Selamat siang, Sobat Bidan!


Angka Kematian Bayi masih menjadi PR besar bagi para tim medis. Khususnya pada bayi baru lahir, kejadian kematian bayi masih sering dialami. Utamanya di negara-negara berkembang, AKB dan AKI masih perlu ditekan agar semakin berkurang.

Bayi baru lahir atau neonatus memang masih sangat rentan sekali keadaannya. Salah sedikit saja, bisa membahayakan si kecil. Namun, ada 3 hal yang menjadi penyebab kematian terbesar bagi bayi baru lahir. Apa saja tiga hal itu? Simak sampai habis ya, Sobat Bidan!

1. Asfiksia (gagal napas)

Asfiksia biasanya terjadi pada bayi baru lahir yang disebabkan karena adanya gangguan susunan saraf pusat yang mengakibatkan paru-paru gagal bernapas. Faktor yang menyebabkan asfiksia pada bayi baru lahir juga banyak sekali, di antaranya adalah stres janin yang bisa terjadi karena ibu yang juga mengalami stres saat hamil. Asfiksia biasanya juga dialami pada bayi yang lahir kurang bulan (premature). Hal ini disebabkan karena belum matangnya organ pernafasan bayi. 

Akan kita bahas lebih lanjut tentang asfiksia pada bayi baru lahir ini di postingan selanjutnya, ya.

2. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Penyebab kematian bayi baru lahir selanjutnya adalah kasus BBLR pada bayi. Ini pun banyak sekali faktor penyebabnya, di antaranya adalah umur ibu yang terlalu muda (di bawah 20 tahun) atau terlalu tua (di atas 35 tahun). Ibu dengan umur yang tidak diperkenankan hamil lagi cenderung akan mengalami berbagai komplikasi kehamilan yang dapat menyebabkan berat bayi lahir rendah.

Hal ini tentu bisa dicegah dengan pemenuhan nutrisi dan gizi yang adekuat selama kehamilan, juga menjaga kesehatan ekstra bagi ibu. Bayi kurang bulan juga berisiko mengalami BBLR saat lahir.



3. Infeksi dan komplikasi dini pada saat lahir

Faktor penyebab kematian bayi baru lahir yang lain adalah infeksi dan komplikasi dini yang terjadi pada bayi. Indonesia sendiri merupakan negara dengan tingkat kematian ibu terbesar di Asia Tenggara. Tak kurang 10.000 ibu meninggal karena komplikasi yang terjadi selama kehamilan hingga persalinan. 

Kematian ibu erat kaitannya dengan kematian bayi. Infeksi pada bayi baru lahir berisiko lebih besar pada bayi-bayi premature dan BBLR. Misalnya saja karena infeksi bakteri sejak dari dalam rahim, infeksi tali pusat, serta komplikasi-komplikasi lainnya. 

Nah, itu dia Sobat Bidan, 3 penyebab paling besar kematian pada bayi baru lahir. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pixabay
Selamat sore, Sobat Bidan!


Sobat Bidan tentu pernah mendengar mitos atau istilah mutih, ya? Mutih merupakan tata cara makan minum dengan yang serba putih-putih dan direbus. Misalnya nasi putih, tahu tempe rebus, sayur rebus, dan air putih. Hal ini bagus untuk diet ya, tapi masyarakat kita kadang masih keliru menerapkan.

Mutih ini diterapkan pada ibu-ibu yang baru saja melahirkan selama masa nifas mereka atau 40 hari. Alasannya adalah agar tubuh sang ibu kembali singset ke bentuknya semula sebelum hamil. Namun, apakah mitos ini dibenarkan?

Tentu saja hal ini sangat salah, salah kaprah malah. Ibu nifas dilarang makan ikan, telur, katanya itu akan memperlama proses mengeringnya jahitan. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Protein dalam ikan dan telurlah yang akan mempercepat tumbuhnya jaringan baru. Karena alasan ini banyak ibu pasca melahirkan yang dipaksa untuk mutih oleh orangtua-orangtua mereka.

Makan makanan rebus yang itu-itu saja tentunya tidak akan bisa mencukupi gizi seorang ibu nifas. Bila kekurangan gizi, yang terjadi pada ibu nifas adalah terganggunya proses evolusi atau pemulihan organ-organ yang berperan selama melahirkan dan kehamilan. Selain itu, pengeluaran ASI juga menjadi terganggu karena kurangnya asupan gizi tadi. Tentunya ini akan merugikan ibu juga si kecil.

