Waktu menstruasi setelah melahirkan pada setiap wanita berbeda-beda. Yang normal, yang bagaimana, ya?

menstruasi setelah melahirkan

Selamat siang, Sobat Bidan!

Ada yang baru melahirkan dan merasa cemas karena belum menstruasi lagi? Sebenarnya kapan sih, waktu yang tepat kembali menstruasi setelah bersalin? Tenang, hal ini ada penjelasan ilmiahnya, kok. Simak postingan ini sampai selesai ya, Sobat Bidan!

Kapan waktu yang normal?

Waktu yang normal bagi seorang ibu untuk mendapat menstruasi kembali pasca bersalin ini berbeda-beda. Tak hanya antar wanita, kadang seorang wanita mengalami waktu berbeda mendapatkan kembali menstruasinya pada setiap persalinannya.

Hal ini berkaitan erat dengan apakah ibu tersebut menyusui bayinya atau tidak. Ibu yang menyusui si kecil selama 6 bulan penuh secara eksklusif, bisa jadi akan mendapat menstruasi kembali dalam kurun waktu yang lebih lama. 

Ibu belum akan mendapat menstruasi bisa sampai 6 bulan, bahkan lebih. Apa lagi apabila si kecil menyusu dengan adekuat, pagi, siang, malam. Kemungkinan ibu mendapat menstruasi bisa lebih lama lagi.

Berbeda halnya dengan ibu yang memberi si kecil sufor atau kombinasi sufor dan ASI. Ibu cenderung akan lebih cepat mendapat menstruasinya kembali. Rata-rata, ibu yang tidak menyusui bayinya akan kembali menstruasi dalam waktu 45 hari setelah melahirkan atau antara 3 - 10 minggu. 

Jadi, memang tidak ada waktu pasti kapan seorang ibu akan mendapat menstruasi kembali setelah melahirkan. Namun, jika ibu tidak menyusui bayinya tapi tak kunjung menstruasi juga sampai 3 atau 4 bulan lamanya, maka segeralah periksakan diri ke dokter. Mungkin saja ada kelainan yang lain.

Sedangkan ibu menyusui yang belum mendapat menstruasi bahkan sampai 6 bulan, tidak ada yang perlu dicemaskan. Itu adalah hal yang normal.


Apa penyebabnya?

Penyebab kenapa ibu menyusui lebih lambat mendapatkan menstruasinya kembali pasca bersalin adalah karena pengaruh hormon. Pada saat menyusui, hormon-hormon yang digunakan untuk ini seperti hormon prolaktin akan meningkat jumlahnya secara pesat.

Hormon prolaktin yang berlimpah ini kemudian akan menekan produksi hormon-hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron. Kedua hormon ini juga berperan penting dalam siklus menstruasi. Jika hormon reproduksi ditekan seminim mungkin, maka ibu tidak akan mengalami ovulasi. Karena tidak adanya ovulasi tersebut, maka ibu tidak mengalami menstruasi. 

Kemungkinan untuk hamil pun menjadi kecil karena tidak adanya ovulasi tadi. Itulah sebabnya kenapa menyusui disebut juga dengan MAL (Metode Amenorhea Laktasi), yang merupakan cara KB alami. 

Apa bisa hamil lagi?

Meski dikatakan sebagai kontrasepsi alami dan menekan kehamilan, namun banyak juga ibu menyusui yang tiba-tiba hamil lagi. Hal ini berkaitan dengan ovulasi pertama setelah persalinan. Meski belum mendapatkan menstruasi lagi, namun bukan berarti masa subur ibu belum kembali. Apa lagi jika ibu masih dalam usia yang produktif.

Maka dari itu, untuk mencari aman, segeralah menggunakan metode KB setelah ibu melahirkan. Meski belum menstruasi, tapi jika ibu dan suami berhubungan, bukan tidak mungkin ibu bisa hamil lagi. 

Metode kontrasepsi dengan menyusui tersebut juga berlaku hanya pada saat ibu menyusui secara eksklusif, dalam artian hanya dalam waktu 6 bulan saja. Akan lebih baik jika ibu tetap menggunakan KB meski belum 6 bulan menyusui untuk berjaga-jaga. Karena keberhasilan dari MAL tadi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti baby blues, ibu kelelahan, dan juga stres pada ibu.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal yang perlu diketahui tentang menstruasi pasca bersalin. Bagaimana, sudah tidak cemas lagi, ya? Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,


Jangan sepelekan pola BAB pada bayi baru lahir, begini yang benar.

bab pada bayi

Selamat siang, Sobat Bidan!

Punya bayi memang kebahagiaan tersendiri, ya. Ada banyak hal baru yang bisa Sobat Bidan pelajari sebagai ibu, tak terkecuali pola buang air besarnya. Pernahkah Sobat Bidan merasa cemas dengan jenis tekstur atau frekuensi BAB pada bayi?

Sebenarnya, BAB yang bagaimana sih, yang normal pada bayi? Simak postingan ini sampai selesai, ya!

Pengaruh ASI

Sebenarnya, buang air besar pada bayi sangat dipengaruhi oleh apa yang dia konsumsi. Apakah ibu memberinya ASI atau justru susu formula. Kedua asupan ini akan memberi efek buang air besar yang beda kepada bayi. 

Jika si kecil diberi ASI dan dia buang air besar kurang lebih lima kali dalam seharinya, hal ini justru bagus. Itu artinya bayi ibu terpenuhi kebutuhan cairan dan ASI-nya. Frekuensi itu pun bisa jadi akan berbeda setiap harinya, tergantung banyaknya ASI yang diminum bayi. 

Hal ini jelas akan berbeda lagi dengan bayi yang tidak diberi ASI, atau hanya diberi susu formula. Menurut sebuah penelitian, ASI sangat lebih mudah dicerna dibandingkan susu formula. Itu sebabnya, bayi yang diberi ASI jarang terkena masalah pencernaan. Jika kemudian frekuensi BAB-nya lebih sering pun ini termasuk hal yang lumrah dan tidak perlu dikhawatirkan selama masih dalam batas normal.

Tekstur Feses

Jika ibu mendapati pup si kecil bertekstur sangat halus atau kadang juga berair, tidak perlu khawatir. Itu bukan berarti si kecil mengalami diare. Hal tersebut lumrah apalagi bila si kecil diberi ASI. Si kecil yang diberi susu formula tekstur fesesnya akan cenderung lebih keras.

BAB yang Tidak Normal

Jika feses bayi berlendir, berbau, dan cair, inilah yang harus ibu waspadai. Ketiga tanda ini merupakan gejala diare pada bayi. Biasanya, bayi ASI jarang terkena hal ini, jika pun sampai terjadi, biasanya akan sembuh sendiri dan tidak lama. Sedangkan bayi sufor memang akan lebih berisiko mengalaminya.

