Selamat siang, Sobat Bidan!

Bahaya KB suntik saat hamil
Ada tidak yang pernah menjumpai atau bahkan mengalami sendiri kejadian ini, khususnya bagi pengguna KB suntik? Tiba-tiba saja hamil padahal kemarin jadwal suntik KB tidak terlewat dan tidak juga telat. Alhasil bingung, apakah ini yang disebut kebobolan atau sebenarnya sebelum suntik itu sudah hamil?

Setelah diperiksa ternyata hasilnya menunjukkan bahwa umur kehamilan sudah jauh lebih tua dibandingkan waktu suntik KB yang baru beberapa hari atau minggu. Kalau demikian, berarti kesimpulannya sebelum suntik KB sudah hamil duluan, dong! Waduh, kok bisa sampai tidak ketahuan, ya?

Lalu muncul lagi pertanyaan: bahaya tidak obat KB yang masuk dalam tubuh saat sedang hamil begini? Apa efek sampingnya untuk si janin di dalam perut? Yuk, simak ulasan ini sampai selesai!

Bolehkah suntik KB selama hamil?

Jawabannya jelas tidak boleh. KB suntik bekerja dengan cara menipiskan dinding rahim, menebalkan cairan vagina, dan menghambat pelepasan sel telur. Jika progestin yang ada dalam KB suntik ini dimasukkan ke dalam tubuh ibu hamil, dikhawatirkan akan mengganggu kondisi fisiknya dan berbahaya bagi kehamilannya.

Apa efek sampingnya?

Ada beberapa efek samping yang mungkin akan terjadi baik pada ibu maupun janin, berikut di antaranya :

  • Terjadi perdarahan pada ibu
  • Meningkatnya risiko keguguran atau lahir prematur
  • Risiko cacat bawaan pada janin seperti bibir sumbing, kelainan jantung bawaan, dan sebagainya

Bagaimana jika sudah terlanjur?

Jika kasusnya ibu tidak tahu kalau dirinya sedang hamil dan terlanjur suntik KB, maka alangkah baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan agar segera diperiksa dan diberi penanganan yang tepat. Berikut hal yang bisa ibu lakukan :
  • Lakukanlah pemeriksaan Antenatal Care (ANC) secara rutin setiap bulannya. ANC dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan
  • Istirahat yang cukup dan teratur minimal 5-6 jam per harinya
  • Penuhi asupan nutrisi dengan baik, dengan makanan bergizi dan bervariasi
  • Minum multivitamin yang diberikan dokter atau bidan terutama asam folat untuk mencegah kecacatan janin dan zat besi untuk mencegah anemia
  • Jangan stres
  • Jangan melakukan aktivitas yang berat
  • USG
Kasus ini masih sering terjadi di Indonesia, mungkin bisa saja ibu memang tidak sadar jika dirinya sedang hamil. Namun, sebagai nakes khususnya bidan yang biasa menangani KB suntik, hendaknya sebelum memberikan suntik KB diperiksa dulu dengan palpasi perut untuk memastikan jika akseptor sedang tidak hamil.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal tentang Kb suntik pada ibu yang sedang hamil. Semoga postingan ini bermanfaat, ya!

Salam sayang,

Bidan Ayu


Pic by : Pexels.com
Selamat pagi, Sobat Bidan!

Menyusui meski masih hamil? Boleh tidak?
Kaget dengan hasil testpack yang bergaris dua padahal si kecil masih menyusui? Terlepas dari direncanakan atau tidak, kehamilan tentu saja merupakan anugerah. Yang jadi pertanyaan kemudian adalah:

Bolehkah tetap menyusui si sulung meski kini sedang hamil lagi?

Jawabannya, boleh. Bahkan, jika sampai kelahiran bayi dan si sulung belum waktunya disapih (belum berusia 2 tahun), ibu boleh menyusui keduanya bersamaan. Istilah ini sering disebut Tandem Nursing.

