Selamat siang, Sobat Bidan!

Cegah kanker payudara!
Kanker payudara merupakan pembunuh nomor dua terbesar bagi wanita setelah kanker serviks. Hal ini tentunya membuat kita resah sekali, ya, Sobat Bidan. Sel kanker ini bisa menggerogoti siapa saja tanpa pandang bulu. Karenanya, berbagai macam pencegahan haruslah dilakukan.

Salah satu upaya yang bisa digunakan sebagai deteksi dini kanker payudara adalah dengan SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Ini mudah sekali dan sebaiknya memang dilakukan, ya. Bagaimana caranya? Kita bahas sama-sama, yuk!

  • Berdirilah di depan cermin dengan bahu tegak dan kedua tangan tergantung lepas (rileks saja).
  • Perhatikan apabila ada perubahan bentuk payudara dengan mengamatinya langsung dan dengan bercermin.
  • Amati kesimetrisan payudara kanan dan kiri
  • Amati bentuk payudara, apakah membesar atau mengeras
  • Amati puting, apakah lurus ke depan, berubah arah, atau tertarik ke dalam
  • Amati apakah ada lecet pada kulit puting 
  • Amati kulit payudara, apakah warnanya kemerahan, kebiruan, atau justru kehitaman
  • Amati permukaan kulit, apakah ada cekungan atau menebal seperti kulit jeruk
  • Kemudian, angkat kedua tangan ke atas dan amati apakah ada tarikan pada kulit payudara, lihat dari berbagai sudut
  • Setelah itu, letakkan kedua tangan di pinggang, busungkan dada, tarik kedua siku ke belakang, dan lakukan pengamatan ulang
  • Rabalah payudara dengan jari yang dirapatkan (telapak jari, bukan ujung jari), lakukan gerakan memutar membentuk lingkaran mulai dari tepi payudara sampai ke puting, hingga seluruh payudara teraba
  • Perhatikan apakah ada benjolan. Jika ada, amati seberapa besarnya, bergerak atau tidak, dan sakit atau tidak saat diraba
  • Lakukan hal yang sama pada payudara yang satunya
  • Selanjutnya pijat puting seperti hendak mengeluarkan ASI
  • Amati apakah ada cairan yang keluar atau tidak. Jika ada, perhatikan apakah warnanya jernih atau bercampur darah, sakit atau tidak saat dipijat
  • Terakhir, raba ketiak dan area sekitar payudara untuk mengetahui adanya benjolan yang diduga sebagai anak sebar kanker
Waktu yang tepat untuk melakukan SADARI adalah satu minggu sampai sepuluh hari setelah menstruasi. Karena, pada saat itu benjolan di payudara saat atau sebelum menstruasi (karena adanya peningkatan hormon) sudah hilang. Payudara sudah kembali seperti semula.

Selain itu, jangan meraba payudara dengan ibu jari dan jari telunjuk saja. Pakailah semua jari di telapaknya, bukan ujung jari. 

Jaga kesehatan ya, Sobat Bidan
Nah, itu dia Sobat Bidan, cara untuk melakukan SADARI. Lakukan rutin setiap bulan, ya, agar semua perubahan yang mungkin terjadi pada payudara bisa dideteksi sejak dini. Semoga postingan ini bermanfaat.

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Yuk, imunisasi!
Neonatus (bayi baru lahir dari usia 0-28 hari) masih sangat rentan terhadap berbagai virus dan bakteri penyebab penyakit. Karena itulah, penting bagi bayi untuk mendapat imunisasi dasar. Alasannya, karena ada beberapa penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi.

Ini disebut dengan PD3I atau Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi. Sobat Bidan sudah tahu, apa saja penyakit itu? Bagaimana tanda dan gejala yang terjadi pada bayi jika terserang penyakit tersebut? Simak ulasan ini, yuk!

1. Tuberkulosis (TBC)

Penyakit ini cukup sering terjadi pada bayi. Penyebabnya adalah virus Mycobacterium Tuberculosa. Untuk mencegah TBC, imunisasi yang dibutuhkan bayi adalah imunisasi BCG yang diberikan saat umur bayi kurang dari atau sama dengan dua bulan.

Tanda gejala bayi yang terkena tuberkulosis antara lain :

  • Badan lemah
  • BB menurun
  • Demam
  • Berkeringat di malam hari
  • Batuk terus-menerus
  • Nyeri dada
  • Batuk kadang disertai darah
2. Poliomyelitis

Poliomyelitis atau dikenal dengan istilah polio disebabkan oleh virus bernama Polio. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi polio yang diberikan pada saat bayi baru lahir, kemudian dilanjutkan pada usia 2-3 bulan sesuai jadwal imunisasi dasar.