Yang perlu diwaspadai juga adalah saat si kecil tidak BAB sampai satu minggu atau lebih, dan fesesnya lebih sering keras dan kering. Selain bisa karena kekurangan cairan, itu juga bisa jadi tanda bayi mengalami alergi.

Pada bayi ASI, alergi bisa terjadi saat ibu makan makanan tertentu. Pada bayi sufor, kemungkinan paling sering terjadi adalah bayi alergi pada jenis laktosa. Jika demikian, segera bawa bayi ke dokter atau bidan.

Nah, itu dia sekelumit tentang BAB yang normal pada bayi. Sudah tidak bingung dan cemas berlebihan lagi bukan, Sobat Bidan? Semoga artikel ini bermanfaat!

Salam sayang,


Ada beberapa penyakit yang menghambat ibu menjalani persalinan normal. 

persalinan normal adalah

Selamat siang, Sobat Bidan!

Melahirkan secara normal tentu menjadi impian semua wanita, ya. Namun, terkadang ada beberapa kendala yang menjadi penyebab seorang wanita tidak bisa bersalin secara normal. Apakah itu komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, dan faktor lainnya.


Namun, Sobat Bidan perlu tahu bahwa ada juga penyakit bawaan yang diderita ibu, yang menjadi penyebab ibu tidak bisa bersalin normal. Apa saja penyakit tersebut? Simak postingan ini sampai selesai, ya!


Ibu dengan Diabetes

Seorang ibu yang menderita diabetes baik yang terjadi sebelum atau selama hamil, boleh melahirkan secara normal. Namun, ada syaratnya. Di antara syarat itu antara lain apabila berat badan janin di dalam kandungan tidak lebih dari 4000 gram. Ibu dengan diabetes memang berisiko melahirkan bayi dengan berat badan berlebih. Jika dipaksa, maka akan terjadi distosia bahu (bahu janin tersangkut).

Syarat kedua adalah gula darah puasanya ada pada kadar 79 mg/dl, gula darah 1 jam setelah makan 122 mg/dl, dan gula darah 2 jam setelah makan 110 mg/dl. Jika pada saat pemeriksaan didapat gula darah yang lebih dari itu, maka ibu dianjurkan untuk melahirkan dengan cara sesar atau induksi. 

Karena, gula darah yang tinggi bisa berbahaya bagi janin mau pun ibu jika dipaksa melahirkan secara normal.

Ibu dengan Hipertensi

Berikutnya adalah ibu yang menderita hipertensi baik dari sebelum atau hipertensi karena kehamilan. Seorang ibu hamil dikatakan hipertensi apabila tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg. Hipertensi sendiri dibagi menjadi beberapa macam yaitu hipertensi kronik, pre-eklampsia, dan eklampsia.

Ibu dengan hipertensi sebenarnya masih bisa melahirkan secara normal, namun harus melalui pemeriksaan yang menyeluruh lebih dulu dari dokter. Jika dalam pemeriksaan dan pemantauan tekanan darahnya tidak juga turun, maka ibu dianjurkan untuk segera mengakhiri kehamilannya dengan sesar.

Hal ini dikarenakan, pada saat mengejan dalam persalinan normal, tekanan darah ibu bisa terpacu untuk semakin meningkat. Tentu jika terjadi, ini akan sangat membahayakan ibu dan janinnya. Akan terjadi komplikasi persalinan yang fatal.

Ibu dengan Asma

Ibu yang menderita asma juga tidak dianjurkan untuk melahirkan secara normal. Ini disebabkan dalam prosesnya, persalinan normal akan butuh banyak energi dan pernapasan yang lancar. Sedangkan asma merupakan penyakit yang bisa kambuh kapan saja. Tentu ini akan berbahaya bagi ibu juga janinnya.

Meski begitu, ibu dengan asma yang cenderung ringan, bisa melahirkan secara normal setelah melalui pemeriksaan lengkap dari dokter.

Ibu dengan Ambeien

Ambeien memang tidak akan menimbulkan kegawatan bagi ibu mau pun janin. Ibu pun masih bisa melahirkan secara normal meski menderita ambeien. Namun, yang ditakutkan jika ambeien bertambah parah pada saat proses mengejan. Hal ini tentu akan menambah sakit dan memberi ketidaknyamanan pada ibu. Karenanya, ibu dengan ambeien dianjurkan untuk melahirkan dengan cara sesar.


Ibu dengan Mata Minus

Ya, ibu dengan mata minus lebih dari 6 dioptri tidak dianjurkan melahirkan secara normal. Jika minusnya masih kurang dari itu, tentu boleh, tapi dengan catatan kondisi retinanya tidak lemah. Akan menjadi masalah baru ketika ibu dengan kondisi retina lemah (meski dioptri minus sedikit) jika dipaksa melahirkan normal.

Proses mengejan saat bersalin normal berisiko sekali merusak retina mata, apalagi jika kondisinya sudah lemah. Jadi, alangkah baiknya jika ibu melahirkan dengan operasi saja demi kebaikannya sendiri.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa penyakit yang bisa menjadi penghalang bagi Sobat Bidan untuk melahirkan normal. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan, ya.

Salam sayang,


Adakah efek minum kopi bagi ibu hamil?

minum kopi bagi ibu hamil

Selamat siang, Sobat Bidan!

Ada rumor yang mengatakan bahwa minum kopi tidak aman untuk ibu hamil karena mengandung kafein. Wah, bagi Sobat Bidan yang suka ngopi pasti ini akan terasa berat, ya. Namun, sebenarnya ngopi masih boleh dilakukan seorang ibu hamil, pastinya dengan takaran tertentu.Yang perlu diperhatikan di sini adalah konsumsi kafeinnya. 

Jadi, ini tidak cuma berlaku pada kopi melainkan juga pada makanan atau minuman lain yang mengandung kafein. Makanan atau minuman ini contohnya cokelat, teh, juga minuman ringan lainnya. Pada obat flu dan minuman pembangkit energi pun biasanya ada kandungan kafeinnya. Maka dari itu, ibu hamil memang harus selalu teliti sebelum mengkonsumsi sesuatu.

Lalu, berapa peraturan konsumsi kafein khususnya dalam kopi yang dibolehkan bagi ibu hamil? Simak postingan ini sampai selesai, ya, Sobat Bidan!

Apa Sih, Risiko Kafein Untuk Janin dan Ibu?

Bicara soal bahaya, tentu ada risiko yang akan dialami bila dilanggar, ya. Nah, risiko konsumsi kafein bagi janin dan ibu sendiri sebenarnya apa, sih? Jika dilihat secara umum, biasanya seseorang yang mengkonsumsi kafein khususnya kopi dalam kadar yang berlebihan, dapat mengalami gejala seperti :
  • Cemas
  • Kecanduan
  • Tremor
  • Jantung berdetak lebih cepat
  • Insomnia
  • Migrain
  • Tekanan darah naik
  • Sering pipis
Untuk ibu dan janin sendiri, konsumsi kafein berlebih dapat menyebabkan beberapa hal seperti berikut :
  • Ibu mengalami refluks asam lambung
  • Anemia
  • Keguguran
  • Bayi lahir dengan berat badan rendah
  • Bayi lahir prematur
Ini disebabkan karena kafein yang ada di dalam suatu makanan atau minuman tertentu bisa menembus plasenta yang akhirnya akan memberi dampak tersebut pada janin.

