Selamat siang, Sobat Bidan!

Macam-macam gangguan haid dan penyebabnya

Menstruasi adalah hal normal yang akan dialami setiap wanita ketika ia sudah mencapai masa pubertas. Normalnya, dalam satu bulan seorang wanita akan mendapatkan menstruasi satu kali. Namun, ada lho, wainta-wanita yang bisa lebih dari satu kali menstruasi dalam sebulan. Bahkan, yang siklus menstruasinya dua bulan sekali juga ada.

Apakah itu merupakan suatu ketidaknormalan? Bisa dikatakan begitu, tergantung apa penyebabnya. Nah, kali ini kita akan membahas tentang klasifikasi gangguan menstruasi dan penyebab-penyebabnya. Sudah siap? Mari simak ulasan berikut ini :

1. Hipermenorea

Sesuai dengan istilahnya, hipermenorea berarti perdarahan yang berlebihan. Pada kasus ini siklus menstruasi Sobat Bidan teratur seperti biasa, misalnya dengan jarak 22 hari setiap bulan. Tapi, pada menstruasi kali ini, Sobat Bidan mengeluarkan darah yang lebih banyak dari biasanya (lebih dari 80 cc). Selain itu, mens yang biasanya paling lama hanya tujuh hari saja, kali ini sampai lebih dari delapan hari.

Sobat Bidan pernah mengalaminya? Jika iya, itulah yang disebut dengan hipermenorea. Apa penyebab dari hipermenorea ini? Bila baru sekali terjadi, bisa saja karena ada infeksi, endometriosis, atau salpingitis.

Endometriosis adalah tumbuhnya jaringan endometrium di luar rahim. Bila mengalami ini, Sobat Bidan biasanya akan merasakan nyeri perut yang sangat hebat. Sedangkan salpingitis adalah radang yang terjadi di saluran tuba falopii. Biasanya, penderita salpingitis akan merasakan nyeri saat berhubungan seksual.
Waspadai nyeri perut bagian bawah

2. Hipomenorea

Nah, yang satu ini adalah kebalikan dari hipermenorea. Apabila Sobat Bidan mengalami menstruasi yang pendek dibanding biasanya dengan jumlah darah yang sedikit, bisa dipastikan bahwa Sobat Bidan mengalami hipomenorea. Misalnya saja, menstruasi sudah berhenti padahal baru tiga hari atau kurang dari itu, padahal siklusnya normal. 

Lalu, apa penyebab hipomenorea ini? Bisa saja dikarenakan oleh miomektomi, gangguan hormon, atau bahkan karena kurang gizi. Miomektomi adalah pembedahan yang dilakukan untuk mengambil fibroid atau tumor jinak yang tumbuh di dalam rahim. Sedangkan kurang gizi bisa disebabkan karena diet yang ketat. Ayo, diingat-ingat lagi ya, bagaimana asupan gizi Sobat Bidan sebulan ini sampai bisa tejadi hipomenorea.

3.  Polimenorea

Gangguan menstruasi yang berikutnya adalah polimenorea. Jika hiper dan hipomenorea bermasalah pada jumlah darah, yang jadi masalah dalam polimenorea ini adalah siklusnya. Polimenorea adalah siklus menstruasi yang lebih pendek dari biasanya (kurang dari 21 hari) dengan jumlah darah biasa (tidak terlalu banyak atau sedikit).

Sobat Bidan pernah mengalami dua kali menstruasi dalam satu bulan? Nah, itulah yang disebut polimenorea. Apa penyebabnya? Ini dibagi menjadi dua, yaitu :

a. Bila siklusnya pendek tapi teratur

Jika dari pertama kali menstruasi Sobat Bidan sudah mendapat dua kali mens dalam sebulan, bisa jadi penyebabnya karena stadium proliferasi pendek, stadium sekresi pendek, atau kedua-duanya pendek. 

Stadium proliferasi adalah tumbuhnya endometrium setelah fase akhir menstruasi. Dalam stadium ini, endometrium (dinding rahim) mempersiapkan dirinya untuk ditempeli hasil konsepsi. Nah, apabila tidak ada pembuahan, artinya tidak ada hasil konsepsi yang menempel, maka akan luruhlah endometrium tersebut (menstruasi).

