Selamat siang, Sobat Bidan!
Selamat memperingati hari HIV-Aids sedunia!

Can we stop HIV?
HIV-Aids masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kita semua, ya. Virus ini perlahan tapi pasti akan menggerogoti sistem imun tubuh dan membuat penderitanya 'mati pelan-pelan.' Semua orang berisiko menderita virus ini, karenanya kita harus benar-benar menjaga diri darinya. Cara yang sudah sangat dikenal adalah dengan tidak gonta-ganti pasangan, setia pada satu pasangan, memakai kondom, hati-hati saat menggunakan jarum suntik, dan jauhi narkoba.

Tak hanya menyerang orang dewasa, virus HIV juga bisa menyerang bayi. Ibu dengan HIV, 80% akan melahirkan bayi dengan infeksi HIV juga karena penularannya pada saat kehamilan, persalinan, bahkan saat menyusui. Miris sekali, bukan? Namun, sekarang sudah ditemukan cara dan pengobatan untuk mencegah janin tertular infeksi HIV dari ibu yang positif HIV sejak masih dalam kandungan.

Bagaimana caranya? Simak sampai habis, ya.

Yang pertama, bila dari hamil si ibu sudah ketahuan positif HIV, maka selama kehamilan dia wajib mengkonsumsi ARV. ARV ini berfungsi untuk mengurangi risiko bayi tertular virus HIV juga. Kemudian setelah bayi lahir, akan segera dilakukan upaya pencegahan penularan, yaitu dengan memberi profilaksis ARV pada bayi sampai 6 minggu. Tentunya, ibu juga masih harus terus mengkonsumsi ARV.

Hal ini dikarenakan, seorang bayi belum bisa diperiksa apakah ia tertular HIV atau tidak sebelum lebih dari 6 minggu. Jadi, selama itu bayi harus diberi profilaksis. Setelah berumur 6 minggu bayi akan diperiksa menggunakan PCR yang disebut early infant diagnosis. Apabila hasil pemeriksaan ini menunjukkan bayi negatif ARV, maka penggunaan profilaksis ARV akan dihentikan. Bayi sudah bisa diimunisasi seperti biasa.

Selamatkan si kecil dari HIV
Tapi, pemeriksaan akan terus berlanjut sampai usia bayi mencapai 18 bulan, dengan jadwal empat minggu sekali diperiksa. Bila sudah berumur 18 bulan dan hasilnya adalah negatif HIV, berarti bayi tersebut bebas dari virus ini. Karena di umur yang sudah mencapai 18 bulan, sistem imun di tubuh bayi sudah bekerja secata sempurna.

Itu dia, Sobat Bidan, cara pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi. Sobat Bidan bisa memberitahukan informasi ini pada mereka yang terinfeksi HIV dan sedang mengandung. Ingat, kita hanya harus menjauhi penyakitnya, bukan menjauhi orangnya!

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik, dan saran silakan tinggalkan di kolom komentar)

Pic by :
Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Serba-serbi IUD
Sobat Bidan pasti sudah tidak asing lagi dengan KB spiral, ya? KB ini disebut juga IUD (Intra Uterine Device) atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim). Beberapa wanita terkadang takut menggunakan IUD, karena pemasangannya di dalam rahim yang terkesan 'ngeri'. Padahal, sebenarnya IUD ini merupakan kontrasepsi jangka panjang yang sangat efektif sekali untuk mencegah terjadinya kehamilan.

Nah, sebelum memutuskan untuk menggunakannya, ada baiknya jika Sobat Bidan berkenalan dulu dengan kontrasepsi berbentuk T ini. Simak sampai selesai, ya!

Apa itu IUD?

IUD atau spiral adalah alat kontrasepsi jangka panjang yang berbentuk T dan berbahan plastik yang dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan. 

Macam IUD

IUD ada 2 macam, yaitu IUD non-hormonal (dilapisi tembaga, coper T) dan IUD progesterone. IUD non-hormonal bisa digunakan dalam jangka waktu 10 tahun, sedang IUD progesterone bisa digunakan antara 3-5 tahun, tergantung jenis dan mereknya. 

Namun daripada itu, IUD bisa dilepas kapan saja oleh tenaga kesehatan terlatih apabila ibu berencana untuk hamil. 