Berapa Kadar yang Dibolehkan?

Jika ibu hamil sama sekali tidak bisa meninggalkan kopi karena sudah menjadi bagian dari gaya hidup misalnya, maka perhatikan takarannya. Kafein yang boleh masuk ke dalam tubuh ibu hamil maksimal adalah 200 mg. Ini biasanya setara dengan dua cangkir kopi. Karenanya, sebelum mengkonsumsi makanan tertentu, lihat dulu pada label kemasan. Berapa kandungan kafein yang ada dalam makanan atau minuman tersebut.

Ganti dengan minuman yang lebih sehat
Berikut patokan takaran yang bisa ibu hamil terapkan saat mengkonsumsi makanan minuman berkafein.
  • 140 mg kafein untuk secangkir kopi saring
  • 60-200 mg kafein untuk secangkir kopi seduh
  • 100 mg kafein untuk secangkir kopi instan
  • 75 mg kafein untuk satu gelas teh
  • 40 mg kafein untuk sebotol soda
  • 25-50 mg kafein untuk sebatang cokelat
Jika sebelum hamil ibu biasa minum lebih dari 2 gelas kopi seharinya, maka mulailah mengurangi kopi sejak awal kehamilan. Ganti kebiasaan tersebut dengan minum minuman lain yang lebih sehat seperti jus sayur, jus buah, atau infused water. Jika perlu, konsultasilah dengan dokter atau bidan yang memeriksa kehamilan ibu.

Nah, itu dia Sobat Bidan, seputar konsumsi kopi dan kafein bagi ibu hamil. Bagaimana, sudah tidak bingung lagi, bukan? Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,



Ciri-ciri kanker payudara ini harus perempuan waspadai.

kanker payudara adalah

Selamat siang, Sobat Bidan!

Kanker payudara masih jadi momok menakutkan bagi para perempuan di seluruh dunia, ya. Nah, setelah di postingan sebelumnya kita sudah membahas benjolan yang bukan kanker, sekarang kita akan bahas ciri-ciri kanker payudara.

Simak ulasan berikut sampai selesai, ya!

Stadium Kanker Payudara

Ca mammae atau kanker payudara ini sendiri dibagi menjadi 4 stadium dengan ciri-cirinya masing-masing, yaitu :

Stadium 0

Pada tahap ini, kanker sudah ada dan berkembang, tapi hanya masih di jaringan payudara saja dan belum menyebar ke mana-mana.

Stadium 1

Pada tahap ini, sel kanker sudah mulai membesar, namun tidak lebih dari 5 cm. Sel kankernya juga belum menyebar ke jaringan lainnya, hanya membesar di daerah payudara saja. Ini merupakan pertumbuhan sel kanker tahap awal.

Stadium 2

Tahap ini dibagi lagi menjadi 2 menurut persebarannya.. Pertama, stadium IIA, ukuran kanker hanya mencapai 2 cm saja, tapi anak sebarnya sudah sampai di jaringan limfa bawah ketiak. 

Kedua stadium IIB, ukurannya mencapai 5 cm namun anak sebarnya belum mencapai limfa di bawah ketiak. 

Stadium 3

Dalam tahap ini, sel kanker sudah mampu untuk menyebar pesat. Stadium IIIA menandakan sel kanker sudah menyebar ke jaringan tubuh lain. Sedang stadium IIIB menandakan anak kanker sudah menyebar ke permukaan kulit dan kelenjar getah bening yang ada di jaringan payudara.

Stadium 4

Di tahap ini, pertumbuhan kanker sudah semakin cepat dan dengan mudah menyebar ke organ yang lain.

Ciri-ciri kanker payudara
Ciri-ciri Benjolan Kanker

Semakin cepat dikenali sejak dini, kanker payudara kemungkinan masih bisa diatasi atau disembuhkan. Meski pada stadium 0 Sobat Bidan belum bisa merasakan atau mendeteksi ciri-cirinya, namun di stadium 1 keadaannya akan sudah terlihat. 

Berikut beberapa ciri kanker payudara di tahap-tahap awal yang bisa diperhatikan :

  • Benjolannya terasa keras dan memiliki batas yang tidak jelas
  • Permukaan benjolan tidak rata
  • Terus menetap setelah hari ke-8 sampai ke-10 setelah menstruasi
  • Bila benjolan dekat dengan puting, maka puting akan tampak tertarik ke dalam dan agak susah digerakkan atau lengket
  • Merasakan sakit yang tidak hilang bahkan sampai waktu menstruasi berikutnya. Beberapa di antara penderita tidak merasa sakit sama sekali
  • Puting mengeluarkan cairan yang berwarna coklat, kekuningan, atau keruh
  • Puting bengkak dan memerah tanpa ada sebab apa-apa
  • Pembuluh vena di payudara terlihat, begitu juga urat-urat di bagian payudara
  • Sekitar ketiak mengalami pembengkakan karena pembesaran limfa
  • Pada stadium lanjut, kulit payudara jadi seperti kulit jeruk dan tertarik sehingga jadi cekung
  • Ukuran, bentuk, dan tampilan payudara berubah
Jika Sobat Bidan menemukan tanda-tanda tersebut, segeralah memeriksakan diri ke dokter supaya bisa ditangani lebih cepat. Untuk mencegahnya, Sobat Bidan bisa melakukan SADARI atau mammografi.

Itu dia beberapa tanda dan stadium kanker payudara. Untuk penyebab dan pengobatannya, akan dibahas di postingan Kespro selanjutnya ya, Sobat Bidan. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,


Pic by : Pexels.com
Begini cara mencegah kehamilan tanpa KB. 

mencegah kehamilan

Selamat siang, Sobat Bidan!

Tidak semua orang mau ber-KB, ya. Hal ini biasanya disebabkan karena efek samping KB yang memang beragam. Namun, ada juga ketakutan dan rasa was-was sebenarnya apabila tidak ber-KB. Betul tidak?

Nah, bagi Sobat Bidan yang enggan ber-KB namun ingin tetap mencegah kehamilan, cara-cara di bawah ini adalah solusinya. Apa saja itu? Yuk, simak postingan ini sampai selesai!

Coitus Interuptus

Sudah pernah dengar tentang istilah ini, Sobat Bidan? Coitus interuptus sebenarnya merupakan metode KB sederhana tanpa alat. Coitus interuptus artinya adalah senggama terputus. Pada saat berhubungan intim dan suami hampir mencapai klimaks, maka harus diputuskan agar sperma tidak keluar di dalam. 

