Selamat pagi, Sobat Bidan!

Kenapa HPL meleset dari perkiraan?
Kadang kita menemui atau bahkan mengalami sendiri perihal melesetnya tanggal kelahiran dari perkiraan. HPL tanggal 17, tanggal 9-nya sudah melahirkan. Atau justru malah mundur, tanggal 24-nya baru melahirkan. Kira-kira kenapa ya, kok bisa begitu?

Oh, ternyata ini penyebabnya Sobat Bidan, simak sampai habis, yuk!

1. Salah mengingat HPHT

Cara yang paling sederhana untuk menentukan tanggal persalinan adalah dilihat dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), padahal, cara ini hanya efektif bagi mereka yang siklus haidnya lancar. Akan sulit menentukan tanggal persalinan dengan hitungan HPHT jika siklus haid seseorang tidak lancar setiap bulannya.

Proses pembuahan dari pertama sel telur dan sperma bertemu adalah dua minggu. Karenanya, umur kehamilan yang matang dan siap melahirkan adalah 40 minggu yang berarti jarak dari pembuahan sampai HPL adalah 38 minggu. Nah, biasanya ibu juga akan lupa dengan HPHT-nya sendiri atau cuma sekadar mengingat-ingat saja. Jika HPHT-nya salah, tanggal pembuahan juga akan ikut salah sehingga HPL pun meleset dari perkiraan.

2. Ukuran rahim

Persalinan bisa terjadi lebih cepat apabila ukuran rahim seseorang besar dan sudah siap melakukan proses itu. Di awal kehamilan, yaitu usia 12 minggu, bagian atas rahim atau fundus sudah berada di atas panggul. Pada saat umur kehamilan mencapai 18 minggu, jarak antara tulang panggul dan rahim mungkin akan sama dengan jumlah minggu setelah berakhirnya periode haid. Inilah yang bisa membuat tanggal persalinan meleset dari perkiraannya.


3. Ukuran leher rahim (serviks)

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita yang ukuran leher rahimnya lebih pendek setelah diperiksa melalui USG, cenderung akan lebih cepat melahirkan. 85% persen wanita yang punya leher rahim sepanjang 1 cm saja lebih cepat melahirkan dibanding yang panjang leher rahimnya mencapai 2,5 cm. Saat proses kehamilan menjelang bersalin, leher rahim akan semakin menipis untuk memudahkan proses persalinan.

4. Posisi janin di dalam kandungan

Posisi janin di dalam kandungan juga menentukan cepat tidaknya persalinan. Posisi yang tepat dengan puncak kepala berada di bawah, kepala janin sudah masuk ke panggul dan mapan dengan sempurna, maka bersiaplah untuk persalinan yang lebih awal. Sementara bila sudah mendekati HPL tapi janin belum juga mapan, bisa jadi ada kelainan yang perlu diperiksa lebih lanjut lagi.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa penyebab kenapa tanggal HPL bisa bergeser dari perkiraan. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com
Selamat siang, Sobat Bidan!


Kehamilan merupakan salah satu keadaan yang paling rentan dan krusial bagi seorang wanita. Karena itu, kondisi selama atau pun sebelum hamil harus dipersiapkan dengan baik agar tidak sampai jatuh sakit apalagi sampai terkena komplikasi. Untuk meminimalisir hal tersebut, ada beberapa test yang mesti Sobat Bidan jalani sebelum memutuskan untuk hamil. Apa saja test tersebut? Simak ulasan ini sampai selesai, ya.

1. Tes darah untuk mendeteksi adanya penyakit genetik

Tes darah sebelum hamil banyak sekali tujuan maupun manfaatnya. Misal bagi ibu yang belum tahu golongan darahnya, dengan tes darah jadi tahu. Selain itu, tes darah ini lebih penting lagi sebagai pengecek adanya penyakit genetik atau tidak. Contoh penyakit genetik seperti Tay Sachs (kondisi yang menghancurkan sel-sel dalam tubuh), sel sabit (keadaan tidak adanya sel darah merah yang mengantarkan oksigen dalam tubuh), dan lain-lain. 

Apabila penyakit genetik ini sudah dideteksi sejak sebelum hamil, tentunya akan mencegah risiko penularan selama kehamilan. Wanita yang diketahui mengalami penyakit genetik dianjurkan untuk program bayi tabung supaya gen embrionya bisa dites lebih dulu.