Tingkat efektifitas

IUD merupakan KB jangka panjang dengan alat yang sangat efektif dibanding yang lainnya. Selama beberapa tahun, hanya tercatat 1 banding 100 wanita pengguna IUD yang kebobolan. Selain itu, tingkat pengembalian (reversibilitas) keadaan pemakai IUD (dari memakai menjadi tidak) sangatlah mudah, tinggal dilepas sehingga langsung bisa hamil lagi (jika memakai yang non-hormonal).

Cara kerja IUD
  • IUD yang dilapisi tembaga (non-hormonal) akan mengentalkan lendir serviks hingga menyebabkan sperma kesulitan untuk membuahi sel telur
  • IUD progesterone juga akan mengentalkan lendir serviks. Selain itu juga menipiskan dinding rahim dan mencegah terjadinya ovulasi sehingga tidak akan terjadi pembuahan
Apakah melindungi dari PMS?

IUD tidak melindungi kita dari Penyakit Menular Seksual (PMS), bila pasangan menderita PMS, hendaknya memakai kondom saat berhubungan agar tidak tertular. Sebelum melakukan pemasangan, petugas akan memeriksa dengan pasti apakah kita memiliki PMS atau tidak. Jika memiliki penyakit menular seksual, kemungkinan pemasangan akan diurungkan karena bisa IUD yang dipasang pada penderita PMS bisa memicu terjadinya penyakit radang panggul (PRP).

kondom, melindungi kita dari PMS
Efek samping IUD

Biasanya, efek samping yang paling umum terjadi pada pengguna IUD adalah :
  • Menstruasi tidak teratur pada beberapa bulan pertama
  • Darah menstruasi lebih banyak dan dismenorea lebih terasa (IUD tembaga)
  • Menstruasi lebih singkat bahkan tidak mens sama sekali (IUD progesterone)
  • Timbul gejala PMS, seperti sakit kepala, jerawatan, nyeri pada payudara (IUD progesterone)
  • Biasanya pasangan akan mengeluh sakit saat berhubungan karena penis yang menyentuh benang IUD 
Selain itu, ada beberapa masalah bagi pengguna IUD, namun ini jarang sekali terjadi, antara lain :
  • Pengeluaran paksa. IUD keluar dengan sendirinya dari rahim, jarang sekali terjadi. Hal ini bisa dikarenakan posisi IUD yang bergeser atau berubah. Sobat Bidan dianjurkan untuk sering mengecek posisi IUD ini dengan cara mengecek benangnya. Lakukan dengan berjongkok, lalu masukkan jari ke dalam Miss V untuk meraba apakah benang masih di sana, berkurang atau tidak panjangnya. Setelah tiga bulan pemasangan, Sobat Bidan juga harus kembali ke tempat IUD dipasang untuk dicek apakah masih dalam posisi yang benar
  • Perforasi rahim. Perforasi atau perlukaan pada rahim yang disebabkan gesekan IUD. Hal ini sangat jarang terjadi
  • Penyakit radang panggul. Infeksi dapat saja terjadi saat pemasangan IUD yang menyebabkan bakteri masuk ke dalam rahim. Ini biasanya terjadi setelah 20 hari pemasangan. Jika benar terjadi, hal ini akan membuat wanita berisiko mengalami PRP. Namun, sekali lagi, kejadian semacam ini jarang sekali terjadi
Siapa yang bisa menggunakan IUD?

Semua wanita bisa memakai kontrasepsi ini. Utamanya, wanita yang masih produktif dalam usia subur dan dalam fase 'menjarangkan'. Artinya, dia sudah memiliki beberapa anak, namun masih berkeinginan untuk punya anak lagi dan usianya masih aman untuk hamil. 

Wanita baru menikah yang mungkin belum siap punya anak juga bisa memakai IUD non-hormonal. Karena selain efektifitasnya tinggi, cara pengembalian ke masa suburnya juga mudah. Jadi, saat dia sudah siap memiliki anak, tinggal dilepas saja.

Selain itu, wanita dengan hipertensi dan sedang menyusui juga bisa memakai IUD non-hormonal. Karena tidak mengandung hormon, kontrasepsi ini tidak akan berpengaruh pada tensi darah pemakainya dan tidak mempengaruhi produksi ASI.