Meski agak mengganggu, tapi metode ini bisa digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan karena sperma keluar di luar. Dalam Islam, ada istilah tersendiri untuk ini, yaitu azal atau al-azlu. Bagaimana, mudah diterapkan, bukan?

Berhubungan Tanpa Penetrasi

Cara kedua yang bisa digunakan untuk mencegah kehamilan tanpa ber-KB adalah berhubungan tanpa penetrasi. Ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan coitus interuptus, hanya saja hubungan ini dibatasi dengan bermesraan saja sehingga tidak sampai terjadi penetrasi. Ini tentu efektif untuk mencegah kehamilan meski tanpa KB.

Berhubungan di Luar Masa Subur

Nah, cara berikutnya adalah berhubungan intim saat Sobat Bidan tidak sedang dalam masa subur. Normalnya, masa subur wanita jatuh pada dua minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Biasanya di hari ke 10 - 17 setelah HPHT tersebut. Pada saat-saat itu hindarilah berhubungan intim karena risiko terjadi kehamilan akan lebih tinggi.

Sebaliknya, lakukan hubungan intim di luar masa tersebut supaya bisa mencegah kehamilan. Hari-hari subur juga biasanya ditandai dengan banyaknya cairan atau lendir yang keluar sampai celana dalam terasa lembap (hari-hari basah). Sebaliknya, masa tidak subur ditandai dengan hari-hari kering (tidak keluar cairan berlebih sampai membuat celana dalam lembap).

Bekerja samalah dengan pasangan
Mitos-Mitos Terkait yang Sering Beredar

Mungkin Sobat Bidan pernah mendengar mitos-mitos yang beredar terkait dengan pencegahan kehamilan. Sebenarnya bagaimana, sih? Mitos atau fakta?
  • Loncat-loncat setelah berhubungan bisa mencegah kehamilan? Nyatanya tidak, ya. Hal ini tidak akan berpengaruh pada akan hamil atau tidaknya perempuan, misal karena keluarnya sperma atau lainny. Ini mitos
  • Minum soda sebelum berhubungan dapat mencegah kehamilan karena kualitas sperma jadi tidak bagus? Ini juga hanya mitos. Tidak ada hubungan antara soda dan kualitas sperma. Bahkan kalau pun wanita minum soda setelah berhubungan, itu tidak akan bisa membunuh sperma
  • Mengeluarkan sperma sebelum ejakulasi? Nyatanya, cairan yang keluar sebelum itu kadang juga sudah mengandung sperma. Jadi, hal ini tidak bisa dikatakan bisa mencegah kehamilan
  • Berhubungan intim dengan posisi tertentu? Faktanya mungkin memang ada beberapa posisi yang sedikit mengurangi risiko hamil. Tapi bukan berarti juga ini efektif dapat mencegah kehamilan
  • Membersihkan miss-v segera setelah berhubungan? Ini juga mitos saja. Sebenarnya, sudah banyak sperma yang masuk pada saat berhubungan intim karena kontraksi otot-otot miss-v.

Nah, itu dia beberapa cara yang bisa digunakan apabila Sobat Bidan ingin mencegah kehamilan tanpa ber-KB dan mitos-mitos terkait hal ini. Tentunya cara ini punya risiko kegagalan dan keberhasilannya sendiri, tergantung bagaimana Sobat Bidan dan pasangan bekerja sama. Selamat mencoba!

Salam sayang,

Pic by : Pexels.com
Penyebab batuk pada bayi bermacam-macam, ibu bisa lakukan hal ini di rumah.

mengatasi batuk pada bayi

Selamat siang, Sobat Bidan!

Hadirnya si kecil tentu menambah suasana rumah kian semarak, ya. Namun, beda halnya ketika bayi mendadak sakit. Cuaca yang masih tidak menentu begini rentan sekali membuat si kecil tidak enak badan. Batuk, menjadi salah satu keluhan yang paling sering dikeluhkan ibu dalam cuaca ekstrem seperti ini.

Nah, bila bayi mengalami batuk, jangan dulu panik berlebihan, Sobat Bidan! Ada beberapa hal yang bisa Sobat Bidan lakukan di rumah untuk mengatasinya sebelum dibawa ke dokter. Apa saja itu? Simak postingan ini sampai selesai, ya!

Kenali Jenis Batuk

Ada beberapa jenis batuk yang biasa menyerang bayi atau si kecil. Berikut di antaranya :

Batuk rejan

Batuk ini penyebabnya adalah infeksi bakteri yang menyerang paru-paru dan saluran pernapasan. Tanda batuk rejan adalah bayi terengah-engah dan biasanya disertai gejala flu ataupun demam ringan. Jika tidak sembuh-sembuh, batuk ini akan menjadi batuk kering. Untuk mencegah batuk rejan terjadi, ibu bisa melakukan imunisasi pada si kecil.

Batuk croup

Batuk yang satu ini ditandai dengan suara batuknya yang menyerupai gonggongan. Bayi menjadi panas, demam, dan hidungnya beringus. Batuk croup juga akan membuat si kecil sesak napas karena laring dan trakeanya mengalami pembengkakan.

Bronchiolitis

Ini biasa dialami si kecil di tahun-tahun pertamanya, terutama pada saat cuaca sedang dingin. Bayi akan merasa sulit bernapas karena jalan udara ke paru-parunya berlendir dan terinfeksi. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini bisa menjadi batuk croup, pneumonia, pilek, dan infeksi telinga. Gejala lain dari bronchiolitis adalah adanya ingus di hidung, batuk kering, dan bayi tidak nafsu makan.

Gejala yang menyertai batuk
Biasanya, jika si kecil batuk, maka bukan hanya batuk saja yang akan dialami, melainkan akan ada gejala penyerta lainnya. Gejala-gejala tersebut, yaitu seperti :

  • Demam
  • Hidung tersumbat
  • Sakit tenggorokan
  • Mata berair dan merah
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di bawah ketiak, leher, dan belakang kepala
  • Nafsu makan berkurang
Yang Perlu Dilakukan

Nah, sebelum membawa si kecil yang batuk ke dokter, beberapa hal ini bisa ibu lakukan di rumah untuk mengurangi batuknya.

Selektif memilih makanan

Jika bayi masih berumur 6 bulan atau kurang dari itu, fokus saja pada pemberian ASI yang adekuat. Namun, jika si kecil sudah mulai makan, maka ibu harus memilih makanan yang lembut dan tidak memperparah batuknya seperti yogurt dan saus apel. Buatkan si kecil makanan hangat seperti puding atau kaldu ayam juga akan membantu.

Posisikan kepala lebih tinggi

Sama halnya dengan orang dewasa yang akan tidur dengan posisi kepala lebih tinggi untuk melancarkan napasnya saat batuk, begitu juga bayi. Ibu bisa memberinya bantal empuk atau handuk bersih yang dilipat untuk memposisikan kepala bayi lebih tinggi dari tubuhnya. Ini dapat membuat napasnya lebih lega.