Tanda bayi yang terkena polio, antara lain :
  • Lumpuh layu akut
  • Demam dan nyeri otot
  • Terjadi pada anak berusia kurang dari 15 tahun
3. Difteri

Difteri adalah infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir dan tenggorokan, juga kulit yang biasanya terjadi pada anak-anak. Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium Diphtheriae. Difteri bisa dicegah dengan imunisasi DPT. Imunisasi ini diberikan pertama kali saat bayi berumur dua bulan, kemudian dilanjutkan dengan interval tiap 4 minggu sekali. 

Imunisasi dapat mencegah penyakit
Gejala dan tandanya, adalah sebagai berikut :
  • Gelisah
  • Aktivitas anak menurun
  • Radang tenggorokan
  • Nafsu makan berkurang atau hilang sama sekali
  • Demam ringan
  • Dalam 2-3 hari timbul selaput putih kebiru-biruan pada tenggorokan dan tonsil
4. Pertusis (Batuk Rejan)

Pertusis biasa dikenal sebagai batuk rejan atau batuk 100 hari tidak berhenti-berhenti. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bordetella Pertusis. Imunisasi yang digunakan untuk mencegahnya adalah DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus).

Berikut tanda gejala bayi yang terkena pertusis :
  • Mata merah
  • Pilek
  • Bersin-bersin
  • Demam
  • Batuk ringan
  • Lama-lama batuk menjadi parah dan menimbulkan batuk menggigil yang cepat dan keras
5. Tetanus

Penyakit ini disebabkan oleh Clostridium Tetani. Pencegahannya dimulai dari suntik TT pada ibu sejak ibu hamil, juga imunisasi DPT pada bayi. Tanda gejala bayi yang terkena tetanus, antara lain :
  • Kaku otot pada rahang
  • Kaku pada leher
  • Kesulitan saat menelan
  • Otot perut kaku
  • Demam dan berkeringat
  • Bayi berhenti menetek pada hari ke-3 sampai dengan hari ke-28
  • Kejang hebat dan tubuh menjadi kaku
6. Campak

Penyakit ini disebabkan oleh virus Myxovirus Viridae Measles. Dapat dicegah dengan imunisasi campak yang diberikan pada bayi saat berusia 9 bulan. Untuk imunisasi campak, bayi harus dalam keadaan yang benar-benar sehat.

Tanda gejala penyakit campak :
  • Demam
  • Bercak kemerahan
  • Batuk, pilek
  • Mata merah (konjungtivitis)
  • Timbul ruam pada wajah dan leher hingga menyebar ke tangan, kaki, serta tubuh
7. Hepatitis B

Merupakan penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B. Imunisasi yang digunakan untuk mencegah penyakit ini adalah imunisasi hepatitis B yang diberikan saat bayi berumur 7 hari. Berikut adalah gejala hepatitis B pada anak :
  • Demam
  • Lemah, nafsu makan menurun
  • Warna urine (air pipis) seperti teh pekat
  • Warna feses menjadi pucat (dempul)
  • Mata dan kulit tampak kekuning-kuningan

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Jadi, jangan malas untuk mengimunisasikan si kecil, ya. Semoga postingan ini bermanfaat.

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Cara menyusui yang benar
Apa Sobat Bidan biasa mengalami lecet pada puting saat masa-masa menyusui bayi? Atau, bayi rewel terus seperti tidak kenyang padahal sudah disusui sesuai jadwal? Kedua hal ini bisa saja berkaitan dengan cara menyusui Sobat Bidan, lho! Mungkin saja, cara menyusui Sobat Bidan belum benar sehingga puting jadi lecet. Karena hal ini pun, si kecil jadi tidak puas menyusu karena dia merasa kurang nyaman.

Menyusui ada caranya, bagaimana supaya puting tidak lecet dan bayi puas menyusu. Bagaimana sih, cara menyusui yang benar itu? Berikut penjelasannya!