Ibu menyusui bisa memakai IUD
Yang tidak dianjurkan memakai IUD


Wanita yang tidak dianjurkan memakai kontrasepsi ini, antara lain :

  • Wanita dengan penyakit radang panggul
  • Penderita PMS aktif
  • Wanita yang sedang hamil
  • Wanita yang mengalami perdarahan abnormal
  • Wanita yang memiliki masalah pada rahimnya seperti penyakit atau malformasi (bentuk rahim yang tidak sesuai)
Cara mendapatkan IUD?

Pemasangan IUD harus dilaksanakan oleh dokter obgyn atau bidan yang sudah mendapat sertifikasi pemasangan IUD. Sobat Bidan bisa datang ke rumah sakit atau Puskesmas untuk KB ini.

Harga?

Untuk harga IUD tergantung merek yang digunakan. Tapi, biasanya untuk IUD 3-5 tahun akan dikenai biaya sekitar 300 - 400 ribu, sedangkan IUD 10 tahun umumnya sekitar 500 - 600 ribu rupiah.

Informasi terbaru dari Bidan Vera, bagi Sobat Bidan yang memiliki BPJS, pemasangan kontrasepsi IUD tembaga (non-hormonal) ini juga ditanggung oleh BPJS. Sobat Bidan tidak perlu mengeluarkan biaya apabila melakukan pemasangan di tempat yang menyelenggarakan dan bekerja sama dengan BPJS. Begitu juga dengan KB implan.

Nah, itu dia Sobat Bidan, serba-serbi IUD yang harus Sobat Bidan tahu sebelum menggunakannya. Semoga postingan ini bermanfaat, ya!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar)

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Faktor tumbuh kembang pada anak
Tumbuh kembang yang normal pada anak tentu menjadi harapan kita semua, ya. Tapi, Sobat Bidan sudah tahu belum, kalau ada beberapa faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang si kecil itu. Langsung saja, yuk, kita bahas faktor-faktornya.

1. Faktor internal

Faktor dalam atau internal yang berpengaruh pada tumbuh kembang si kecil ini antara lain :

  • Ras, etnik, atau bangsa. Anak yang lahir di Indonesia dari kedua orangtua yang asli Indonesia tidak akan memiliki herediter ras atau etnik bangsa Amerika
  • Keluarga. Kecenderungan postur tubuh dalam keluarga bisa jadi dan sangat mungkin menurun pada si kecil. Misal, bila berasal dari anggota keluarga yang tinggi, kemungkinan anak juga akan tinggi
  • Umur. Tumbuh kembang yang paling pesat pada anak terjadi pada masa prenatal, tahun pertama kehidupannya, dan masa remaja
  • Jenis kelamin. Fungsi reproduksi pada anak perempuan akan lebih cepat daripada anak lelaki. Tapi, bila sudah masuk masa pubertas, pertumbuhan anak lelaki akan lebih pesat
  • Genetik. Merupakan bawaan yang akan menjadi ciri khas si kecil. Ada beberapa kelainan genetik yang mungkin saja berpengaruh pada tumbuh kembang anak, misalnya kekerdilan
  • Kelainan kromosom. Biasanya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti pada anak dengan Down Syndrom
2. Faktor eksternal

Tumbuh kembang pada si kecil juga dipengaruhi oleh beberapa faktor luar atau eksternal, yaitu sebagai berikut :