Berikan madu

Jika si kecil sudah berusia satu tahun lebih, berikan sedikit madu padanya yaitu 1/2 sendok makan sebelum tidur. Madu mengandung antioksidan dan vitamin C yang baik untuk sistem imun dan meringankan batuknya. 

Pastikan istirahatnya cukup

Batuk mungkin akan membuat si kecil rewel, dan di sinilah PR ibu. Untuk proses pemulihan yang lebih cepat, pastikan bayi juga mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Buat dia senyaman mungkin istirahat, misal di dalam gendongan atau di atas kasur.

Tingkatkan cairan tubuhnya

Beri ASI atau susu formula secara intens dan lebih dari biasanya bila bayi belum memulai MPASI. Bila si kecil sudah mengenal makanan, ibu bisa membuatkannya sup hangat, cokelat hangat, jus, atau air putih hangat. Cairan ini dapat mengencerkan lendir dan batuknya sehingga si kecil akan mudah bernapas. Pastikan ibu memberikan dalam keadaan hangat ya, bukan panas.

Beri ASI adekuat
Dekatkan pada uap panas


Beri obat

Untuk ini sebaiknya ibu berkonsultasi dengan dokter atau bidan lebih dulu. Ibu bisa memberi bayi ibuprofen jika usianya sudah lebih dari tiga bulan dan beratnya paling tidak mencapai 5 kg. Bisa juga diberi parasetamol untuk bayi jika bayi sudah berusia lebih dari 37 minggu dan beratnya sudah mencapai 4 kg.

Kapan Harus Dibawa ke Dokter?

Ibu harus segera membawa si kecil ke dokter jika  bayi masih berusia kurang dari 3 bulan, entah apa pun sakitnya. Dalam kasus batuk ini, ibu sudah harus membawa bayi ke dokter, jika :
  • Batuknya semakin buruk, amati dari suaranya
  • Batuk tidak juga reda sampai 5 hari lamanya
  • Dahaknya berwarna hijau, cokelat atau kuning
  • Suhunya mencapai 38 derajat pada bayi berumur 3 bulan kurang, atau sampai 39 derajat pada bayi usia 6 bulan lebih
  • Pernapasannya bermasalah
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal yang bisa Sobat Bidan lakukan di rumah saat si kecil batuk. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Pic by : Pexels.com
luka sesar

Selamat siang, Sobat Bidan!

Melahirkan secara caesar butuh perawatan luka yang lebih hati-hati, ya, karena biasanya luka bekas operasi ini memerlukan pemulihan yang lebih lama. Nah, dalam postingan kali ini kita akan membahas bagaimana sih, cara merawat luka bekas operasi caesar yang benar? Simak sampai selesai, ya!

Bentuk Luka Operasi Caesar

Luka operasi caesar biasanya sepanjang 10-15 cm, dengan lebar 0,3 cm. Bekas luka ini biasanya akan terlihat lebih gelap warnanya dibandingkan kulit ibu di sekitar luka. Namun, setelah pulih (dalam waktu sekitar 6 minggu), warnanya akan memudar sendiri dan menyamai warna kulit ibu.

Sedangkan bentuk dari luka caesar atau sayatannya sendiri ada dua, yaitu :

Horizontal

Sayatan berbentuk horizontal paling banyak digunakan para dokter untuk melakukan operasi caesar sekarang ini. Sayatan horizontal dibuat melintang pada posisi rahim terendah atau bagian perut paling bawah ibu. Nah, sayatan luka seperti ini akan memungkinkan ibu untuk bisa melahirkan secara normal meski sebelumnya melahirkan dengan caesar atau biasa disebut dengan VBAC.

Vertikal

Sekarang jarang dokter yang menerapkan sayatan berbentuk vertikal, hanya pada kondisi tertentu saja. Misal jika ibu memang sudah punya bekas operasi caesar dalam bentuk vertikal, posisi bayi tidak normal, atau bayi dalam keadaan darurat dan harus segera dilahirkan.

Sayatan ini dimulai dari bagian tengah perut sampai pada bagian teratas rambut kemaluan. Sayatan vertikal membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama dan berisiko lebih besar terhadap komplikasi persalinan jika ingin bersalin normal.

Metode Menutup Luka Caesar

Ada tiga cara yang biasa digunakan dokter untuk menutup luka operasi caesar, yaitu :

Staples

Menutup luka dengan staples kulit merupakan cara yang paling mudah dan cepat. Sebelum ibu pulang dari rumah sakit, dokter akan melepas dulu staples kulit tersebut.

Jahitan

Cara ini menggunakan jarum dan benang yang nantinya dapat menyatu dengan kulit ibu. Membutuhkan waktu pengerjaan sekitar 30 menit, menutup luka operasi caesar dengan jahitan bisa mengurangi risiko komplikasi perlukaan sampai 57%.

Lem

Ini adalah cara yang paling mutakhir untuk menutup luka, yang akan membuat kulit menyatu kembali. Cara ini dapat menyembuhkan luka lebih cepat dan meninggalkan bekas yang lebih baik dari kedua cara yang sudah disebutkan. 

Merawat Luka Caesar di Rumah

Sebelum ibu pulang dari rumah sakit, luka ibu akan ditutup dengan steril-strips, kertas yang menyerupai pita dan berfungsi untuk menjaga kebersihan luka. Steril strips ini nantinya akan lepas sendiri kira-kira dalam waktu satu minggu.

Makan makanan bergizi
Berikut beberapa hal yang bisa ibu lakukan untuk merawat luka caesar di rumah :
  • Jangan mengangkat benda-benda berat pasca melahirkan caesar sampai kira-kira 2 minggu pertama
  • Boleh mandi dengan sabun tanpa menggosok bekas luka. Steril strips tidak akan bermasalah jika terkena air, namun tidak dianjurkan untuk berendam atau berenang
  • Jangan digaruk jika luka terasa gatal selama proses pemulihan, karena ini adalah hal yang normal. Cukup diusap saja pelan-pelan
  • Istirahat sebisa mungkin, jangan melakukan gerakan-gerakan yang akan menimbulkan peregangan luka ibu
  • Jaga posisi tubuh yang baik saat berjalan atau berdiri, serta tahan perut saat melakukan gerakan tiba-tiba seperti saat tertawa, batuk, atau bersin
  • Makan makanan yang mengandung protein seperti telur atau daging untuk pertumbuhan jaringan baru lebih cepat
  • Minumlah banyak air putih agar asupan cairan terpenuhi
  • Jagalah kebersihan luka untuk mencegah infeksi. Misal dengan membersihkannya saat mandi, menggosoknya lembut dengan sabun, lalu mengeringkannya dengan handuk yang empuk dan bersih
  • Pakai baju yang longgar agar luka mendapat sirkulasi udara yang cukup, ini dapat membantu mempercepat penyembuhan luka
  • Kontrollah jika memang waktunya kontrol ke dokter
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal terkait cara perawatan luka pada bekas operasi caesar. Bagaimana, sudah bisa diterapkan di rumah, ya? Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,


Pic by : Pexels.com


Ada beberapa tips untuk ibu yang ingin menjalani persalinan normal.

tips melahirkan normal

Selamat siang, Sobat Bidan!