Supaya lebih jelas, berikut adalah daftar kebutuhan gizi dan nutrisi bagi ibu nifas.

1. Karbohidrat

Karbohidrat berfungsi sebagai sumber tenaga atau energi dalam tubuh untuk pembakaran atau pertumbuhan jaringan baru. Karbohidrat dapat diperoleh dari nasi, gandum, singkong, kentang, ubi, dll. Seorang ibu nifas yang terpenuhi menjadi fit dan tidak akan mudah letih. Tentunya ini akan sangat diperlukan karena mengurus bayi merupakan sesuatu yang melelahkan.

2. Protein

Berfungsi sebagai zat pembangun tubuh yang meregenerasi sel baru, protein sangat dibutuhkan ibu nifas untuk mempercepat keringnya jahitan dalam persalinan. Selain itu, protein hewani maupun nabati juga sangat berperan penting untuk kelancaran ASI. Protein dapat diperoleh dari tempe, tahu, telur, daging, udang, hati ayam, ikan, dll.



3. Vitamin

Zat ini bermanfaat untuk antibodi tubuh dari berbagai serangan kuman penyakit. Selain itu, vitamin berfungsi juga untuk memperlancar metabolisme dalam tubuh. Vitamin yang dibutuhkan ibu nifas adalah vitamin A,D,E,B,C dan K. Sumbernya dari bermacam sayur, buah, bahkan daging yang jelas tidak akan terpenuhi apabila ibu melakukan tradisi mutih.

4. Mineral

Mineral berupa fosfor, kalsium, dan zat besi sangat diperlukan ibu nifas agar terhindar dari anemia serta untuk menguatkan tulang dan gigi. Mineral bisa didapat di sayuran hijau, ikan, hati, dan daging yang diolah dengan olahan bermacam-macam.



5. Cairan

Seorang ibu yang sedang menyusui harus terpenuhi asupan cairan dalam tubuhnya. Ini supaya ASI yang keluar juga lancar sehingga kebutuhan bayi terpenuhi. Cairan yang dianjurkan adalah sekitar 1,5 - 3 liter per harinya. Ini bisa didapat dari minum air putih, atau air yang ada di buah maupun sayur.

Nah, itu dia Sobat Bidan, nutrisi yang harus dipenuhi selama nifas. Porsi yang ideal bagi ibu nifas yang menyusui adalah makan setara dengan 7 piring per harinya. Ini tentu demi kebaikan ibu dan terpenuhinya gizi si kecil.

Jadi, tradisi mutih selama nifas adalah suatu kesalahan. Alih-alih tubuh akan kembali langsing, yang ada ibu nifas hanya akan jatuh sakit dan bayi rewel karena lapar. Jangan dilaksanakan lagi ya, Sobat Bidan.

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Serba-serbi water birth
Pasti Sobat Bidan sudah pernah mendengar istilah water birth, ya. Yup, ini merupakan metode melahirkan yang dilakukan di dalam air. Saat ini, water birth sedang menjadi trend melahirkan tanpa rasa sakit di kalangan ibu-ibu hamil. 

Sobat Bidan tertarik untuk melakukannya? Sebelum mengambil keputusan, alangkah baik jika Sobat Bidan tahu dulu apa saja manfaat dan risiko dari water birth ini. Simak postingan ini sampai selesai, ya.

Manfaat Water Birth

Beberapa manfaat dari melahirkan di dalam air ini, antara lain :

  • Dapat mengurangi rasa sakit karena air hangat yang digunakan dapat membuat ibu berelaksasi. Jika ibu dapat rileks saat menghadapi proses persalinannya, maka hormon endorfin akan mengalir. Hormon inilah yang akan meredakan nyeri pada ibu
  • Ibu dapat lebih leluasa bergerak sehingga bisa memilih posisi mana saja yang diinginkan saat persalinan nanti
  • Dapat membuat kontraksi rahim lebih efisien dan melancarkan sirkulasi darah sehingga aliran oksigen ke otot rahim menjadi maksimal, begitu pun oksigen yang dialirkan ke janin. Hal ini akan mengurangi rasa sakit ibu
  • Air dapat membuat otot perineum lebih elastis dan santai sehingga mengurangi risiko robekan perineum dan tindakan episiotomi (merobek jalan lahir dengan sengaja atas indikasi tertentu)
  • Air merupakan lingkungan yang hampir sama dengan keadaan di dalam kandungan yang dipenuhi air ketuban, sehingga kemungkinan dapat mengatasi stres pada bayi saat dilahirkan dan meningkatkan rasa nyaman untuknya
Water birth membuat ibu lebih rileks
Risiko Water Birth