a. Faktor prenatal (masa kehamilan)
  • Gizi. Asupan nutrisi dan gizi seorang ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, terutama saat memasuki trimester tiga kehamilan. Jadi, gizi ibu hamil sangatlah penting untuk diperhatikan
  • Mekanis. Hal ini berkaitan dengan posisi janin di dalam perut. Posisi yang tidak normal bisa menyebabkan kelainan konginetal pada si kecil
  • Racun atau zat kimia. Kenapa ibu hamil tidak boleh sembarangan minum obat? Karena hal itu bisa berbahaya bagi janin. Obat-obatan seperti aminopterin dan thalidomid dapat menyebabkan kelainan bawaan pada janin, seperti bibir sumbing
  • Endokrin. Faktor ini berkaitan dengan ibu hamil. Seorang ibu yang misalnya mengalami diabetes gestasional, akan berpengaruh menyebabkan gangguan pada tumbuh kembang janin
  • Radiasi. Tahukah Sobat Bidan bahwa paparan sinar rontgen dan radium dapat mengakibatkan kelainan pada janin? Seperti mikrosefali, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan bawaan pada mata dan juga kelainan jantung
Jagalah kehamilan Anda
  • Infeksi. Bila ibu hamil terkena infeksi pada trimester pertama dan kedua, misal infeksi virus TORCH (Toksoplasma, Rubela, Sitomegalo Virus, dan Herpes Simplek), maka dapat membuat janin mengalami kelainan. Misalnya saja katarak, bisu tuli, mikrosefali, juga kelainan jantung
  • Kelainan imunologi. Hemolisis karena ketidakcocokan darah ibu dan bayi akan menyebabkan hiperbilirubin yang berakibat ikterus (bayi kuning). Ini bisa menyebabkan kerusakan jaringan otak pada si kecil
  • Anoksia embrio. Adalah gangguan fungsi plasenta (ari-ari) yang menyebabkan pertumbuhan janin terganggu
  • Psikologi ibu. Ibu yang mengalami stres saat kehamilannya sangat rentan berisiko melahirkan bayi premature dengan berat badan lahir yang rendah
b. Faktor persalinan

Komplikasi persalinan yang terjadi pada bayi seperti trauma kepala atau asfiksia (gagal napas), dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak dan menghambat tumbuh kembang si kecil.

c. Faktor pascasalin (setelah persalinan)

Setelah persalinan, banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Apa saja itu? Ini dia!
  • Gizi. Ini jelas berpengaruh sekali ya, Sobat Bidan. Gizi anak dalam masa tumbuh kembang harus adekuat agar tumbuh kembangnya berjalan normal
  • Penyakit kronis atau kelainan konginetal. Beberapa penyakit seperti TBC, anemia atau kelainan jantung bawaan tentu akan menghambat pertumbuhan jasmani anak
  • Lingkungan fisik dan zat kimia. Lingkungan yang kurang sehat seperti kurangnya sinar matahari, terpapar sinar radioaktif, zat kimia (merkuri, rokok, dll) akan berdampak buruk pada proses tumbuh kembang anak
  • Psikologis anak. Hal ini berkaitan dengan hubungan anak dengan orang di sekitarnya. Seorang anak yang misalnya saja tidak diinginkan oleh orangtuanya, tentu akan merasa tertekan. Ini tidak baik untuk tumbuh kembangnya
  • Endokrin. Gangguan hormon misalnya pada anak yang menderita hipotiroid, tentu akan terhambat proses bertumbuh dan berkembangnya
  • Sosio-ekonomi. Kehidupan ekonomi orangtua akan berpengaruh pada pertumbuhan anak. Misal orangtua yang kesulitan memenuhi gizi anaknya, maka tentu tumbuh kembang anak akan terganggu
  • Lingkungan pengasuhan. Interaksi antara anak dan ibu akan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Ibu yang selalu aktif bercengkrama dengan anaknya, tentu si anak akan jadi lebih cepat bisa berbicara ketimbang anak yang ibunya pasif
  • Stimulasi. Tumbuh kembang memerlukan stimulasi atau rangsangan dari keluarga, misal dengan adanya alat-alat untuk si kecil bermain yang akan merangsang tumbuh kembangnya
  • Obat-obatan. Beberapa obat dapat menghambat produksi hormon pertumbuhan, seperti obat perangsang terhadap susunan saraf anak

Nah, itu dia Sobat Bidan, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi baik tidaknya pertumbuhan si kecil. Semoga postingan ini bermanfaat, ya.

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Masalah menyusui pada masa nifas
Masa nifas adalah masa 40 hari setelah melahirkan. Pada masa ini, kemungkinan akan muncul berbagai masalah yang bisa saja menyulitkan ibu. Masalah yang biasa terjadi, khususnya bagi ibu baru adalah masa menyusui.