Sedangkan stadium sekresi adalah fase yang terjadi setelah ovulasi (keluarnya sel ovum dari ovarium), di mana hormon progesteron sedang banyak-banyaknya untuk mempersiapkan endometrium menjadi lebih matang.

Siklus menstruasi
Nah, kedua stadium ini normalnya terjadi antara 14-28 hari. Pada penderita polimenorea, salah satu stadium atau mungkin dua-duanya, siklusnya lebih pendek dari itu.

b. Bila siklus semula normal berubah jadi pendek

Kalau seperti ini, penyebabnya karena terjadi pemendekan stadium sekresi karena corpus luteum cepat mati. Corpus luteum adalah apa yang tersisa dari folikel setelah terjadi ovulasi. Jadi, setiap folikel mengandul sel telur. Namun, biasanya hanya akan ada satu sel telur yang matang dan siap untuk ovulasi. Nah, saat ovulasi terjadi, folikel ini akan pecah dan mengeluarkan sel telur tadi. Sisa-sisa dari folikel inilah yang disebut Corpus Luteum.

Normalnya, Corpus Luteum akan bertahan antara 12-14 hari. Namun, pada penderita polimenorea, Corpus Luteum akan mati sebelum mencapai hari tersebut. Ini biasanya terjadi di masa klimakterium (pra-menopause).

4. Oligomenorea

Oligomenorea adalah gangguan menstruasi dengan siklus mens yang panjang (lebih dari 35 hari). Siklus menstruasi yang normal bagi wanita adalah antara 21-35 hari. Apa penyebab dari oligomenorea ini?

a. Oligomenorea yang menetap 

Kebalikan dari polimenorea yang mengalami pemendekan stadium proliferasi dan ekskresi, maka pada kasus ini adalah terjadi pemanjangan antara kedua stadium tersebut. Bisa salah satunya, bisa juga dua-duanya.

Bila dari pertama menstruasi Sobat Bidan sudah mengalami oligomenorea, maka kemungkinan besar itulah penyebabnya.

b. Bila siklus normal berubah menjadi oligomenorea

Berbeda kasus jika mendadak ada perubahan siklus. Ini bisa saja disebabkan karena pengaruh psikis. Misal mengalami tekanan atau stres berlebihan dan kelelahan. Selain itu, penyakit TBC juga bisa menyebabkan perubahan siklus ini.

5. Amenorea

Gangguan menstruasi berikutnya adalah amenorea atau keadaan tidak datangnya menstruasi selama  tiga bulan berturut-turut. Amenorea dibagi menjadi dua jenis, yaitu amenorea primer (tidak datang mens sampai usia 18 tahun) dan amenorea sekunder (mens tiba-tiba berhenti selama tiga bulan berturut-turut).

Penyebabnya bisa karena keadaan fisiologis, misalnya karena hamil, menyusui, atau menopause. Bisa juga karena gangguan hipotalamus yang mempengaruhi ovarium. Selain itu, kelainan konginetal seperti himen impervorata (selaput dara tidak berlubang) dan gangguan hormon juga bisa menjadi penyebab amenorea.

Himen imperforata

Nah, itu dia Sobat Bidan, kelima klasifikasi gangguan menstruasi dan penyebabnya. Apabila Sobat Bidan mengalami satu dari kelima penjelasan di atas, alangkah baiknya untuk segera memeriksakan diri ke faskes terdekat. Semoga postingan ini bermanfaat, ya!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Bila ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pixabay.com
Selamat siang, Sobat Bidan!


Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang tatacara minum pil KB. Ya, sampai saat ini, ber-KB dengan pil masih jadi opsi terbesar bagi ibu-ibu di sebagian daerah. Alasannya, karena KB dengan pil itu mudah dan juga tidak sakit.

Lalu, kenapa mesti dibahas segala cara minumnya? Karena kemarin seorang teman ada yang curhat. Katanya, dia minum pil KB pada saat akan melakukan hubungan seksual saja. Nah, lho! Usut punya usut, ternyata dia belum begitu paham tentang tatacara minum pil KB yang benar.

Bagaimana hukumnya kalau sembarangan begitu? Jelas tidak boleh, ya. Kita tidak boleh melanggar peraturan minum pil KB apabila tidak ingin kebobolan. Nah, berikut tatacara minum pil KB yang seharusnya!

