisik mau pun USG oleh dokter kandungan. Sedangkan ibu hamil yang mengalami solusio plasenta diharuskan secepat mungkin untuk dibawa ke faskes terdekat untuk dilakukan penanganan.

Biasanya akan dilakukan rawat inap, penambahan cairan dan persiapan untuk transfusi darah. Jika disebabkan karena koagulasi, dokter akan menyiapkan koagulan dan obat-obatan. Bila kehamilan kurang dari 37 minggu, kemungkinan ibu akan diberi kortikosteroid untuk pematangan paru bayi. Bila keadaannya memungkinkan, persalinan normal mungkin bisa dilakukan, namun jika kondisinya gawat maka akan segera dilakukan operasi caesar.

Bagaimana pencegahannya?

Pencegahan solusio plasenta tentunya adalah dengan menghindari faktor risiko yang bisa menyebabkan hal ini terjadi. Khususnya untuk wanita yang merokok atau mengkonsumsi kokain, untuk dilakukan rehabilitasi supaya tidak terjadi solusio plasenta pada kehamilannya.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal tentang solusio plasenta yang mesti Sobat Bidan tahu. Semoga postingan ini bermanfaat, ya!

Sayangi kehamilan Anda
Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com

Selamat siang, Sobat Bidan!

Berhubungan intim saat haid?

Dalam agama Islam, berhubungan badan saat istri sedang haid hukumnya haram. Namun, bagi sebagian orang, melakukan hubungan seksual pada saat haid justru menimbulkan orgasme yang lebih nikmat dibanding saat tidak haid. Benarkah begitu?

Ini dia persoalan berhubungan badan saat haid jika dilihat dari kacamata kesehatan. Simak sampai habis ya, Sobat Bidan!

Apa saja bahayanya?

Berhubungan intim saat haid bisa memicu risiko berbahaya yang cukup serius, berikut di antaranya :

  • Saat haid, kondisi leher rahim akan terbuka. Hal ini bisa menyebabkan darah dengan mudah masuk ke dalamnya. Akibatnya, bakteri yang ada di dalam darah haid tadi juga akan dengan mudah masuk ke rongga panggul. Hal ini dapat memicu terjadinya penyakit menular seksual lebih tinggi dibanding saat melakukan hubungan di luar haid
  • Gejala infeksi jamur vagina yang biasa terjadi satu minggu sebelum haid, akan bertambah parah keadaannya jika saat haid berhubungan seksual. Jadi, pH vagina seorang perempuan adalah antara 3,8 hingga 4,5. Namun, saat haid pH tersebut akan naik dan menyebabkan jamur atau ragi tumbuh lebih cepat dan pesat. Karena inilah Sobat Bidan dianjurkan untuk benar-benar menjaga kebersihan daerah genital selama haid
  • Banyaknya cairan dan darah yang keluar akan mempermudah risiko penularan HIV dan hepatitis (jika seorang perempuan menderita penyakit itu), pada pasangannya
Bakteri akan mudah masuk
  • Risiko hamil dapat terjadi meskipun kecil. Namun, bukan tidak mungkin berhubungan saat haid akan mengalami pembuahan dan menjadi janin jika tidak memakai pengaman seperti kondom. Risiko hamil ini biasanya terjadi pada perempuan dengan siklus haid yang pendek, kurang dari 25 -32 hari. Bila dia berhubungan di hari terakhir haid misalnya, maka sperma masih akan hidup selama 3-5 hari setelahnya dan bisa langsung mengalami ovulasi. Di sinilah akan terjadi kehamilan
Apa saja manfaat berhubungan seks saat haid?

Di antara beberapa bahaya di atas, ternyata berhubungan seksual saat haid juga ada manfaatnya, seperti berikut :
  • Mengurangi nyeri dan kram perut. Saat orgasme, tubuh akan mengeluarkan hormon endorfin yang menimbulkan sensasi rileks. Hal ini dapat membantu meredakan nyeri atau keluhan lain yang dialami selama haid
  • Memberi kenikmatan dan kepuasan yang lebih. Ini bisa terjadi khususnya pada perempuan, karena kenaikan hormon seks pada saat haid bisa membuat perempuan lebih bergairah
Tentang rumor bahwa berhubungan saat haid akan menyebabkan kecacatan pada janin, itu belum ditemukan bukti ilmiahnya. Namun, penting untuk tetap memantau kondisi janin melalui USG dan pemeriksaan rutin. 

Demikian tentang bahaya dan manfaat berhubungan seksual saat haid. Jika dilihat, lebih banyak bahaya dibanding manfaatnya ya, Sobat Bidan, jadi alangkah baiknya memang untuk tidak berhubungan intim dulu jika sedang dalam masa haid. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com