Masalah menyusui ini bisa saja terjadi dalam dua tahap, yaitu pada masa nifas dini atau masa nifas lanjut. Apa saja masalah menyusui yang dapat terjadi di masa nifas ini? Simak ulasan berikut, yuk!

1. Masalah menyusui pada masa nifas dini

Masalah yang biasa terjadi pada masa nifas dini (2 minggu pertama) antara lain puting susu terasa nyeri. Bila ini terjadi, maka yang harus dilakukan :

  • Pastikan posisi menyusui sudah benar
  • Mulai menyusui pada puting susu yang tidak nyeri
  • Setelah selesai menyusui, keluarkan sedikit ASI dan oleskan pada puting yang nyeri tadi
Selain itu, kadang puting susu juga lecet di masa nifas dini. Puting susu bisa jadi lecet karena penanganan nyeri pada puting yang tidak benar, kadang sampai mengeluarkan darah. Bisa juga disebabkan karena paparan sabun, krim, atau alkohol. Teknik menyusui dan melepas puting yang kurang tepat juga bisa jadi penyebabnya. 

Yang harus dilakukan bila terjadi puting susu lecet adalah :
  • Susukan bayi pada puting yang tidak lecet
  • Jangan menggunakan bahan-bahan seperti sabun, alkohol, dll
  • Setelah selesai menyusui, oleskan ASI pada puting yang lecet, kemudian angin-anginkan
  • Oles minyak kelapa pada puting yang lecet
  • Susuilah bayi lebih sering antara 8 - 12 kali dalam sehari
Perhatikan cara menyusui yang benar
Masalah lain yang dapat terjadi pada masa nifas dini adalah payudara bengkak yang terjadi pada hari-hari pertama. Pada kasus ini, payudara akan terasa penuh dan nyeri. Ini bisa terjadi karena posisi menyusui yang salah, ASI keluar berlebih, terlambat menyusui, atau waktu yang terbatas untuk menyusui.

Bila terjadi pembengkakan payudara, maka yang harus dilakukan adalah :
  • Susui si kecil secara on demand (tiap mau menyusu langsung disusui) dan sesering mungkin
  • Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa ASI
  • Lakukan kompres hangat dan masase payudara sebelum menyusui untuk merangsang oksitosin
  • Kompres payudara dengan air dingin setelah selesai menyusui untuk mengurangi bengkak
Masalah lain adalah mastitis atau radang payudara. Ini bisa terjadi karena pemakaian bra yang terlalu ketat dan merupakan komplikasi dari bengkak payudara. Ibu yang kurang nutrisi dann istirahat sehingga daya tahan tubuhnya lemah pun bisa terkena mastitis. 

Tanda mastitis adalah payudara radang dan nyeri, merah, keras, sakit, serta ibu mengalami demam. Hal yang harus dilakukan bila terjadi mastitis antara lain :
  • Susuilah bayi pada payudara yang sakit untuk mengurangi rasa sakit
  • Kompres payudara dengan air hangat
  • Cukup istirahat dan minum air putih kira-kira 2 liter per hari
  • Pakailah bra yang longgar
  • Bila dalam 12 jam belum sembuh juga, konsumsi analgetik dan antibiotik selama 5-10 hari
Apabila mastitis tidak segera ditangani, maka akan menjadi abses payudara. Pada kasus ini, payudara akan terlihat lebih merah, nyeri, mengkilap, keras, dan ibu masih demam. Jika ditekan akan terasa lunak karena abses ini berisi nanah. Keluarkan ASI pada payudara yang mengalami abses, dan jangan susukan pada si kecil. Segera bawa ke faskes terdekat untuk penanganan. 

2. Masalah menyusui pada masa nifas lanjut

Pada masa nifas lanjut (lebih dari 4 minggu), masalah yang biasanya terjadi adalah sindrom ASI kurang. Ini bisa terjadi karena faktor menyusui (frekuensi, perlekatan, dot botol), bisa juga karena faktor psikologis ibu. 