2. Tes fungsi hormon tiroid

Masih dengan cara tes darah sederhana, tes ini berfungsi untuk mengetahui fungsi hormon tiroid. Hasilnya bisa jadi hipotroidisme, normal, ataupun hipertiroidisme. Hipotiroid adalah keadaan di mana tubuh memiliki hormon tiroid yang tidak cukup untuk perkembangan janin secara normal. Ini dapat berakibat hal yang sama bagi janin. Sedangkan hiper artinya tubuh memiliki hormon tiroid yang berlebihan. Ini juga berbahaya bagi janin karena hormon tersebut dapat masuk ke plasentanya dan membuat janin juga mengalami hipertiroidisme.

3. Pap Smear

Pap smear merupakan salah satu tes untuk mengecek adanya kanker serviks atau tidak di rahim wanita. Wanita yang sudah aktif berhubungan seksual lebih dari satu tahun, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pap smear untuk mendeteksi ada tidaknya kanker serviks. Bila ditemukan ada kelainan, maka dokter akan melakukan biopsi. Biopsi ini sebaiknya dilakukan sebelum hamil karena jika saat hamil dilakukan biopsi, ibu bisa mengalami nyeri atau kram yang hebat. 

4. Tes penyakit kelamin

Beberapa ahli medis menyarankan wanita untuk tes penyakit kelamin terlebih dahulu sebelum memutuskan hamil. Hal ini untuk mengetahui apakah ada penyakit kelamin yang diidap atau tidak, misalnya seperti klamidia atau bahkan HIV-Aids. Klamidia sendiri bisa menghambat proses pembuahan, jadi bila tahu sebelum hamil, maka bisa diobati terlebih dahulu. HIV tentu sangat berbahaya karena akan menular ke bayi selama proses hamil, jadi sebelum hamil tentu harus tahu dulu mengenai status ini.

5. Tes gula darah

Mengetahui kadar gula darah bagi wanita yang tidak menderita diabetes penting dilakukan sebelum hamil. Apalagi wanita yang punya diabetes, hal ini tentu menjadi kewajiban. Diabetes dapat menyebabkan komplikasi selama kehamilan, yaitu dapat menyebabkan bayi lahir dengan kdar gula darah yang rendah, bayi besar, bahkan kematian.

Persiapkan kehamilan Anda sebaik mungkin
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa tes yang dianjurkan untuk dilakukan sebelum memutuskan mengikuti program hamil. Semuanya demi kebaikan dan kesehatan ibu beserta janinnya. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com
Selamat siang, Sobat Bidan!

Skrining IVA untuk deteksi kanker serviks
Sobat Bidan sudah pernah dengar tentang IVA? Ya, ini merupakan skrining sederhana untuk mendeteksi kanker rahim pada wanita. Karena penyakit ini masih jadi momok nomor satu pembunuh wanita, maka sebaiknya kita bisa mencegah atau setidaknya mendeteksi dini penyakit ini.

Apa itu IVA? Siapa saja yang harusnya melakukan IVA? Simak ulasan selengkapnya sampai habis, ya!

IVA adalah?

IVA merupakan kependekan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat, merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker serviks sedini mungkin.

Kelebihan IVA dengan pemeriksaan pap smear adalah lebih murah, praktis, dan sangat mudah dilakukan karena hanya menggunakan alat sederhana oleh tenaga medis selain dokter ginekologi sekalipun.

Bagaimana penatalaksanaan skrining IVA?

Berikut adalah langkah-langkah bila Sobat Bidan melakukan skrining IVA :

  • Akan diberi penjelasan terlebih dahulu tentang IVA dan prosedur pemeriksaan dengan privasi yang terjaga
  • Berbaring dengan posisi litotomi (kedua lutut ditekuk dan kaki membuka lebar)
  • Vagina akan dilihat terlebih dahulu secara visual, apakah ada kelainan atau tidak
  • Vagina akan dimasuki alat yang bernama spekulum steril (cocor bebek pelebar vagina) yang berfungsi untuk melihat leher rahim
  • Bila ada cairan yang menumpuk di leher rahim, maka akan digunakan kapas steril untuk menyerapnya
  • Larutan asam asetat 3-5℅ akan diteteskan ke leher rahim dengan menggunakan pipet dan reaksinya sudah bisa dilihat kurang dari 1 menit saja
  • Bila warna leher rahim berubah jadi keputih-putihan, itu merupakan tanda kemungkinan positif kanker, dan jika leher rahim tidak berubah warna menjadi putih berarti hasilnya negatif
Kapan sebaiknya IVA ini dilakukan?