Sebagai seorang wanita, tentu kita ingin merasakan bagaimana melahirkan secara normal atau per vaginam, ya. Namun, di zaman sekarang ini, ada banyak komplikasi yang menyebabkan ibu harus melahirkan secara caesar.

Jika Sobat Bidan ingin melahirkan secara normal, alangkah pentingnya jika Sobat Bidan mempersiapkannya selama masa kehamilan. Ada tips-tips yang bisa dilakukan untuk hal ini, lho! Apa sajakah itu, simak postingan ini sampai selesai, ya!

1. Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang

Ya, ibu hamil dianjurkan sekali untuk memenuhi asupan gizinya sebaik mungkin. Mulai dari lemak, karbohidrat, mineral, protein, dan tentunya vitamin. Di akhir masa kehamilan, asupan vitamin di dalam tubuh haruslah stabil. 

Vitamin A, B, C, dan E penting sekali untuk menguatkan rahim agar meminimalisir intervensi saat proses persalinan. Selain itu, vitamin K juga penting untuk membentuk proses pembekuan darah dan mengurangi perdarahan yang terjadi saat atau pasca bersalin. Perdarahan sendiri dapat berakibat fatal bagi ibu.

Vitamin-vitamin ini bisa ditemukan di sayur-sayuran mau pun buah-buahan, sedang untuk vitamin K sendiri bisa didapat dari sayuran berdaun seperti bayam.

persalinan normal
Perbanyak sayur dan buah
2. Beraktivitas Fisik 

Mendekati masa persalinan, ibu hamil dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik yang ringan seperti lebih sering jalan-jalan, senam ibu hamil, dan sebagainya. Hal ini bisa membantu kondisi fisik ibu lebih prima untuk persiapan persalinan normal. Selain bisa membuat tubuh lebih bugar dan sehat, aktivitas fisik juga bisa mengalihkan fokus ibu terhadap rasa sakit.

3. Latihan Pernapasan

Nah, yang satu ini juga tidak kalah pentingnya untuk persiapan ibu sebelum memasuki proses persalinan. Di trimester tiga kehamilan, ibu dianjurkan untuk mempelajari teknik bernapas yang benar pada saat bersalin nanti. Ini bisa ibu dapatkan dengan mengikuti senam hamil atau yoga misalnya.

Selain menjadi tahu bagaimana teknik bernapas yang benar saat melahirkan nanti, ibu juga bisa menjadi lebih rileks dengan latihan bernapas ini. Latihan pernapasan juga bisa membuat ibu dan janin tercukupi kebutuhan oksigennya, sehingga dapat meminimalisir rasa sakit saat kontraksi selama proses persalinan berlangsung.

4. Jaga Pertambahan Berat Badan

Hal yang satu ini juga patut diperhatikan untuk ibu hamil yang ingin melahirkan secara normal. Pembahasan tentang berat badan yang normal selama kehamilan akan dibahas sendiri pada label Kehamilan. 

Jika ibu punya berat badan ideal, maka risiko komplikasi kehamilan dan persalinan pun bisa diminimalisir. Selain itu, ibu dengan berat badan yang berlebih juga akan cenderung mengalami kesulitan saat persalinan, serta membutuhkan lebih banyak intervensi medis ketimbang ibu hamil yang berat badannya normal.

Jaga berat badan ideal
5. Latihan Squat

Latihan ini menjadi trend di kalangan ibu hamil karena memang bisa berpengaruh pada lancar tidaknya persalinan. Lebih lengkap tentang latihan squat ini akan dibahas dalam postingan tersendiri, ya. Ibu hamil yang mendekati masa HPL dianjurkan untuk setidaknya melakukan latihan squat minimal 15 kali per hari. Ibu tentu butuh bantuan pelatih atau orang yang sudah biasa menangani ini.

6. Istirahat dan Tidur yang Cukup

Hal yang satu ini juga penting sekali untuk diperhatikan. Ibu hamil sebaiknya punya pola tidur dan istirahat yang teratur, apalagi menjelang persalinan. Ini menjadi suatu cara yang efektif supaya ibu bisa melalui proses bersalin dengan lancar.

Tidur yang cukup selama 6-7 jam per hari akan memulihkan stamina dan energi ibu dari lelahnya kehamilan dan beraktivitas. Meski banyak juga ibu hamil yang mengalami insomnia menjelang HPL-nya, namun ibu perlu untuk mencari tahu bagaimana mengatasi hal ini, ya.

7. Makanlah Kurma

Menurut penelitian, buah kurma mengandung semacam hormon oksitosin yang akan membantu kontraksi ibu. Mendekati detik HPL, ibu bisa mulai rutin memakan buah ini. Selain itu, kurma juga bisa membantu proses pelebaran serviks sehingga mempercepat pembukaan dan melancarkan proses bersalin normal.

Nah, itu dia beberapa tips yang bisa ibu dan Sobat Bidan coba selama masa akhir kehamilan jika ingin melahirkan secara normal. Semoga lancar proses persalinannya, ya!

Salam sayang,

Pic by : Pexels.com
Ada beberapa tanda kehamilan muda yang mesti Sobat Bidan waspadai.

bahaya hamil muda

Selamat siang, Sobat Bidan!

Rasanya hamil muda itu nano-nano, ya. Di tengah kebahagiaan, Sobat Bidan juga akan mengalami berbagai macam keluhan. Hal ini wajar, karena dalam masa-masa ini tubuh Sobat Bidan sedang melakukan penyesuaian atau adaptasi terhadap meningkatnya hormon-hormon kehamilan.

Dalam masa kehamilan muda, biasanya Sobat Bidan akan mengalami hal-hal seperti yang akan disebutkan di bawah ini. Sobat Bidan tidak perlu terlalu cemas, tapi juga perlu waspada, ya. Apa saja itu? Simak ulasan berikut sampai selesai.

1. Perdarahan 

Saat hamil muda, Sobat Bidan biasanya akan mengalami perdarahan, baik yang ringan sampai berat. Perdarahan ini biasanya disertai nyeri pada bagian bawah perut juga punggung dan terjadi dalam waktu-waktu tertentu. Namun, jangan panik dulu, ini bukan berarti kehamilan Sobat Bidan sedang dalam masalah serius. 

Jika perdarahan tersebut hanya terjadi dalam waktu satu sampai dua hari dengan frekuensi yang tidak banyak atau hanya flek, maka itu adalah salah satu dari tanda kehamilan. Ini terjadi karena ada perlukaan pada rahim akibat proses nidasi (menempelnya embrio dari pertemuan sel telur dan sperma).