Berikut adalah ciri-ciri sindrom ASI kurang :
  • Bayi tidak puas dan sering menangis
  • Payudara kecil
  • Berat badan bayi naik kurang dari 500 gr per bulan
  • Berat badan bayi belum kembali dalam dua minggu
  • Bayi pipis kurang dari 6 kali dalam 24 jam

Masalah lain yang bisa saja muncul adalah pada ibu yang bekerja. Bekerja bukan suatu alasan untuk tidak memberikan ASI pada si kecil. Berikut cara memberi ASI pada bayi meskipun ibu bekerja :
  • Susui bayi sebelum berangkat kerja
  • ASI dipompa untuk persediaan di rumah
  • Kosongkan payudara di tempat kerja setiap 3 -4 jam sekali
  • Susui bayi sesering mungkin saat berada di rumah
  • Makan makanan yang bergizi selama di tempat kerja
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa masalah menyusui yang bisa saja terjadi pada kita semua di masa nifas. Tetap jaga kesehatan demi si kecil, ya. Semoga postingan ini bermanfaat.

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar)

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Dismenorea
Adakah yang sering mengalami nyeri perut saat menstruasi? Rasanya perut seperti diremas-remas dan sakit sekali. Hal ini tentu akan mengganggu aktivitas kita, ya. Dalam dunia kesehatan, ini disebut dismenorea.

Dismenorea sebenarnya adalah hal yang normal, selama nyeri tersebut tidak menimbulkan kegawatan yang bisa jadi fatal. Namun, ada juga dismenorea yang menjadi petunjuk adanya ketidaknormalan pada rahim seperti adanya penyakit dalam rahim. Pada postingan kali ini kita akan membahas tentang dismenorea tersebut, ya.

Apa itu dismenorea?

Dismenorea merupakan rasa nyeri kram pada bagian bawah perut sebelum atau selama periode haid yang demikian hebatnya sehingga bisa mengganggu kegiatan sehari-hari dan membuat wanita harus istirahat.

Ada dua macam dismenorea, yaitu :

1. Dismenorea primer
  • Adalah nyeri menstruasi tanpa adanya kelainan ginekologi yang nyata
  • Terjadi beberapa waktu setelah menarche (mens pertama), biasanya setelah 12 bulan atau lebih karena siklus di awal-awal mens biasanya tidak disertai rasa sakit
  • Nyeri sering terasa sebagai kejang rahim
  • Nyeri mulai timbul sebelum menstruasi dan meningkat pada hari pertama atau kedua
  • Pemeriksaan pelvik (rahim) normal
  • Biasanya disertai muntah, diare, kelelahan, dan sakit kepala
Faktor-faktor yang mempengaruhi dismenorea primer antara lain :

  • Faktor kejiwaan, bisa terjadi pada gadis remaja yang kondisi emosionalnya tidak stabil dan tidak mendapat penerangan yang jelas tentang menstruasi. Hal ini juga bisa menyebabkan insomnia
  • Faktor konstitusi, erat kaitannya dengan faktor kejiwaan tadi. Biasanya terjadi karena adanya penyakit menahun
  • Faktor endokrin. Hal ini disebabkan karena rahim berkontraksi berlebihan karena pada masa sekresi endometrium menghasilkan prostaglandin alfa 12 yang menyebabkan otot polos berkontraksi
  • Faktor alergi. Ini berhubungan dengan migrain atau asma bronkiale

Pengobatan

Dismenorea primer bisa diobati dengan anti-prostaglandin, atau dari golongan NSAID seperti aspirin, ibu profen dan asam mefenamat. Akan lebih manjur bila diminum sebelum nyeri perut tersebut datang.

2. Dismenorea sekunder
  • Adalah nyeri perut yang sering kali dikaitkan dengan adanya kelainan pada pelvik
  • Biasanya disebabkan oleh endometriosis (endometrium yang tumbuh di luar rahim), penyakit radang pelvis, neoplasma ovarium atau uterus, juga polip uterus
  • Bisa juga disebabkan oleh kontrasepsi IUD (spiral)
  • Nyeri perut terasa terus-menerus, dimulai saat haid dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah
  • Penderita merasakan sakit yang hebat bahkan bisa sampai pingsan
  • Lebih jarang ditemukan dan terjadi sekitar 25% pada wanita
  • Pengobatan harus ditujukan untuk mengobati penyakit yang menjadi penyebabnya
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi nyeri perut pada saat menstruasi :
  • Kompres bagian yang terasa kram dengan botol yang diisi air panas atau hangat
  • Mandi air hangat, boleh juga ditambah dengan aroma terapi untuk menenangkan diri
  • Minum minuman hangat yang mengandung kalsium tinggi seperti susu
  • Lakukan posisi menungging sehingga rahim tergantung ke bawah
  • Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan sebagai proses relaksasi
Relaksasi diri bisa mengurangi dismenorea
Nah, itu dia Sobat Bidan, macam-macam dismenorea dan penyebabnya. Jadi, sekarang sudah bisa mengidentifikasi bukan, dismenorea Sobat Bidan termasuk yang mana?