1. Aturan umum

Untuk pil KB dengan isi 28 hari, terdiri dari 21 pil berisi hormon dan 7 pil kosong (plasebo). Sobat Bidan harus minum setiap hari di waktu yang sama selama 21 hari berturut-turut. Setelah itu, dilanjutkan dengan minum tujuh pil yang kosong (kemungkinan saat ini Sobat Bidan sedang menstruasi). Pil KB yang berisi 28 pil ini lebih populer karena memudahkan dan tidak ada jeda setiap harinya. Jadi, minum pil terus setiap hari.

Sedangkan untuk pil KB yang berisi 21 butir, semuanya adalah pil hormon. Sama seperti di atas, Sobat Bidan harus minum pil ini setiap hari selama 21 hari di waktu yang sama. Nah, setelah pil itu habis, Sobat Bidan harus berhenti minum pil dulu selama 7 hari. Kemungkinan, itu adalah waktu Sobat Bidan menstruasi. 
Minum pil sesuai urutan yang ada di blister

Tidak perlu bingung dengan tatacara minumnya, karena di bungkus pil KB tertera hari dan urutan (tanda panah) untuk menuntun Sobat Bidan dalam mengkonsumsi pil ini. 

Jika Sobat Bidan baru pertama kali menggunakan KB pil, pil ini sudah bisa diminum dari hari pertama sampai hari ketujuh menstruasi. Tapi, bila ingin meminumnya mulai hari kedelapan (sudah selesai mens), maka Sobat Bidan dianjurkan memakai kondom saat berhubungan seks di hari ke-8 sampai hari ke-14.

Tapi, jika Sobat Bidan baru beralih dari kontrasepsi lain ke pil, misal dari suntik kemudian ganti menggunakan pil. Sobat Bidan bisa langsung meminum pil KB tanpa harus menunggu haid dulu. Apabila Sobat Bidan baru melahirkan, minumlah setelah enam bulan pasca memberi ASI eksklusif. Atau, jika tidak memberi ASI, Sobat Bidan bisa meminumnya setelah tiga bulan.

2. Yang perlu diingat

- Minum pil KB setiap hari sesuai penjelasan di atas
- Minumlah di waktu yang sama, misal pukul tujuh malam maka harus pukul tujuh malam setiap hari
- Jangan diminum apabila dua minggu tidak mendapat haid
- Harus sesuai antara hari dan tulisan. Jika ini hari Senin, minumlah pil yang tertulis Senin di blister
- Segera beli pil lagi apabila kehabisan
- Mulailah minum pil baru di hari yang sama dengan pil yang telah habis tadi

Minum pil Kb setiap hari

3. Bila lupa

- Apabila Sobat Bidan lupa minum pil KB hari ini tapi belum lebih dari 12 jam, segeralah minum pilnya. Misalnya saja, Sobat Bidan biasa minum pil pukul tujuh malam, dan baru ingat pada pukul sebelas malam. Maka, Sobat Bidan harus segera meminumnya.

- Bila sudah terlewat satu hari penuh, maka besoknya di jam yang sama, minumlah 2 pil. Hari ini dan hari kemarin. Contoh, hari Selasa jam tujuh malam lupa minum pil, dan baru ingat besok siang di hari Rabunya, maka tunggu saja sampai jam tujuh malam lagi di hari Rabu dan minumlah 2 pil.

- Jika lewat dua hari, maka Sobat Bidan harus minum dua pil sekaligus dalam dua hari berturut-turut. Misal, Sobat Bidan lupa minum pil pada hari Minggu dan Senin, maka pada hari Selasa Sobat Bidan harus minum 2 pil dosis Minggu dan Senin tadi. Dan hari Rabunya, Sobat Bidan juga harus minum dua pil lagi untuk dosis hari Selasa dan Rabu.

- Pakai alat kontrasepsi lain seperti kondom. Jika lupa sehari saja, masih kecil kemungkinan hamilnya. Namun, bila sudah lebih dari 48 jam, bisa jadi akan terjadi kebobolan. 