Dari berbagai manfaat seperti yang telah disebutkan di atas, ada juga beberapa risiko yang mungkin bisa terjadi dalam proses melahirkan di air ini. Berikut di antaranya :
  • Infeksi pada ibu dan bayi. Hal ini menjadi pro kontra dengan dalih jika kesterilisasian dijaga dengan benar, maka risiko infeksi tidak akan terjadi
  • Ditakutkan bayi akan bernapas dalam air sehingga air akan terhirup. Hal ini sebenarnya tidak perlu dikuatirkan karena bayi baru lahir tidak akan langsung bernapas. Selama tali pusat belum dipotong, maka bayi masih akan mendapat pasokan oksigen dari plasenta
  • Potensi tali pusat terpuntir, tertekuk atau bahkan putus lebih dulu jadi kekuatiran selanjutnya. Ini akan berbahaya bagi bayi bila dia belum diangkat dari air. Diperlukan kehati-hatian yang optimal saat mengangkat bayi dari air ke dada ibu untuk menjaga keutuhan tali pusat ini
Itu dia beberapa manfaat dan risiko water birth. Selain itu, ada beberapa syarat diperbolehkannya seorang ibu melahirkan dengan metode water birth. Berikut di antaranya :
  • Kondisi ibu dan kehamilannya benar-benar sehat dan normal
  • Tidak menderita penyakit infeksi menular seperti HIV Aids, hepatitis, dan herpes
  • Kehamilan sudah cukup bulan (bukan premature)
  • Ketuban belum pecah saat memasuki air
  • Ukuran panggul ibu normal dan tidak ada kelainan fisiologis lainnya
Adapun syarat bagi janin antara lain :
  • Posisi bayi normal (presentasi kepala, ubun-ubun kecil), bukan posisi lintang atau sungsang
  • Bayi tunggal. Kehamilan kembar tidak dianjurkan melahirkan secara water birth
Selain kedua syarat di atas, air yang digunakan sebagai sarana melahirkan pun memiliki syarat tertentu, di antaranya harus steril dan dalam suhu yang sesuai (antara 36,5 - 37, 5 derajat celcius). Waktu yang tepat untuk masuk ke dalam kolam juga harus dipertimbangkan, dianjurkan setelah ibu memasuki pembukaan enam

Kondisi ibu dan kandungan harus normal
Nah, itulah serba-serbi water birth yang harus Sobat Bidan tahu sebelum memutuskan untuk menggunakan metode tersebut. Sudah ada gambaran, kan? Intinya, metode ini akan berhasil bila semua aspek terpenuhi dan berhati-hati. Sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mengambil keputusan, ya. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Hamil ektopik?
Apa itu kehamilan ektopik?

Pernahkah mendengar tentang hamil ektopik? Hamil ektopik merupakan kehamilan yang terjadi di luar rahim, bisa di tuba falopii, ovarium, atau pun leher rahim.

Dalam proses normalnya, sel telur yang dibuahi akan menetap di tuba selama 3 hari. Karena faktor-faktor tertentu, hasil pembuahan ini akan menempel di tuba dan tidak beralih ke rahim. Jika hal ini terjadi maka akan terjadilah kehamilan ektopik tadi.

Apa penyebabnya?

Biasanya, organ yang paling sering jadi tempat bertumbuh kembang janin selain rahim adalah tuba falopii. Hal ini disebabkan karena ada peradangan, inflamasi, atau rusaknya organ tuba falopii sehingga menghalangi sel telur yang telah dibuahi untuk masuk ke rahim.

Selain itu, kadar hormon yang tidak seimbang atau perkembangan abnormal sel telur yang dibuahi bisa menjadi pemicu kehamilan ektopik tersebut.

Apa saja faktor risikonya?