  • Yang pertama kali harus dilakukan adalah mengatur posisi bayi terhadap payudara ibu. Pertama, keluarkan sedikit ASI untuk mengolesi puting susu dan areola (bagian hitam-hitam). Ini bertujuan sebagai sterilisasi alami payudara dan supaya puting tidak lecet.
  • Setelah itu, pastikan ibu berada di posisi yang nyaman. Atur serileks mungkin.
  • Pastikan teknik memegang bayi sudah benar, ya. Ada empat hal pokok yang harus diperhatikan dalam hal ini. Pertama, kepala dan badan bayi harus ada pada satu garis. Kedua, wajah bayi harus menghadap payudara ibu, sedangkan hidungnya ke arah puting susu. Ketiga, ibu harus memegang si kecil agar selalu dekat dengan ibu. Kemudian untuk bayi baru lahir, ibu harus menopang badan bayi bagian belakang di samping kepala dan bahu.
  • Langkah selanjutnya adalah memegang payudara. Caranya, payudara dipegang dengan posisi ibu jari berada di atas, sedangkan empat jari lainnya menyangga sisi bawah payudara. Gunakan ibu jari untuk mengerucutkan puting susu sedemikian rupa untuk mempermudah memasukkannya ke mulut bayi.
Posisi bayi yang benar
  • Berikan rangsangan pada si kecil agar dia mau membuka mulut. Caranya, dengan menyentuhkan puting ke pipi atau mulut bayi. Bisa juga dengan cara menyentuh sisi mulut bayi dengan jari ibu. Kemudian, tunggu sampai mulut bayi terbuka cukup lebar.
  • Setelah mulut bayi terbuka lebar, segera dekatkan bayi ke puting. Bukan sebaliknya, ya, mendekatkan puting atau tubuh ibu ke bayi. Tindakan ini kurang benar.
  • Arahkan bibir bawah bayi ke bawah puting susu ibu sehingga dagu si kecil menyentuh payudara. 
  • Pastikan seluruh bagian areola (hitam-hitam di payudara ibu) masuk ke dalam mulut bayi. Hal ini penting untuk menghindari lecet pada puting. 
  • Perhatikan bayi selama dia menyusu. Jangan sampai hidungnya tertutup payudara ibu karena bisa membuatnya susah napas.
Berikut adalah ciri-ciri bayi yang menyusu dengan benar :
  • Bayi terlihat tenang
  • Badan bayi menempel dengan perut ibu
  • Dagu bayi menempel pada payudara ibu
  • Mulut bayi terbuka lebar
  • Bibir bayi bagian bawah juga terbuka lebar
  • Saat menghisap ASI, bayi menghisapnya dengan lembut dan cukup sehingga tidak berbunyi
  • Puting tidak merasa nyeri
  • Kepala bayi tidak tengadah
  • Kepala dan badan bayi ada pada satu garis lurus
  • Bagian areola yang kelihatan lebih luas di bagian atasnya daripada bagian bawah (sebaiknya seluruh areola masuk)
Bayi tenang karena kenyang
Nah, itu dia Sobat Bidan, cara menyusui si kecil yang benar. Bagaimana, sudah tidak bingung lagi, kan?

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik dan saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Faktor 3P dalam persalinan
Persalinan merupakan peristiwa yang tidak bisa ditebak akhirnya seperti apa. Harapan kita, ibu datang dengan sehat, maka pulangnya juga dalam keadaan sehat beserta bayi yang sehat. Namun, tidak sedikit persalinan yang berujung fatal dan gawat darurat. Tak sedikit pula yang berujung pada kematian ibu atau janin.

Berbagai faktor bisa menyebabkan hal tersebut. Namun, dalam dunia kebidanan, dikenal istilah 3P, yaitu faktor utama yang akan memperlancar atau menghambat proses persalinan Sobat Bidan semua. Apakah faktor 3P itu? Berikut penjelasannya!

1. Power (kekuatan)

Power atau kekuatan yang dimaksud dalam persalinan adalah his (kontraksi rahim). His adalah kontraksi otot-otot uterus (rahim) selama proses persalinan. Lamanya kontraksi ini berkisar antara 45 sampai dengan 75 detik dengan frekuensi minimal 3 kali dalam 10 menit. Semakin mendekati persalinan, his akan semakin adekuat untuk membuka leher rahim dan penurunan kepala bayi ke panggul.

Menurut jenisnya, his dibedakan menjadi 4 yaitu :

  • His pembukaan, yaitu his yang menyebabkan dilatasi serviks (membukanya mulut rahim) dari pembukaan 1 hingga 10. Pada fase ini, his mulai timbul secara teratur, kuat, dan menyebabkan rasa sakit. Keluarga atau suami yang menjaga dianjurkan untuk melakukan masase (pijat) pada punggung ibu yang sedang mengalami his pembukaan ini.
  • His pengeluaran (his mengedan), yaitu his yang terjadi selama proses persalinan kala II (proses keluarnya bayi). His di kala dua ini berfungsi untuk mendorong bayi keluar dari jalan lahir. Kontraksi yang akan terjadi bisa jadi sangat kuat ketika mencapai puncak, teratur, terkoordinasi, dan lama.
    Beri hak asih pada ibu saat his sedang memuncak seperti dengan sentuhan lembut
  • His pelepasan plasenta (kala III). Setelah bayi lahir, his akan menurun kekuatannya namun tidak hilang sama sekali. His kala III berfungsi untuk mengeluarkan plasenta (ari-ari), biasanya dirangsang dengan suntik oksitosin agar rahim terus berkontraksi.
  • His pengiring (kala IV). His ini terjadi setelah ari-ari lahir. Kontraksi rahim mulai bisa dikatakan lemah, berfungsi untuk mengembalikan ukuran rahim ke ukuran semula (sebelum hamil). Mengelus perut ibu hingga terasa keras bisa jadi salah satu cara untuk merangsang kontraksi ini.
2. Passage (jalan lahir)