Nah, itu dia Sobat Bidan, cara yang benar untuk mengkonsumsi pil KB. Bagaimana, sudah tidak bingung lagi, bukan? Di pembahasan selanjutnya kita akan membahas macam-macam pil KB termasuk yang bisa digunakan untuk ibu menyusui. 

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Apabila ada pertanyaan, kritik, dan saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pixabay



Selamat malam, Sobat Bidan!

Ingin hamil (lagi)? Analisis faktor 4T dulu, ya.

Sobat Bidan sedang merencanakan kehamilan atau berkeinginan untuk hamil (lagi)? Benar sekali, anak adalah anugerah dan perekat ikatan rumah tangga yang tak lagi dalam masa bulan madu. Dengan kehadiran buah hati, hubungan yang mungkin mulai agak dingin menjadi hangat kembali. 


Tapi, dalam merencanakan kehamilan, Sobat Bidan harus mempertimbangkan dulu faktor 4T ini. Kenapa? Karena keempat faktor tersebut bisa digunakan sebagai barometer, apakah Sobat Bidan sudah siap untuk hamil atau masih boleh untuk hamil lagi. Hal ini berkaitan erat dengan keselamatan ibu dan janin, serta kelancaran proses persalinan.

Lalu, apa saja faktor 4T yang perlu Sobat Bidan tahu itu? Berikut ulasannya!

1. Terlalu muda

Tahukah Sobat Bidan, bahwa masa subur-suburnya reproduksi wanita ada dalam usia 20 - 25 tahun? Di usia inilah seluruh organ reproduksi sudah matang dan ada dalam masa terbaiknya. Rentang usia ini merupakan waktu yang pas bagi wanita untuk menghadapi kehamilan dan persalinan. Kondisi tubuh yang masih muda dan fit akan menunjang kesehatan janin.

Karenanya, jika seorang wanita belum berusia 20 tahun, maka sangat dianjurkan untuk tidak hamil terlebih dahulu. Usia di bawah dua puluh masih terbilang terlalu muda. Organ reproduksi belum sepenuhnya siap menerima konsepsi. 

Selain itu, tingkat kedewasaan secara psikologis pun belum bisa dikatakan matang. Secara fisik dan mental, wanita berusia kurang dari 20 tahun belum siap untuk hamil. Meski memang, dewasa tidak melulu dilihat dari umurnya. Tapi, secara teori, usia dewasa awal dimulai dari umur 20 tahun. 

Lalu, apakah bahaya bila hamil terlalu muda? Tentunya. Ketidaksiapan organ reproduksi bisa menyebabkan bayi lahir prematur atau abortus. Komplikasi kehamilan yang lain pun lebih rentan terjadi. Ketidaksiapan mental juga dapat menimbulkan stres pada sang ibu yang akan berdampak buruk pada janin. Jika ibu stres, janin pun akan ikut stres dan bisa menyebabkan gawat janin bahkan kematian.

2. Terlalu tua

Perhatikan umur dan kondisi fisik
Kebalikan dari yang di atas, umur ibu yang terlalu tua pun tidak lagi dibolehkan hamil. Menurut WHO, batasan seorang wanita masih boleh hamil dan melahirkan berakhir di usia 35 tahun. Lebih dari itu, wanita hendaknya stop punya anak.

Jika dalam usia yang terlalu muda organ reproduksi belum siap, kini saat usia terlalu tua maka fungsi dari sistem reproduksi tersebut sudah menurun. 

Kondisi fisik dan kesehatan ibu pun mungkin sudah tidak sekuat dulu lagi. Dikhawatirkan apabila nanti ibu tidak mampu mengejan dalam proses persalinan. Hal ini akan membahayakan ibu dan janin.

Selain itu, ibu dengan usia terlalu tua juga rentan terkena komplikasi kehamilan seperti diabetes saat hamil, hipertensi saat hamil, bayi lahir dengan berat badan rendah, juga abortus dan kematian janin. Jika dalam usia ini baru hamil pertama kali, maka ibu harus ekstra menjaga kesehatannya dan rajin-rajin melakukan ANC (periksa).

3. Terlalu banyak

Nah, yang berikutnya adalah terlalu banyak melahirkan. Hal ini berkaitan dengan program KB yang sudah dibahas di sini, ya. Masuk dalam kategori ini adalah apabila ibu sudah lebih dari tiga kali melahirkan.