Beberapa faktor ini bisa menjadi risiko kehamilan ektopik, antara lain :

  • Pemakaian KB IUD atau spiral. Penggunaan spiral memang efektif untuk mencegah kehamilan. Namun, bila terjadi kebobolan, hal ini memicu terjadinya hamil ektopik karena adanya IUD yang menghalangi penempelan hasil nidasi di rahim.
  • Infeksi atau inflamasi. Wanita yang pernah mengalami infeksi atau inflamasi seperti penyakit radang panggul, atau infeksi serviks akibat penyakit menular seksual seperti gonorhae, berisiko lebih besar mengalami hamil ektopik karena ada sumbatan di tuba yang menghalangi hasil konsepsi menuju rahim.
  • Pernah mengalami hamil ektopik sebelumnya. Wanita yang pernah mengalami hamil ektopik sebelumnya berisiko lebih besar untuk mengalami hamil ektopik lagi.
  • Masalah kesuburan dan cara pengobatannya terkadang bisa memicu terjadinya hamil ektopik.
  • Proses sterilisasi atau sebaliknya, hal ini berkaitan dengan KB steril seperti tubektomi yang mengikat tuba falopii. Jika prosedurnya dilakukan tidak sempurna, hal ini bisa memicu terjadinya kehamilan ektopik.

Bagaimana tanda gejalanya?

Kehamilan ektopik sama dengan kehamilan biasa, tanda gejala awalnya pun bisa jadi sama sehingga ibu tidak sadar bahwa kehamilan tersebut sebenarnya abnormal. Namun begitu, ada tanda-tanda spesifik yang membedakan antara kehamilan normal dengan hamil ektopik, berikut di antaranya :

  • Nyeri di tulang panggul
  • Perdarahan yang terjadi di vagina
  • Sakit pada perut bagian bawah, biasanya terjadi di salah satu sisi
  • Mual muntah disertai rasa nyeri
  • Pusing, lemas
  • Nyeri pada bahu
  • Jika tuba falopi sobek, akan memunculkan perdarahan hebat yang bisa sampai menghilangkan kesadaan
  • Merasa sakit dan tekanan nyeri pada anus saat BAB

Penegakan diagnosa

Untuk mengetahui apakah yang dialami ibu merupakan kehamilan ektopik atau bukan, maka dibutuhkan rangkaian pemeriksaan. Selain USG, yang harus diperiksa juga darah dan kadar HCG. USG yang dilakukan pun merupakan USG transvaginal. 

Namun, hal ini baru bisa dilakukan ketika kehamilan sudah mencapai umurnya. Jika masih  di awal-awal sekitar usia 5-6 minggu, tim medis akan melakukan pemeriksaan darah dan HCG. Pada kehamilan ektopik, HCG yang dihasilkan biasanya lebih sedikit dari kehamilan normal.

Penanganannya bagaimana?

Jika diketahui mengalami kehamilan ektopik, ibu harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan. Karena jika tidak dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan fatal untuk ibu.

Jika pada tuba tidak ada pertumbuhan janin yang terdeteksi, maka akan dilakukan suntik methotexrate untuk menghancurkan sel-sel yang sudah terbentuk. Jika setelah diinjeksi kadar HCG masih tinggi, maka suntikan methotexrate akan kembali dilakukan. 

Langkah yang lain adalah dengan operasi laparoskopi. Tuba falopii yang ditempati jaringan hamil ektopik akan diperbaiki jika memungkinkan.

Apa saja komplikasinya?

Jika kehamilan ektopik terlambat ditangani, maka ibu dapat mengalami komplikasi seperti pecahnya tuba atau rahim yang dapat mengakibatkan perdarahan di dalam tubuh. Hal ini sangat berbahaya dan berujung fatal pada kematian ibu.

Jika sudah seperti ini, maka harus dilakukan operasi besar untuk memperbaiki tuba jika masih bisa, meski pada umumnya tuba falopii harus diangkat. Penanganan dengan pembedahan pun mempunyai komplikasi tersendiri seperti akan terjadinya perdarahan, infeksi, dan rusaknya bagian di sekitar organ yang dioperasi. 


Pencegahan?

Tidak ada cara khusus untuk mencegah kehamilan ektopik ini. Jika ingin mencegah, maka yang harus dicegah adalah faktor risikonya seperti yang sudah disebutkan di atas.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal mengenai kehamilan ektopik. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar)

Pic by : Pixabay