Namun, jika perdarahan terjadi dalam waktu yang lama, banyak, dan disertai dengan nyeri perut yang hebat, maka itu yang perlu diwaspadai. Perdarahan semacam ini bisa jadi merupakan salah satu gejala dari abortus, kehamilan ektopik, atau hamil anggur.

bahaya flek saat hamil muda
Waspada flek atau perdarahan
2. Keputihan

Sebenarnya, keputihan yang terjadi dalam kehamilan muda adalah hal yang normal karena adanya perubahan hormonal. Dengan catatan, selama keputihan tersebut masih dalam ciri-ciri keputihan yang normal. Jika keputihan yang keluar dari jalan lahir berlebihan disertai gatal, berbau tidak sedap, dan berwarna misal kehijauan, itulah yang perlu Sobat Bidan waspadai.

Keputihan yang berlebihan dan gatal bisa jadi merupakan salah satu dari gejala penyakit menular atau infeksi seksual tertentu. Jika tidak segera diobati, hal ini dapat berbahaya bagi janin karena dapat mempengaruhi pertumbuhannya di dalam kandungan.

3. Demam

Sobat Bidan yang sedang hamil muda biasanya mudah terserang demam. Hal ini tidak masalah selama demam tersebut disertai flu atau pilek, karena berarti memang disebabkan virus flu atau pilek. Yang patut diwaspadai adalah apabila demam tersebut tidak disertai dengan flu atau pilek tadi. Suhu tubuh yang mendadak tinggi disertai dengan nyeri dan ruam otot, bisa menjadi pertanda infeksi salah satu virus seperti toxoplasma, citomegalovirus, atau parvovirus.

Hal ini sangat berbahaya bagi pertumbuhan saraf tabung bayi, karena perkembangan saraf tabung tersebut sedang terjadi dalam trimester pertama ini. Bila perkembangannya terganggu, kemungkinan bayi akan lahir dengan cacat bawaan atau cacat janin.
bahaya hamil muda
Waspada demam saat hamil muda
4. Mual Muntah

Kalau yang satu ini, kita sudah pernah membahasnya sama-sama di sini, ya, Sobat Bidan. Selama masih dalam batas wajar, maka mual muntah tidak perlu dikhawatirkan.

Nah, itu dia beberapa hal yang biasanya akan terjadi pada Sobat Bidan selama kehamilan muda. Tidak perlu terlalu panik dan cemas jika hal tersebut terjadi, ya. Tapi, segera periksakan ke dokter atau bidan jika hal-hal tersebut sudah melebihi batas wajar. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,


Pic by : Pexels.com
Benjolan di payudara belum tentu merupakan kanker payudara. Ada beberapa jenis benjolan selain kanker.

benjolan payudara

Selamat siang, Sobat Bidan!

Adakah Sobat Bidan yang pernah merasakan ada benjolan di payudaranya? Jika menemukan ini, tentu saja sebagai wanita kita akan merasa cemas, ya. Jangan-jangan...

Nah, jangan berpikir yang macam-macam dulu Sobat Bidan, benjolan di payudara belum tentu berarti benjolan kanker payudara. Ternyata ada bermacam-macam jenis benjolan lain selain kanker. Bagaimana perbedaan benjolan yang bukan kanker itu dengan benjolan kanker payudara? Simak postingan ini sampai selesai, ya.

Kelainan Fibrokistik, Apa Itu?

Benjolan yang terjadi pada payudara biasanya berkaitan dengan kelainan fibrokistik. Kelainan ini bisa menyebabkan adanya benjolan pada payudara, bisa satu, bisa juga banyak. Namun, kelainan fibrokistik merupakan jenis yang jinak atau non kanker. 

Benjolan ini bisa saja terasa sakit, menyebabkan payudara bengkak bahkan bisa juga keluar cairan dari puting yang berwarna keruh. Ini biasanya dipengaruhi dengan siklus menstruasi. Artinya, akan semakin terasa sakit dalam masa menjelang atau saat menstruasi. 

Kelainan fibrokistik ini banyak dialami oleh wanita dalam masa produktif. Bisa di salah satu payudara atau bahkan dua-duanya. Nah, kelainan fibrokistik terbagi menjadi beberapa macam berdasarkan karakteristik benjolannya. Apa saja itu? Ini dia!

benjolan di payudara

1. Fibrosis

Jika di payudara Sobat Bidan ditemukan adanya benjolan yang jika diraba akan terasa kenyal, padat, dan keras, maka kemungkinan itu adalah fibrosis. Fibrosis merupakan kelainan fibrokistik yang terjadi sehingga menimbulkan adanya benjolan dalam jaringan payudara.

Berbagai penelitian mengungkapkan kesimpulan yang beragam mengenai hal ini. Ada yang menyatakan bahwa kemungkinan penderita fibrosis terserang kanker payudara bisa terjadi, ada juga yang menyatakan fibrosis ini tidak akan menjadi kanker. Intinya, jika Sobat Bidan merasakan benjolan dengan karakteristik tersebut, ini bukanlah kanker. Tapi, sebaiknya tetap harus diperiksakan, ya.

2. Fibroadenoma

Yang satu ini merupakan jenis tumor jinak yang paling sering dialami wanita. Ciri-ciri benjolan yang menandakan fibroadenoma adalah bisa digerakkan atau berpindah, tetapi tidak terasa sakit. Selain itu, benjolan ini jika ditekan terasa solid atau padat, kenyal, juga berbentuk oval atau bulat. 

Fibroadenoma butuh waktu lama untuk tumbuh besar, namun bisa juga tumbuh sangat besar (giant fibroadenoma). Ras Afrika-Amerika cenderung lebih tinggi mengalami fibroadenoma ini, dan biasanya berkisar antara umur 20-30 tahun.

Penelitian terkait fibroadenoma juga belum punya jawaban pasti. Entah kelainan yang satu ini bisa berisiko pada kanker payudara atau tidak. Namun, Sobat Bidan dianjurkan untuk segera konsultasi pada ahlinya jika menemukan gejala ini.

3. Kista

Jika benjolan di payudara berbentuk bulat atau lonjong, berpindah-pindah seperti kelereng saat diraba, maka bisa jadi itu adalah kista. Kista merupakan kantung yang berisi cairan. Kista ini biasanya akan membesar dan terasa lebih lunak saat mendekati menstruasi, serta baru akan terlihat saat ukurannya sudah mencapai 2,5-5 cm. 

Kista tidak meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara, namun Sobat Bidan harus tetap memeriksakannya. Hal ini perlu untuk memastikan bahwa itu benar kista atau bukan, supaya bisa dilakukan penanganan yang tepat.

4. Intraductal Papilloma

Benjolan yang satu ini adalah tumor jinak non kanker yang ada di kelenjar susu. Biasanya, tumor ini membentuk satu benjolan yang lumayan besar di dekat puting, atau bisa juga terdiri dari beberapa benjolan yang lebih kecil dan jauh dari puting.

