KB Spiral, Kenapa Tidak? Ini Dia Seputar Kontrasepsi Spiral yang Perlu Sobat Bidan Tahu!

Selamat siang, Sobat Bidan!

Serba-serbi IUD
Sobat Bidan pasti sudah tidak asing lagi dengan KB spiral, ya? KB ini disebut juga IUD (Intra Uterine Device) atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim). Beberapa wanita terkadang takut menggunakan IUD, karena pemasangannya di dalam rahim yang terkesan 'ngeri'. Padahal, sebenarnya IUD ini merupakan kontrasepsi jangka panjang yang sangat efektif sekali untuk mencegah terjadinya kehamilan.

Nah, sebelum memutuskan untuk menggunakannya, ada baiknya jika Sobat Bidan berkenalan dulu dengan kontrasepsi berbentuk T ini. Simak sampai selesai, ya!

Apa itu IUD?

IUD atau spiral adalah alat kontrasepsi jangka panjang yang berbentuk T dan berbahan plastik yang dimasukkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan. 

Macam IUD

IUD ada 2 macam, yaitu IUD non-hormonal (dilapisi tembaga, coper T) dan IUD progesterone. IUD non-hormonal bisa digunakan dalam jangka waktu 10 tahun, sedang IUD progesterone bisa digunakan antara 3-5 tahun, tergantung jenis dan mereknya. 

Namun daripada itu, IUD bisa dilepas kapan saja oleh tenaga kesehatan terlatih apabila ibu berencana untuk hamil. 

Tingkat efektifitas

IUD merupakan KB jangka panjang dengan alat yang sangat efektif dibanding yang lainnya. Selama beberapa tahun, hanya tercatat 1 banding 100 wanita pengguna IUD yang kebobolan. Selain itu, tingkat pengembalian (reversibilitas) keadaan pemakai IUD (dari memakai menjadi tidak) sangatlah mudah, tinggal dilepas sehingga langsung bisa hamil lagi (jika memakai yang non-hormonal).

Cara kerja IUD
  • IUD yang dilapisi tembaga (non-hormonal) akan mengentalkan lendir serviks hingga menyebabkan sperma kesulitan untuk membuahi sel telur
  • IUD progesterone juga akan mengentalkan lendir serviks. Selain itu juga menipiskan dinding rahim dan mencegah terjadinya ovulasi sehingga tidak akan terjadi pembuahan
Apakah melindungi dari PMS?

IUD tidak melindungi kita dari Penyakit Menular Seksual (PMS), bila pasangan menderita PMS, hendaknya memakai kondom saat berhubungan agar tidak tertular. Sebelum melakukan pemasangan, petugas akan memeriksa dengan pasti apakah kita memiliki PMS atau tidak. Jika memiliki penyakit menular seksual, kemungkinan pemasangan akan diurungkan karena bisa IUD yang dipasang pada penderita PMS bisa memicu terjadinya penyakit radang panggul (PRP).

kondom, melindungi kita dari PMS
Efek samping IUD

Biasanya, efek samping yang paling umum terjadi pada pengguna IUD adalah :
  • Menstruasi tidak teratur pada beberapa bulan pertama
  • Darah menstruasi lebih banyak dan dismenorea lebih terasa (IUD tembaga)
  • Menstruasi lebih singkat bahkan tidak mens sama sekali (IUD progesterone)
  • Timbul gejala PMS, seperti sakit kepala, jerawatan, nyeri pada payudara (IUD progesterone)
  • Biasanya pasangan akan mengeluh sakit saat berhubungan karena penis yang menyentuh benang IUD 
Selain itu, ada beberapa masalah bagi pengguna IUD, namun ini jarang sekali terjadi, antara lain :
  • Pengeluaran paksa. IUD keluar dengan sendirinya dari rahim, jarang sekali terjadi. Hal ini bisa dikarenakan posisi IUD yang bergeser atau berubah. Sobat Bidan dianjurkan untuk sering mengecek posisi IUD ini dengan cara mengecek benangnya. Lakukan dengan berjongkok, lalu masukkan jari ke dalam Miss V untuk meraba apakah benang masih di sana, berkurang atau tidak panjangnya. Setelah tiga bulan pemasangan, Sobat Bidan juga harus kembali ke tempat IUD dipasang untuk dicek apakah masih dalam posisi yang benar
  • Perforasi rahim. Perforasi atau perlukaan pada rahim yang disebabkan gesekan IUD. Hal ini sangat jarang terjadi
  • Penyakit radang panggul. Infeksi dapat saja terjadi saat pemasangan IUD yang menyebabkan bakteri masuk ke dalam rahim. Ini biasanya terjadi setelah 20 hari pemasangan. Jika benar terjadi, hal ini akan membuat wanita berisiko mengalami PRP. Namun, sekali lagi, kejadian semacam ini jarang sekali terjadi
Siapa yang bisa menggunakan IUD?

Semua wanita bisa memakai kontrasepsi ini. Utamanya, wanita yang masih produktif dalam usia subur dan dalam fase 'menjarangkan'. Artinya, dia sudah memiliki beberapa anak, namun masih berkeinginan untuk punya anak lagi dan usianya masih aman untuk hamil. 

Wanita baru menikah yang mungkin belum siap punya anak juga bisa memakai IUD non-hormonal. Karena selain efektifitasnya tinggi, cara pengembalian ke masa suburnya juga mudah. Jadi, saat dia sudah siap memiliki anak, tinggal dilepas saja.

Selain itu, wanita dengan hipertensi dan sedang menyusui juga bisa memakai IUD non-hormonal. Karena tidak mengandung hormon, kontrasepsi ini tidak akan berpengaruh pada tensi darah pemakainya dan tidak mempengaruhi produksi ASI.

Ibu menyusui bisa memakai IUD
Yang tidak dianjurkan memakai IUD


Wanita yang tidak dianjurkan memakai kontrasepsi ini, antara lain :

  • Wanita dengan penyakit radang panggul
  • Penderita PMS aktif
  • Wanita yang sedang hamil
  • Wanita yang mengalami perdarahan abnormal
  • Wanita yang memiliki masalah pada rahimnya seperti penyakit atau malformasi (bentuk rahim yang tidak sesuai)
Cara mendapatkan IUD?

Pemasangan IUD harus dilaksanakan oleh dokter obgyn atau bidan yang sudah mendapat sertifikasi pemasangan IUD. Sobat Bidan bisa datang ke rumah sakit atau Puskesmas untuk KB ini.

Harga?

Untuk harga IUD tergantung merek yang digunakan. Tapi, biasanya untuk IUD 3-5 tahun akan dikenai biaya sekitar 300 - 400 ribu, sedangkan IUD 10 tahun umumnya sekitar 500 - 600 ribu rupiah.

Informasi terbaru dari Bidan Vera, bagi Sobat Bidan yang memiliki BPJS, pemasangan kontrasepsi IUD tembaga (non-hormonal) ini juga ditanggung oleh BPJS. Sobat Bidan tidak perlu mengeluarkan biaya apabila melakukan pemasangan di tempat yang menyelenggarakan dan bekerja sama dengan BPJS. Begitu juga dengan KB implan.

Nah, itu dia Sobat Bidan, serba-serbi IUD yang harus Sobat Bidan tahu sebelum menggunakannya. Semoga postingan ini bermanfaat, ya!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar)

Pic by : Pixabay

No comments:

Post a Comment