Kenapa seorang wanita tidak dianjurkan terlalu banyak melahirkan? Karena risikonya besar. Dari sisi kesehatan, seorang ibu yang terlalu banyak melahirkan rentan sekali mengalami komplikasi. 

Misalnya saja seperti :

Anemia, pre-eklampsia (keracunan kehamilan), eklampsia (tingkatan lebih serius dari pre-eklampsia), prolaps uteri (rahim turun ke jalan lahir), plasenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir), keguguran, bahkan perdarahan hebat pasca persalinan.

4. Terlalu dekat

Faktor selanjutnya yang patut dipertimbangkan sebelum Sobat Bidan merencanakan hamil lagi adalah jarak dari persalinan sebelumnya. Sudah disepakati bersama bahwa jarak yang ideal antara anak satu dengan yang lainnya minimal adalah dua tahun.

Kenapa? Agar fungsi dari sistem reproduksi pada ibu pasca bersalin telah kembali normal dan siap untuk dipakai lagi. Selain itu, anak juga akan puas merasakan kasih sayang orangtua tanpa harus terbagi-bagi. Usia dua tahun juga merupakan usia anak mulai disapih. Jadi, dia bisa mendapat hak akan ASI-nya secara penuh.


Selain membuat ibu repot mengurus dua bayi, jarak kehamilan yang terlalu dekat juga berbahaya bagi ibu dan janin. Risiko yang dapat terjadi pada bayi antara lain bayi lahir dengan berat badan rendah,  prematur, bahkan bayi juga bisa mengalami cacat bawaan. Sedangkan ibu bisa saja mengalami keguguran, anemia, juga perdarahan pasca persalinan.

Mari ber-kb!
Itu dia Sobat Bidan, 4T yang perlu dipertimbangkan sebelum Sobat Bidan memutuskan untuk hamil (lagi). Jadi, jangan dipaksakan, ya, patuhi aturan demi kesehatan ibu dan janin. Memang, semuanya ada di tangan Tuhan, tapi alangkah baiknya jika kita juga turut serta menjaga sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Benar, bukan?

Semoga postingan ini bermanfaat! Selamat berisitirahat.

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran bisa tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pinterest / Pixabay. com

Selamat siang, Sobat Bidan!
Selamat menjadi I-B-U :)

Melewati proses melahirkan yang begitu menegangkan dengan lancar adalah karunia yang sangat besar, ya. Sobat Bidan wajib bersyukur pada Tuhan atas nikmat kesehatan yang diberikan-Nya pada Sobat Bidan dan si kecil. Berterima kasih juga pada suami dan keluarga yang sudah mendukung dan menemani selama proses persalinan.

Kini, Sobat Bidan telah resmi menjadi ibu. Tugas di depan sudah menghadang, mulai dari merawat si kecil, menyusui, dan segala tetek bengeknya. Apakah akan terasa melelahkan? Ibu baru khususnya, tentu akan merasakan sesuatu yang sangat berbeda dari sebelum memiliki bayi. Rasa lelah, bahkan mungkin kondisi psikologis yang belum membaik pasca melahirkan pun akan turut mempengaruhi sikap ibu pada bayi.

Terkait hal ini, ada empat perubahan psikologis selama masa nifas yang bisa saja terjadi pada Sobat Bidan setelah melahirkan. Apa saja itu? Mari kita simak bersama-sama!

1. Baby Blues

Tidak semua wanita merasakan kegembiraan dan bahagia pasca melahirkan ya, Sobat Bidan. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Misalnya saja, karena keletihan fisik yang berlebihan, latar belakang psiko-sosial yang kurang baik, faktor demografik seperti umur yang masih terlalu muda, juga pengalaman selama hamil dan melahirkan yang kurang baik.

Semua faktor ini bisa menyebabkan seorang ibu mengalami baby blues atau post-natal syndrome. Menurut penelitian, 50-70% wanita pasca melahirkan akan mengalami gejala ini. Faktor lain yang menyebabkan baby blues adalah penurunan hormon progesteron yang begitu tiba-tiba. Selama hamil, hormon ini akan meningkat pesat dan setelah melahirkan akan menurun derastis. Hal ini akan memengaruhi kondisi fisik dan emosi ibu.