Faktor kedua yang berpengaruh penting dalam proses persalinan adalah passage atau jalan lahir. Jalan lahir yang dimaksud adalah panggul. Ada 4 bentuk panggul wanita yang bisa mempengaruhi persalinan mereka, antara lain :
  • Platipeloid. Panggul jenis ini berbentuk oval dan pipih dari diameter depan ke belakang. Panggul dengan jenis ini akan menyebabkan bayi melewatinya dengan kepala melintang. Sekitar 5 % wanita mempunyai bentuk panggul jenis platipeloid.
  • Android. Ini adalah panggul dengan bentuk rongga menyerupai hati, seperti panggul laki-laki. Karena tulang bawah panggul cenderung menonjol, maka panggul jenis android bisa menghambat kemajuan persalinan normal melalui vagina.
  • Ginekoid. Merupakan bentuk panggul paling umum yang dimiliki wanita dan paling ideal untuk melahirkan secara normal, karena rongganya yang berbentuk oval.
  • Antropoid. Panggul jenis ini juga berbentuk oval, namun jarak antara sisi depan dan belakang lebih lebar dari sisi kanan dan kirinya. Hal ini bisa menyebabkan bayi lahir dengan kepala mendongak ke atas.
Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa postur tubuh belum tentu sama dengan bentuk panggul. Wanita bertubuh ramping belum tentu mempunyai panggul yang sempit, pun sebaliknya.

3. Passanger (penumpang)

P yang ketiga dengan pengaruhnya dalam proses persalinan adalah passanger (penumpang). Penumpang yang dimaksud tentunya adalah si jabang bayi dan plasenta. Letak atau presentasi janin di kandungan berpengaruh besar untuk proses persalinan. Misalnya, bayi dengan presentasi normal (kepala di bawah), akan lebih mudah saat melahirkannya ketimbang bayi dengan presentasi lain (bokong, sungsang misalnya). 

Berat dan ukuran janin juga bisa mempengaruhi proses persalinan. Bayi dengan BB besar tentu akan lebih lama proses melahirkannya dibanding dengan BB bayi yang lebih kecil. Demikian juga dengan bayi yang hidup, dia mempunyai 'kemauan' dan tenaga untuk keluar, dibanding bayi yang meninggal dalam kandungan misalnya. Kasus semacam ini menyebabkan hilangnya faktor ketiga sehingga hanya bergantung dari kekuatan ibu dan bantuan penolong.


Letak plasenta juga berpengaruh. Plasenta yang normal bisa dengan mudah dikeluarkan. Sementara plasenta yang bermasalah seperti retensio plasenta atau plasenta previa, bisa menghambat proses pengeluaran plasenta itu sendiri.

Nah, itu dia, Sobat Bidan, faktor 3P yang dapat memperlancar atau menghambat proses persalinan. Semoga kita semua senantiasa diberikan kelancaran saat melahirkan, ya. Persiapkan dengan mental dan fisik yang baik, berdoa, serta tetap selalu bahagia, ya.

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik, dan saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!
Bayi kembar? Siapa yang tak mau!

Banyak di antara kita yang menginginkan anak kembar, ya. Selain lucu dan menggemaskan, melahirkan bayi kembar memang seperti setali tiga uang. Sekali mengandungnya, langsung mendapat dua anak sekaligus.

Eh, tapi jangan salah, ya. Mengandung bayi kembar tidak semudah kelihatannya, lho! Selain itu, risiko yang bisa terjadi pada ibu dan janin pun lebih besar dari hamil biasa. Apa saja risiko itu? Simak, yuk!