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar)

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Serba-serbi trimester dua kehamilan
Trimester dua kehamilan merupakan masa yang bisa dikatakan indah bagi ibu hamil. Di masa-masa ini, keeluhan di trimester pertama kemungkinan sudah hilang atau berkurang, dan ibu mulai menikmati kehamilannya.

Trimester kedua adalah masa kehamilan yang dimulai pada minggu ke-12 sampai minggu ke-24. Pada trimester, penambahan berat badan ibu rata-rata adalah 7,65 - 10,8 kg.  Pada akhir trimester dua, rahim akan membesar sampai kira-kira 7,6 cm di atas pusar.

Tanda-tanda fisik yang akan terjadi pada ibu setelah memasuki trimester dua kehamilan, antara lain :

  • Rahim (uterus) yang membesar dengan cepat sehingga bisa dirasakan bila diperiksa (ditekan) bagian perutnya
  • Berat badan naik
  • Payudara mulai membesar
  • Janin sudah bisa dilihat saat USG
Perubahan seksual

Meskipun ketertarikan dan aktivitas seksual di masa kehamilan bersifat individual dan sulit ditebak, tapi biasanya ibu hamil yang memasuki trimester dua akan mulai bergairah kembali. Hal ini disebabkan keluhan trimester awal yang sudah hilang, juga adanya hormon-hormon kehamilan yang mengalami peningkatan.
Libido meningkat di trimester dua
Selain itu, ada beberapa faktor lain yang berhubungan dengan aktivitas seksual pada ibu hamil, seperti :
  • Emosi
  • Perubahan fisik
  • Interaksi dengan pasangan
  • Budaya
  • Masalah disfungsi seksual
  • Takhayul atau mitos tentang berhubungan seks saat hamil
Perubahan psikologis

Di trimester kedua kehamilan, ibu akan menjadikan janin sebagai fokus utamanya. Hal ini akan tercermin dalam perilaku ibu, seperti :
  • Mulai memperhatikan kesehatan janin
  • Tertarik pada informasi mengenai perkembangan fetal
  • Bahagia, karena terjadi quickening (gerakan janin pertama kali)
  • Lebih mendekatkan hubungan dengan ibu kandungnya, dan pada wanita yang pernah atau sedang hamil. 
Ibu pun akan mulai merasakan pencitraan yang berbeda terhadap tubuhnya. Di awal kehamilan, ibu masih dapat melihat citra tubuhnya secara poditif. Namun, seiring perkembangan kehamilannya, ibu  mulai merasakan citra yang negatif (seperti BB yang semakin bertambah). 

Meski demikian, ibu tidak perlu kuatir karena hal demikian adalah wajar. Perasaan itu tidak akan mempengaruhi persepsi tentang diri ibu secara permanen karena sifatnya hanya sementara.

Ibu fokus pada janin
Perubahan psikologis yang dapat terjadi di trimester ini, di antaranya :
  • Ibu sudah mulai merasa sehat
  • Sudah bisa menerima kehamilannya
  • Merasakan gerakan bayi
  • Merasakan kehadiran bayi sebagai bagian di luar dirinya
  • Merasa terlepas dari ketidaknyamanan dan kekhawatiran
  • Perut belum terlalu besar sehingga tidak merasa sebagai beban
  • Libido dan gairah seksual meningkat
  • Hubungan sosial dengan sekitae meningkat
  • Ketertarikan dan aktivitas terfokus pada kehamilan, kelahiran, dan persiapan bayi baru
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal yang akan Sobat Bidan alami saat kehamilan sudah memasuki trimester dua. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran silakan tulis di kolom komentar).

Pic by : Pixabay