Baby blues merupakan gejala depresi masa nifas yang paling ringan. Biasanya gejala ini akan terjadi dalam hari ke empat sampai sepuluh hari pasca persalinan. Dengan adanya dukungan suami dan keluarga yang baik, baby blues bukan merupakan masalah yang serius dan akan hilang dengan sendirinya.

2. Post-Partum Blues

Beda dengan baby blues yang muncul pasca melahirkan, post-partum blues sudah dibawa sejak masa kehamilan. Selama masa-masa hamil ini, ibu senantiasa merasa sedih dan tidak senang atas kehadiran bayi di dalam rahimnya. Hal tersebut bisa disebabkan oleh berbagai faktor, misal karena kehamilan di luar nikah atau seorang istri yang mungkin belum ingin hamil.

Sebenarnya, post-partum blues merupakan gejala yang wajar mengingat letihnya proses persalinan yang menguras tenaga ibu. Bila mengalami post-partum blues, ibu akan merasa cemas, kesepian, khawatir akan kondisi bayi, serta tidak percaya diri. Selain itu, ibu yang mengalami gejala ini akan menurun hasrat seksualnya dan mudah sekali menangis.

Dukungan dari suami, keluarga, dan penyuluhan pasca melahirkan oleh nakes akan sangat membantu ibu melewati masa-masa ini.

3. Depresi Post-Partum

Tingkatan selanjutnya yang lebih parah dari perubahan psikologis masa nifas adalah depresi post-partum. Ini adalah perasaan sedih yang dirasakan oleh ibu karena merasa kebebasannya direnggut setelah dia punya anak. Selain itu, ketakutan akan estetika dan bentuk tubuh serta berkurangnya interaksi sosial dan kemandirian dapat menjadi penyebabnya.

Ibu yang mengalami depresi post-partum akan mengalami gejala psikologis seperti sulit tidur, tidak nafsu makan, cemas, kehilangan kontrol pikiran, dan merasa tidak berdaya. Selain itu, ibu akan dihantui oleh ketakutan-ketakutan sehingga dia tidak mau menyentuh bayinya, serta tidak peduli dengan keadaan si kecil. Sementara, gejala fisik yang menyertai adalah kesulitan untuk bernapas, serta jantung yang berdebar tidak beraturan.

Peran suami, keluarga, dan nakes sangat penting untuk membantu ibu melewati masa ini. Jangan sampai bersikap atau berbicara yang dapat menyinggungnya, ya. Tingkat sensitifitas ibu sedang tinggi-tingginya.

4. Depresi Masa Nifas

Inilah tingkatan yang paling serius bagi kondisi psikologis ibu pasca melahirkan. Depresi masa nifas biasanya disebabkan karena kesibukan dan keletihan ibu bahkan sejak sebelum hamil. Misalnya, seorang wanita karir yang sangat padat kegiatan hariannya, atau ibu yang kelelahan mengurusi anak-anaknya yang lain.

Apa ibu kelelahan?
Gejala dari depresi masa nifas antara lain ibu akan gampang sekali murung, mudah marah, serta tidak peduli pada bayinya. Bahkan, pada tingkatan yang lebih serius lagi, ibu bisa mengalami halusinasi pendengaran yang membisikkan dirinya untuk berbuat jahat pada sang bayi. Jika sudah begini, ibu harus dibawa ke psikiater untuk terapi agar tidak membahayakan sang bayi.


Nah, itu dia Sobat Bidan, empat perubahan psikologis masa nifas yang bisa terjadi pada siapa saja. Lalu, bisakah hal ini dicegah? Tentunya bisa, ya. Dengan kerjasama dan dukungan sepenuhnya dari suami dan keluarga, ibu pasti bisa mengatasi berbagai keadaan tersebut.

Buat ibu merasa bahagia dan nyaman sejak dari masa kehamilannya. Hal ini akan memberi pengaruh besar dalam menghadapi pasca persalinannya nanti. Jadi, sekali lagi saya tekankan, berbahagialah dengan kehamilan Sobat Bidan semua!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Apabila ada pertanyaan, kritik, dan saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by: Pixabay.com