WHO telah memberikan jadwal tersendiri mengenai skrining deteksi dini kanker serviks pada perempuan, yaitu :
  • Skrining pada setiap perempuan minimal 1x di usia 35-40 tahun
  • Lakukan setiap 10 tahun sekali pada usia 35-55 tahun bila fasilitas memungkinkan, akan lebih baik setiap 5 tahun sekali
  • Anjuran untuk melakukan skrining ini di Indonesia adalah 1 tahun bila hasil tes positif, dan 5 tahun bila hasilnya negatif
  • Idealnya dilakukan setiap 3 tahun pada perempuan usia 25-60 tahun
Syarat untuk mengikuti IVA?

Adapun perempuan yang sebaiknya melakukan tes ini adalah dengan syarat sebagai berikut  :
  • Perempuan yang sudah pernah dan aktif melakukan hubungan seksual
  • Tidak sedang hamil
  • Tidak sedang menstruasi
  • Tidak melakukan hubungan seksual 24 jam sebelumnya
Di mana melakukan IVA?

IVA bisa dilakukan di fasilitas kesehatan yang sudah terdapat peralatan untuk itu. Bisa juga dilakukan di klinik bidan atau dokter kandungan, juga dokter umum.

Sayangi rahimmu
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal yang harus Sobat Bidan tahu tentang IVA. Jadi, jangan tunggu lama-lama lagi, ya. Yuk, segera periksa!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com

Selamat siang, Sobat Bidan!


KB suntik masih menduduki peringkat pertama pemakaian. Angka ini mencapai 47% dibanding KB implan dan IUD. Padahal, jika dibandingkan kedua KB ini, KB suntik masih kalah tingkat efektivitasnya. Nah, untuk Sobat Bidan yang ingin memakai KB suntik 3 bulan, ada baiknya untuk mengetahui beberapa hal ini dulu. Simak sampai selesai, ya.

Apa itu KB suntik 3 bulan?

KB suntik 3 bulan merupakan kontrasepsi yang diberikan setiap 3 bulan sekali melalui injeksi. Isinya merupakan hormon progestin saja, tanpa estrogen. Jadi, ini merupakan metode KB hormonal. Hormon progestin nantinya akan dilepas ke dalam pembuluh darah, dan akan berangsur menurun sampai tahap penyuntikan selanjutnya. Untuk injeksi sendiri biasa dilakukan di bagian pantat, lengan atas, atau paha.

Bagaimana cara kerjanya?

Cara kerja kontrasepsi suntik 3 bulan ini adalah :

  • Menghentikan pelepasan sel telur ke dalam rahim, sehingga tidak terjadi pembuahan
  • Mengentalkan cairan vagina sehingga menghambat masuknya sperma
  • Menipiskan dinding rahim sehingga proses penempelan hasil pembuahan tidak berhasil
Apa kelebihan dan kekurangan KB suntik 3 bulan?

Mengenai kelebihan KB suntik 3 bulan, berikut di antaranya :
  • Tidak berpengaruh pada ASI. Jadi, ibu menyusui aman memakai KB ini
  • Tidak perlu menggunakan obat-obatan lain
  • Bisa mengurangi timbulnya kanker ovarium dan kanker rahim
  • Tidak perlu repot berhitung saat hendak berhubungan seksual
  • Tidak perlu mengingat-ingat seperti KB pil
  • Jika ingin berhenti, tidak perlu repot. Tinggal berhenti saja melakukan penyuntikan
Tidak berpengaruh pada ASI
Berikut di antara kekurangan KB suntik 3 bulan :
  • Memerlukan waktu satu tahun setelah pelepasan untuk kembali subur. KB ini tidak cocok untuk pasangan yang ingin segera mempunyai anak
  • Menimbulkan efek samping, seperti : pusing kepala, kenaikan berat badan, payudara nyeri, mens tidak teratur, dan perdarahan
  • Tidak mencegah dari penularan infeksi menular seksual, karenanya perlu memakai kondom
  • Dapat mengurangi kepadatan tulang, namun akan kembali normal setelah pelepasan
Siapa yang tidak dibolehkan memakai KB suntik?

Wanita yang memiliki kontraindikasi untuk melakukan KB suntik 3 bulan, yaitu :
  • Wanita dengan gangguan migrain, gangguan hati, pembekuan darah, riwayat penyakit jantung, penderita diabetes, kanker payudara, berisiko mengalami osteoporosis, dan mengalami perdarahan saat menstruasi
  • Wanita yang diduga hamil
  • Wanita yang siklus menstruasinya ingin tetap teratur
KB suntik 3 bulan membuat mens tidak teratur
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal mengenai KB suntik 3 bulan yang perlu Sobat Bidan tahu. Bagaimana, sudah ada gambarannya? Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com