Jika benjolan ini cuma ada satu dan dekat dengan puting, maka ini tidak akan meningkatkan risiko pada kanker payudara. Yang perlu diwaspadai adalah jika benjolannya banyak dan jauh dari area puting. Hal ini dikaitkan dengan gejala pre-kanker yang dinamakan atypical hiperplasia.

Introductal papilloma biasanya terjadi pada wanita usia 35-55 tahun karena terdiri dari kelenjar, sel fibrous, dan pembuluh darah. Ukurannya bisa mencapai 1-2 cm, bisa juga lebih atau kurang dari itu, tergantung di mana letaknya. 

Ciri Umum Benjolan Bukan Kanker

Setelah membaca pemaparan di atas, bisa disimpulkan bahwa benjolan yang tidak berbahaya atau bukan kanker, memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  • Punya batas yang jelas
  • Berbentuk bulat atau oval seperti kelereng
  • Mudah digerakkan atau berpindah jika disentuh
  • Pertumbuhannya lambat
  • Aktivitasnya mengikuti siklus menstruasi
  • Bisa sakit atau tidak terasa sakit sama sekali
Nah, itu dia Sobat Bidan, mengenai macam-macam benjolan pada payudara, dan ciri umum benjolan yang tidak berbahaya. Untuk ciri-ciri kanker payudara, karena butuh ulasan yang panjang, jadi akan kita bahas di postingan Kespro selanjutnya, ya. Jangan lupa melakukan SADARI untuk mendeteksi adanya benjolan pada payudara Sobat Bidan semua.

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,



Pic by : Pexels.com
Efek samping KB suntik memang macam-macam. Namun, jangan khawatir, ini dia cara mengatasinya.

efek samping kb suntik

Selamat siang, Sobat Bidan!

KB suntik sampai saat ini masih menjadi favorit bagi para ibu-ibu dengan berbagai alasan. Meskipun, baik itu suntik tiga bulan atau satu bulan juga memunculkan berbagai efek samping tertentu. Tak jarang pula ibu yang memutuskan untuk ganti kontrasepsi karena efek samping atau keluhan ini.

Nah, jika Sobat Bidan merasakan efek samping yang macam-macam juga pasca suntik KB, jangan buru-buru memutuskan ganti kontrasepsi dulu. Begini cara mengatasi keluhan dan efek samping yang terjadi. Simak postingan ini sampai selesai, ya.

1. Siklus Menstruasi Berubah

Wah, ini hampir 80% ibu pemakai KB suntik yang mengeluhkannya. Setelah suntik, kadang ada yang haidnya jarang-jarang, cuma flek, dan sebagainya. Bahkan, 40% pengguna KB ini mengalami amenorhea, atau tidak mendapat haid sama sekali setelah satu tahun pemakaian.

Bahayakah? Tentu tidak, ya. Darah kotor tidak akan menumpuk meski tidak haid. Cara kerja hormon dari suntik KB ini memang akan menipiskan dinding rahim sehingga tidak ada darah yang diluruhkan. Jadi, ibu tidak perlu khawatir atau mengatasi hal ini dengan obat-obatan tertentu.

efek samping kb 1 bulan

2. Nyeri Pada Payudara dan Sakit Kepala

Keluhan yang satu ini cukup umum dirasakan oleh pengguna KB suntik, meski tidak semua mengalaminya. Jika ibu merasakan sakit kepala, nyeri pada payudara bahkan perubahan mood yang terlalu sering, maka tidak perlu khawatir. Itu bukan suatu gejala dari penyakit tertentu, murni karena perubahan hormon.

Untuk mengurangi rasa nyeri atau sakit kepala tersebut, ibu bisa minum parasetamol atau beristirahat sejenak. Namun, jika sakit kepala diawali dengan gejala perubahan pada fungsi panca indera seperti visual atau motorik, maka harus dikonsultasikan dengan dokter. Begitu pula jika gejalanya sangat berat dan mengganggu.

3. Menurunnya Gairah Seksual

Kinerja hormon progestin yang terkandung dalam KB suntik salah satunya adalah mengentalkan lendir pada miss-v. Selain itu, hormon tersebut juga mengubah bahan makanan menjadi lemak yang sulit larut dalam air.

Jika kadar lemak lebih banyak di dalam tubuh, maka akan semakin sedikit kadar air di dalam tubuh. Jika sudah begini, maka miss-v pun akan lebih kering. Hal tersebut akan berpengaruh pada saat berhubungan seksual, misalnya jadi lebih sakit karena gesekan. Inilah yang akhirnya menurunkan gairah seksual pada ibu.

Namun, ibu bisa kok, mengatasi hal ini. Misalnya dengan melakukan foreplay atau pemanasan yang lama sebelum berhubungan. Selain itu, bisa juga menggunakan pelumas supaya tidak sakit saat berhubungan.

efek samping kb suntik 3 bulan

4. Berat Badan Naik

Nah, inilah efek samping yang kadang membuat ibu enggan menggunakan suntik KB. Berat badan bisa naik setelah memakai KB suntik juga dikarenakan hormon. Hormon progestin ini akan mempengaruhi nafsu makan dengan mengendalikan pusat kendali otak yaitu hipotalamus. Untuk mengatasi hal ini, ibu bisa mengatur pola makan atau melakukan olahraga rutin.

5. Tidak Bisa Langsung Subur Lagi

Kekurangan KB suntik yang satu ini juga kerap membuat pemakainya gusar. Beda dengan IUD, implan, atau pil KB yang setelah lepas pemakaian bisa langsung subur. KB suntik butuh waktu sekitar 10 bulan atau lebih cepat untuk kembali subur setelah berhenti menggunakannya.

Jadi, jika ibu berencana hamil lagi, hentikan suntik KB beberapa bulan sebelumnya agar lekas kembali subur.

6. Wajah Berjerawat

Lagi-lagi, ini karena hormon. Progestin memang bisa menjadikan kelenjar minyak berlebih sehingga wajah lebih mudah jerawatan. Untuk mengatasinya, lakukan dengan cara rutin membersihkan wajah terutama menjelang tidur. Jangan sampai tidur dengan make-up dan debu serta kotoran yang masih menempel di wajah.

7. Berkurangnya Kepadatan Tulang

Penelitian telah menyimpulkan bahwa penggunaan KB suntik memang dapat membuat kepadatan tulang berkurang. Osteoporosis istilahnya. Minum susu atau suplemen untuk membantu mempertahankan kepadatan tulang ini bisa dilakukan, serta konsultasikan dengan dokter setiap 2 tahun sekali.
efek samping kb suntik


8. Tidak Melindungi dari PMS

Benar sekali, suntik KB memang tidak akan melindungi ibu dari penularan penyakit menular seksual. Jika pasangan diketahui menderita penyakit, maka alangkah baiknya mengenakan kondom saat melakukan hubungan seksual. 

Nah, itu dia Sobat Bidan, cara mengatasi keluhan yang sering terjadi dalam penggunaan suntik KB. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,


Pic by : Pexels.com