Alasan yang membuat ibu harus tetap menyusui

Kenapa ibu harus tetap menyusui si sulung meski kini sedang hamil lagi? Berikut beberapa alasannya :
  • ASI adalah asupan terbaik bagi anak. Khususnya jika si sulung masih berusia kurang dari 6 bulan, janganlah berpikiran untuk berhenti menyusuinya. Kandungan yang terdapat dalam ASI masih tidak bisa digantikan dengan sufor mana pun. Hal yang perlu diperhatikan adalah memastikan si sulung mengalami kenaikan berat badan sampai usianya menginjak 1 tahun
  • Dengan terus mengkonsumsi ASI, akan membuat si sulung lebih cepat beradaptasi dengan kehadiran si adik
  • Saat sedang menyusui si sulung, itu akan memberi kesempatan pada ibu untuk beristirahat. Sulung yang menganjak usia balita tentu sedang aktif-aktifnya, bukan? Dengan menyusu, setidaknya dia menjadi tenang sehingga ibu bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk istirahat

Perubahan yang terjadi

Tentu akan ada perubahan yang terjadi saat ibu menyusui di waktu hamil, berikut di antaranya :

  • Puting dan payudara akan terasa lebih lembek, juga lebih sensitif. Hal ini terjadi karena adanya perubahan hormon selama kehamilan. Ibu mungkin akan merasa sedikit tidak nyaman saat menyusui dibandingkan saat sebelum hamil lagi
  • Produksi ASI akan sedikit berkurang dan berbeda rasanya. Ini terjadi karena menginjak kehamilan 4 sampai 5 bulan, produksi ASI akan berubah lagi menjadi kolostrum untuk persiapan bayi yang akan lahir. Hal tersebut dapat membuat si sulung jadi enggan menyusu atau sebaliknya, lebih sering menyusu
Asupan nutrisi untuk ibu

Banyak ibu yang memutuskan untuk berhenti menyusui saat ketahuan hamil lagi karena khawatir asupan nutrisinya tidak akan cukup. Tidak perlu khawatir soal itu, karena sebenarnya tubuh kita sudah tahu apa tugasnya. Turuti saja naluri ibu, makanlah saat lapar dan minum saat haus. Dengan catatan, tentu makanan yang dikonsumsi harus bervariasi dan memenuhi setiap nutrisi yang diperlukan. Porsi minum dan cairan per harinya juga harus ditambah.

Penuhi asupan gizi
Jangan lupa untuk mengkonsumsi multivitamin yang diberikan oleh bidan atau dokter. Jika ibu benar-benar dalam kondisi badan yang fit, tidak stres, maka dengan ditunjang asupan gizi yang cukup, nutrisi akan terpenuhi baik untuk ibu, si sulung, dan bayi yang di dalam perut.

Berbahayakah menyusui saat hamil?

Kecemasan yang lain muncul karena rumor menyusui saat hamil dapat menyebabkan keguguran. Hal ini dikarenakan adanya rangsangan puting susu yang dapat memicu keluarnya hormon oksitosin. Hormon oksitosin sendiri memang dapat menimbulkan kontraksi rahim. 

Tenang saja, dalam hal ini, kadar hormon oksitosin yang dikeluarkan karena rangsangan puting tidak cukup kuat untuk membuat rahim berkontraksi apalagi sampai keguguran. Mungkin saja ibu memang akan merasakan kontraksi kecil saat menyusui si kecil, tapi itu tidak akan berlangsung lama. Kecuali bila memang ibu punya indikasi untuk berhenti menyusui selama kehamilan.

Keadaan yang tidak memperbolehkan ibu menyusui selama hamil

Seorang ibu dianjurkan untuk tidak menyusui si sulung selama kehamilan, jika termasuk dalam salah satu kategori berikut :
  • Ibu mempunyai indikasi kehamilan risiko tinggi atau berisiko melahirkan prematur
  • Apabila bayi yang dikandung terdeteksi kembar
  • Mengalami perdarahan atau nyeri rahim
  • Ibu yang disarankan dokter untuk tidak berhubungan intim selama hamil, termasuk memainkan payudara
Nah, itu dia Sobat Bidan, sekilas gambaran tentang menyusui selama masa kehamilan. Sobat Bidan pernah mengalaminya, atau punya teman yang sedang mengalaminya? Silakan share, ya! Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com
Selamat siang, Sobat Bidan!