1. Bagi Ibu

Selama kehamilan, ibu yang mengandung bayi kembar akan berisiko tinggi mengalami :

  • Anemia. Adanya pengenceran darah selama hamil membuat ibu yang mengandung bayi tunggal saja rentan mengalami anemia. Apalagi jika yang dikandungnya adalah bayi kembar, maka otomatis kebutuhan zat besi akan bertambah lebih banyak lagi, untuk si ibu dan kedua bayi (jika kembar dua). Apabila kebutuhan zat besi ini tidak tercukupi, maka sudah pasti ibu akan mengalami anemia.
  • Hidramnion. Adalah kelebihan air ketuban selama kehamilan. Ini bisa disebabkan karena adanya kelainan pada janin, misal janin dengan ananchepal, janin besar atau kecil pada ibu dengan diabetes gestasional, juga janin kembar. Jika tidak ditangani, hidramnion bisa menyebabkan bayi lahir prematur, ibu sesak napas, dan kelainan letak janin.
Perut yang membuncit terlalu besar bisa jadi salah satu tanda hidramnion
  • Pre-eklampsia atau keracunan kehamilan. Sebenarnya ini juga bisa terjadi pada ibu dengan kehamilan normal, karenanya ibu dengan hamil ganda harus lebih waspada. Mengenai pre-eklampsia akan kita bahas di postingan selanjutnya.
  • Solusio Plasenta, adalah lepasnya plasenta (ari-ari) dari dinding rahim sebelum proses persalinan. Hal ini merupakan komplikasi yang sangat serius karena berbahaya sekali bagi janin mau pun ibu. Ibu akan merasakan sakit perut yang hebat dan keluar darah segar dari jalan lahirnya. Janin akan mengalami gawat janin bahkan kematian karena asupan makanan dari plasenta telah terputus. Satu-satunya cara untuk mengatasi kasus ini adalah dengan terminasi kehamilan (mengakhiri kehamilan).
Tidak hanya selama hamil, dalam proses persalinan pun ibu dengan hamil ganda dapat mengalami risiko, di antaranya :
  • Inersia Uteri. Kasus ini merupakan ketidaknormalan kontraksi rahim, yaitu rahim tidak berkontraksi dengan kuat sehingga serviks (leher rahim) tidak terbuka dan kepala bayi tidak turun-turun. Ini tentu saja akan menghambat dan memperlama proses persalinan.
  • Persalinan lama terutama pada bayi kedua dan seterusnya. Hal ini bisa disebabkan karena inersia uteri tadi. Bisa juga karena ibu sudah kelelahan dan tenaga terkuras habis saat melahirkan bayi pertamanya.
  • Perdarahan Post-Partum. Adalah perdarahan yang terjadi pasca persalinan. Bisa disebabkan karena inersia uteri seperti yang disebutkan di atas. Setelah persalinan kala dua dan kala tiga (bayi dan plasenta lahir), penting sekali untuk memastikan bahwa rahim berkontraksi dengan baik. Jika rahim tidak mengeras (tetap lembek), itu artinya rahim tidak berkontraksi dan akan menyebabkan terjadinya perdarahan post-partum.

Rahim tidak berkontraksi penyebab perdarahan

2. Bagi Janin

Selain berisiko besar bagi ibu, berikut adalah risiko bagi janin dalam kehamilan ganda :
  • Lahir prematur. Sesuai penjelasan di atas, kehamilan ganda berisiko lebih besar melahirkan bayi prematur. Bayi prematur sendiri memiliki komplikasi yang cukup tinggi setelah lahir karena belum matangnya organ-organ vital di tubuhnya.
  • Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Berat lahir yang normal bagi bayi adalah antara 2,5 kg - 4 kg. Selama kehamilan, gizi dari ibu dengan hamil ganda akan terbagi tidak hanya dengan satu janin. Karenanya, risiko bayi lahir dengan BB rendah bisa lebih besar terjadi pada ibu dengan hamil ganda.
  • Kelainan letak. Hal ini sudah pasti terjadi pada janin yang kembar. Jika salah satu di antaranya letaknya normal (ubun-ubun kecil), maka yang lain tentu akan terjadi kelainan letak. Kasus ini bisa berubah saat bayi pertama sudah lahir. Bayi kedua bisa berputar dan letak bisa dibenahi menjadi normal.
  • Angka Kematian Bayi (AKB) kedua dan atau seterusnya lebih tinggi. Ini bisa disebabkan karena solusio plasenta tadi (plasenta sudah lepas setelah kelahiran bayi pertama). Bisa juga karena faktor ibu yang sudah terlalu lelah, atau inersia uteri.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa risiko yang bisa terjadi pada ibu dan janin dengan kehamilan ganda. Karenanya, ibu yang tengah mengandung janin kembar, harus ekstra menjaga kesehatan diri dan janinnya. Sering-seringlah melakukan ANC (antenatal care) ke BPM atau dokter kandungan untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pixabay