Sobat Bidan, Kenapa Tidak Ber-KB?

Siang, Sobat Bidan!

Sudahkah Sobat Bidan ber-Kb?

Seperti yang kita tahu, di negara ini ada salah satu program kesehatan yang namanya Keluarga Berencana (KB). Mekanisme atau cara ber-KB ini macam-macam, ya. Ada yang menggunakan cara sederhana, misal dengan KB kalender atau kondom, ada juga yang ber-KB dengan alat. Nah, KB dengan alat inilah yang lebih familiar di kalangan wanita Indonesia. Ada banyak macamnya, seperti KB suntik, pil, implant, serta IUD.

Tapi, seiring perkembangan zaman dan kemajuan, kini bukan hanya wanita saja yang bisa ber-KB, melainkan pria atau para suami juga bisa. Dengan apa? Vasektomi, ya, yaitu pemutusan atau pengikatan jalan sperma pada pria. Kita akan membahas ini di postingan-postingan selanjutnya.

Di sisi lain, keanekaragaman negeri ini juga menghasilkan keanekaragaman pendapat. Tak jarang, ada yang menganggap bahwa program KB ini tidak boleh dilakukan (haram). Khususnya bagi umat Islam, memang benar bahwa kita tidak boleh membatasi atau menjarangkan kelahiran. Hal ini berlandaskan pada hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Thabrani, yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW. akan berbangga bila kelak di hari akhir paling banyak jumlah umatnya.

Tentunya hal ini menjadi bertentangan dengan slogan KB sendiri, yaitu Dua Anak Cukup. Program KB memang menekankan pada keluarga Indonesia untuk memiliki dua anak saja. Lalu, bagaimana mensiasati hal itu?

Dalam rangka dies natalis Akademi Kebidanan saya dulu, kami mengadakan kajian akbar dengan mendatangkan pembicara yaitu seorang profesor yang juga sekaligus ulama setempat. Pada sesi tanya jawab, saya sempat menanyakan pendapat beliau tentang pro-kontra KB ini.

Dengan santai, beliau menjawab bahwa KB itu dibolehkan. Tapi, dengan catatan niat kita ikut KB bukan untuk membatasi atau menjarangkan kelahiran. Terus, untuk apa, dong? Untuk mengatur kelahiran. Karena, kata beliau lagi, secanggih apa pun KB yang dipakai, bila Tuhan sudah menghendaki kita punya anak, maka itulah yang terjadi.

Sudah jelas, Sobat Bidan?

Bila kita ber-KB dengan niat membatasi jumlah anak atau takut miskin bila punya banyak anak, itu yang tidak dibolehkan. Namun, jika niat ber-KB adalah untuk mengatur kelahiran, misal jarak kelahiran satu anak dengan anak berikutnya, silakan saja. Hal ini baik untuk ibu dan bayi, juga untuk negara. Kelahiran yang teratur, ibu yang paham sampai usia berapa anak puas mendapat kasih sayang dan siap memiliki adik, patuh pada patokan 'wanita yang sudah/masih boleh hamil', tentu akan mencetak generasi yang baik untuk negara.

Selain Rasulullah akan berbangga dengan jumlah umatnya yang banyak, Sobat Bidan juga tidak boleh melupakan dalil yang satu ini, ya. Bahwa kita tidak boleh meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah (surat An-Nisa' ayat 9). 

Jangan sampai meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah!
Ini bisa diartikan bahwa selain kuantitas atau jumlah, kita juga harus memperhatikan kualitas keturunan kita. Sobat Bidan pilih mana, banyak anak tapi kualitasnya tidak maksimal, atau sedikit anak tapi kualitasnya sangat baik? Tentunya pilih banyak anak dan kualitasnya baik, ya. Semoga saja bisa seperti itu.

Akhirnya, semua harus kembali pada kemampuan personal. Jika kita memiliki aset yang cukup untuk mencetak keturunan dengan kualitas sejahtera (seperti yang dibilang pada ayat tadi) dan baik, alangkah baiknya punya banyak anak. Sejahtera yang dimaksud mencakup banyak hal, contohnya kita bisa menjamin pendidikannya agar kelak dia menjadi seorang alim yang berguna, menjamin akhlaknya baik dan mampu membawa kita pada derajat yang tinggi. Sejahtera di sini bukan melulu soal harta, tapi lebih pada bagaimana nanti si anak mampu menyikapi semua keadaan dengan baik.

Akan tetapi, jika saat ini keadaan kita belum memungkinkan untuk itu, alangkah baiknya jika kita mengatur kelahiran anak sembari menata kondisi dan mempersiapkan diri kita menjadi lebih baik lagi. Bukan dibatasi, bukan dijarangkan. Hanya saja diatur untuk kemaslahatan ibu, anak, keluarga, juga negara. 

Selain faktor perintah dalam ayat di atas, patuhi juga aturan 4T berikut, karena ini juga merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan saat kita memutuskan untuk punya anak lagi.

  • Terlalu tua
  • Terlalu muda
  • Terlalu sering
  • Terlalu dekat

Usia ibu yang terlalu tua atau terlalu muda dalam kehamilan dan persalinan akan berdampak buruk. Jangan pula melahirkan terlalu sering dengan jarak yang terlalu dekat, ini juga tidak baik untuk ibu. Kita akan mengupas tuntas perihal ini dalam postingan selanjutnya.

Jadi, kesimpulannya adalah, setiap keluarga memang perlu mengatur jumlah kelahiran dengan melihat berbagai faktor. Dan salah satu cara untuk mengatur itu semua adalah dengan ber-KB. Jadi, apa Sobat Bidan masih ragu untuk ber-KB? Apa pun keputusan Sobat Bidan, jangan lupa untuk selalu berbahagia. Jadilah keluarga yang bahagia. 

Jadilah keluarga yang bahagia dan sejahtera!

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Bila ada komentar, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pixabay.com


No comments:

Post a Comment