Hamil Bayi Kembar? Sobat Bidan Perlu Tahu Risikonya Bagi Ibu dan Janin

Selamat siang, Sobat Bidan!
Bayi kembar? Siapa yang tak mau!

Banyak di antara kita yang menginginkan anak kembar, ya. Selain lucu dan menggemaskan, melahirkan bayi kembar memang seperti setali tiga uang. Sekali mengandungnya, langsung mendapat dua anak sekaligus.

Eh, tapi jangan salah, ya. Mengandung bayi kembar tidak semudah kelihatannya, lho! Selain itu, risiko yang bisa terjadi pada ibu dan janin pun lebih besar dari hamil biasa. Apa saja risiko itu? Simak, yuk!

1. Bagi Ibu

Selama kehamilan, ibu yang mengandung bayi kembar akan berisiko tinggi mengalami :

  • Anemia. Adanya pengenceran darah selama hamil membuat ibu yang mengandung bayi tunggal saja rentan mengalami anemia. Apalagi jika yang dikandungnya adalah bayi kembar, maka otomatis kebutuhan zat besi akan bertambah lebih banyak lagi, untuk si ibu dan kedua bayi (jika kembar dua). Apabila kebutuhan zat besi ini tidak tercukupi, maka sudah pasti ibu akan mengalami anemia.
  • Hidramnion. Adalah kelebihan air ketuban selama kehamilan. Ini bisa disebabkan karena adanya kelainan pada janin, misal janin dengan ananchepal, janin besar atau kecil pada ibu dengan diabetes gestasional, juga janin kembar. Jika tidak ditangani, hidramnion bisa menyebabkan bayi lahir prematur, ibu sesak napas, dan kelainan letak janin.
Perut yang membuncit terlalu besar bisa jadi salah satu tanda hidramnion
  • Pre-eklampsia atau keracunan kehamilan. Sebenarnya ini juga bisa terjadi pada ibu dengan kehamilan normal, karenanya ibu dengan hamil ganda harus lebih waspada. Mengenai pre-eklampsia akan kita bahas di postingan selanjutnya.
  • Solusio Plasenta, adalah lepasnya plasenta (ari-ari) dari dinding rahim sebelum proses persalinan. Hal ini merupakan komplikasi yang sangat serius karena berbahaya sekali bagi janin mau pun ibu. Ibu akan merasakan sakit perut yang hebat dan keluar darah segar dari jalan lahirnya. Janin akan mengalami gawat janin bahkan kematian karena asupan makanan dari plasenta telah terputus. Satu-satunya cara untuk mengatasi kasus ini adalah dengan terminasi kehamilan (mengakhiri kehamilan).
Tidak hanya selama hamil, dalam proses persalinan pun ibu dengan hamil ganda dapat mengalami risiko, di antaranya :
  • Inersia Uteri. Kasus ini merupakan ketidaknormalan kontraksi rahim, yaitu rahim tidak berkontraksi dengan kuat sehingga serviks (leher rahim) tidak terbuka dan kepala bayi tidak turun-turun. Ini tentu saja akan menghambat dan memperlama proses persalinan.
  • Persalinan lama terutama pada bayi kedua dan seterusnya. Hal ini bisa disebabkan karena inersia uteri tadi. Bisa juga karena ibu sudah kelelahan dan tenaga terkuras habis saat melahirkan bayi pertamanya.
  • Perdarahan Post-Partum. Adalah perdarahan yang terjadi pasca persalinan. Bisa disebabkan karena inersia uteri seperti yang disebutkan di atas. Setelah persalinan kala dua dan kala tiga (bayi dan plasenta lahir), penting sekali untuk memastikan bahwa rahim berkontraksi dengan baik. Jika rahim tidak mengeras (tetap lembek), itu artinya rahim tidak berkontraksi dan akan menyebabkan terjadinya perdarahan post-partum.

Rahim tidak berkontraksi penyebab perdarahan

2. Bagi Janin

Selain berisiko besar bagi ibu, berikut adalah risiko bagi janin dalam kehamilan ganda :
  • Lahir prematur. Sesuai penjelasan di atas, kehamilan ganda berisiko lebih besar melahirkan bayi prematur. Bayi prematur sendiri memiliki komplikasi yang cukup tinggi setelah lahir karena belum matangnya organ-organ vital di tubuhnya.
  • Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Berat lahir yang normal bagi bayi adalah antara 2,5 kg - 4 kg. Selama kehamilan, gizi dari ibu dengan hamil ganda akan terbagi tidak hanya dengan satu janin. Karenanya, risiko bayi lahir dengan BB rendah bisa lebih besar terjadi pada ibu dengan hamil ganda.
  • Kelainan letak. Hal ini sudah pasti terjadi pada janin yang kembar. Jika salah satu di antaranya letaknya normal (ubun-ubun kecil), maka yang lain tentu akan terjadi kelainan letak. Kasus ini bisa berubah saat bayi pertama sudah lahir. Bayi kedua bisa berputar dan letak bisa dibenahi menjadi normal.
  • Angka Kematian Bayi (AKB) kedua dan atau seterusnya lebih tinggi. Ini bisa disebabkan karena solusio plasenta tadi (plasenta sudah lepas setelah kelahiran bayi pertama). Bisa juga karena faktor ibu yang sudah terlalu lelah, atau inersia uteri.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa risiko yang bisa terjadi pada ibu dan janin dengan kehamilan ganda. Karenanya, ibu yang tengah mengandung janin kembar, harus ekstra menjaga kesehatan diri dan janinnya. Sering-seringlah melakukan ANC (antenatal care) ke BPM atau dokter kandungan untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pixabay

No comments:

Post a Comment