Mitos di masa nifas
Masa nifas merupakan masa yang penuh dengan mitos apalagi bagi sebagian masyarakat Indonesia yang masih hidup di daerah desa. Berbagai mitos yang merugikan bagi ibu nifas yang menyebar kadangkala masih dipercayai oleh masyarakat begitu kentalnya. Berikut adalah beberapa mitos yang masih dipercaya tapi, sebenarnya salah kaprah.

1. Tidak boleh makan telur atau daging

Sebagian masih sangat percaya jika seorang ibu nifas tidak diperbolehkan makan telur atau daging. Katanya, apabila makan telur atau daging maka jahitannya tidak akan kering-kering atau malah gatal. Sebenarnya, hal ini justru bertentangan dengan pendapat medis. Telur atau daging sangat banyak mengandung protein. Protein sendiri berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan jaringan baru. 

Karena inilah sebenarnya ibu nifas dianjurkan untuk mengkonsumsi daging dan telur secara rutin. Protein yang terkandung di dalamnya justru akan mempercepat keringnya luka jahitan. Selama hamil, ibu juga sudah dianjurkan untuk makan banyak telur agar tidak terjadi robekan perineum pada saat melahirkan.

2. Memakai korset atau stagen

Orang zaman dulu berpikir bahwa pemakaian korset atau stagen pada masa nifas dapat mengembalikan kesingsetan perut yang bergelambir. Padahal, kenyataannya tidak ada bukti ilmiah yang menyebutkan begitu. Justru pemakaian korset yang kencang ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada ibu nifas, bahkan bisa menimbulkan gatal dan ruam-ruam. Apalagi bagi ibu yang melahirkan secara caesar, pemakaian korset dapat menimbulkan komplikasi.

3. Tidak boleh keluar rumah selama 40 hari

Banyak rumor yang mengatakan bahwa ibu nifas tidak boleh keluar dari rumah sebelum 40 hari dengan alasan yang macam-macam seperti takut kena sawan, kondisi ibu belum pulih, dan sebagainya. Benar memang bahwa seorang ibu yang baru saja melahirkan harusnya beristirahat untuk memulihkan kembali fungsi tubuh. Namun, apabila jenuh dan bosan di dalam rumah saja, tak masalah jika ibu nifas pergi berjalan-jalan ke luar rumah. Ini justru bagus untuk latihan mobilisasi bagi ibu.

Ibu nifas tidak boleh keluar rumah selama 40 hari

4. Tidak boleh berhubungan intim selama 40 hari

Ukuran boleh tidaknya berhubungan intim selama masa nifas adalah dari pengeluaran lochea dan sembuhnya luka bekas jahitan. Bila dalam 40 hari lochea sudah tidak keluar, luka jahitan pun sudah sembuh, kondisi ibu sudah pulih, silakan saja untuk berhubungan intim. Namun, bila masih belum memungkinkan, maka apabila dipaksa berhubungan akan menimbulkan infeksi bagi ibu nifas tersebut.

5. Tidak boleh makan atau ngemil setelah maghrib

Hal ini salah besar. Justru ibu nifas harus ditambah banyak porsi makannya sebagai sarana pemenuhan gizi dan nutrisi bagi tubuh. Terlebih pada malam hari, ibu masih butuh asupan gizi untuk menyusui bayi sepanjang malam. Bila asupan kurang, maka produksi ASI tidak akan lancar dan kesehatan ibu justru terganggu.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa mitos nifas yang sangat salah kaprah tapi tak jarang masih dijalankan. Masa nifas merupakan masa yang sangat penting untuk pemulihan tubuh dan tumbuh kembang bayi, jadi jangan sampai termakan mitos-mitos yang merugikan, ya!

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com