Hamil Ektopik, Apa Itu?

Selamat siang, Sobat Bidan!

Hamil ektopik?
Apa itu kehamilan ektopik?

Pernahkah mendengar tentang hamil ektopik? Hamil ektopik merupakan kehamilan yang terjadi di luar rahim, bisa di tuba falopii, ovarium, atau pun leher rahim.

Dalam proses normalnya, sel telur yang dibuahi akan menetap di tuba selama 3 hari. Karena faktor-faktor tertentu, hasil pembuahan ini akan menempel di tuba dan tidak beralih ke rahim. Jika hal ini terjadi maka akan terjadilah kehamilan ektopik tadi.

Apa penyebabnya?

Biasanya, organ yang paling sering jadi tempat bertumbuh kembang janin selain rahim adalah tuba falopii. Hal ini disebabkan karena ada peradangan, inflamasi, atau rusaknya organ tuba falopii sehingga menghalangi sel telur yang telah dibuahi untuk masuk ke rahim.

Selain itu, kadar hormon yang tidak seimbang atau perkembangan abnormal sel telur yang dibuahi bisa menjadi pemicu kehamilan ektopik tersebut.

Apa saja faktor risikonya?

Beberapa faktor ini bisa menjadi risiko kehamilan ektopik, antara lain :

  • Pemakaian KB IUD atau spiral. Penggunaan spiral memang efektif untuk mencegah kehamilan. Namun, bila terjadi kebobolan, hal ini memicu terjadinya hamil ektopik karena adanya IUD yang menghalangi penempelan hasil nidasi di rahim.
  • Infeksi atau inflamasi. Wanita yang pernah mengalami infeksi atau inflamasi seperti penyakit radang panggul, atau infeksi serviks akibat penyakit menular seksual seperti gonorhae, berisiko lebih besar mengalami hamil ektopik karena ada sumbatan di tuba yang menghalangi hasil konsepsi menuju rahim.
  • Pernah mengalami hamil ektopik sebelumnya. Wanita yang pernah mengalami hamil ektopik sebelumnya berisiko lebih besar untuk mengalami hamil ektopik lagi.
  • Masalah kesuburan dan cara pengobatannya terkadang bisa memicu terjadinya hamil ektopik.
  • Proses sterilisasi atau sebaliknya, hal ini berkaitan dengan KB steril seperti tubektomi yang mengikat tuba falopii. Jika prosedurnya dilakukan tidak sempurna, hal ini bisa memicu terjadinya kehamilan ektopik.

Bagaimana tanda gejalanya?

Kehamilan ektopik sama dengan kehamilan biasa, tanda gejala awalnya pun bisa jadi sama sehingga ibu tidak sadar bahwa kehamilan tersebut sebenarnya abnormal. Namun begitu, ada tanda-tanda spesifik yang membedakan antara kehamilan normal dengan hamil ektopik, berikut di antaranya :

  • Nyeri di tulang panggul
  • Perdarahan yang terjadi di vagina
  • Sakit pada perut bagian bawah, biasanya terjadi di salah satu sisi
  • Mual muntah disertai rasa nyeri
  • Pusing, lemas
  • Nyeri pada bahu
  • Jika tuba falopi sobek, akan memunculkan perdarahan hebat yang bisa sampai menghilangkan kesadaan
  • Merasa sakit dan tekanan nyeri pada anus saat BAB

Penegakan diagnosa

Untuk mengetahui apakah yang dialami ibu merupakan kehamilan ektopik atau bukan, maka dibutuhkan rangkaian pemeriksaan. Selain USG, yang harus diperiksa juga darah dan kadar HCG. USG yang dilakukan pun merupakan USG transvaginal. 

Namun, hal ini baru bisa dilakukan ketika kehamilan sudah mencapai umurnya. Jika masih  di awal-awal sekitar usia 5-6 minggu, tim medis akan melakukan pemeriksaan darah dan HCG. Pada kehamilan ektopik, HCG yang dihasilkan biasanya lebih sedikit dari kehamilan normal.

Penanganannya bagaimana?

Jika diketahui mengalami kehamilan ektopik, ibu harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan. Karena jika tidak dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan fatal untuk ibu.

Jika pada tuba tidak ada pertumbuhan janin yang terdeteksi, maka akan dilakukan suntik methotexrate untuk menghancurkan sel-sel yang sudah terbentuk. Jika setelah diinjeksi kadar HCG masih tinggi, maka suntikan methotexrate akan kembali dilakukan. 

Langkah yang lain adalah dengan operasi laparoskopi. Tuba falopii yang ditempati jaringan hamil ektopik akan diperbaiki jika memungkinkan.

Apa saja komplikasinya?

Jika kehamilan ektopik terlambat ditangani, maka ibu dapat mengalami komplikasi seperti pecahnya tuba atau rahim yang dapat mengakibatkan perdarahan di dalam tubuh. Hal ini sangat berbahaya dan berujung fatal pada kematian ibu.

Jika sudah seperti ini, maka harus dilakukan operasi besar untuk memperbaiki tuba jika masih bisa, meski pada umumnya tuba falopii harus diangkat. Penanganan dengan pembedahan pun mempunyai komplikasi tersendiri seperti akan terjadinya perdarahan, infeksi, dan rusaknya bagian di sekitar organ yang dioperasi. 


Pencegahan?

Tidak ada cara khusus untuk mencegah kehamilan ektopik ini. Jika ingin mencegah, maka yang harus dicegah adalah faktor risikonya seperti yang sudah disebutkan di atas.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal mengenai kehamilan ektopik. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar)

Pic by : Pixabay

No comments:

Post a Comment