Empat Perubahan Psikologis Masa Nifas Ini Bisa Terjadi Pada Sobat Bidan. Apa Saja Itu?

Selamat siang, Sobat Bidan!
Selamat menjadi I-B-U :)

Melewati proses melahirkan yang begitu menegangkan dengan lancar adalah karunia yang sangat besar, ya. Sobat Bidan wajib bersyukur pada Tuhan atas nikmat kesehatan yang diberikan-Nya pada Sobat Bidan dan si kecil. Berterima kasih juga pada suami dan keluarga yang sudah mendukung dan menemani selama proses persalinan.

Kini, Sobat Bidan telah resmi menjadi ibu. Tugas di depan sudah menghadang, mulai dari merawat si kecil, menyusui, dan segala tetek bengeknya. Apakah akan terasa melelahkan? Ibu baru khususnya, tentu akan merasakan sesuatu yang sangat berbeda dari sebelum memiliki bayi. Rasa lelah, bahkan mungkin kondisi psikologis yang belum membaik pasca melahirkan pun akan turut mempengaruhi sikap ibu pada bayi.

Terkait hal ini, ada empat perubahan psikologis selama masa nifas yang bisa saja terjadi pada Sobat Bidan setelah melahirkan. Apa saja itu? Mari kita simak bersama-sama!

1. Baby Blues

Tidak semua wanita merasakan kegembiraan dan bahagia pasca melahirkan ya, Sobat Bidan. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor. Misalnya saja, karena keletihan fisik yang berlebihan, latar belakang psiko-sosial yang kurang baik, faktor demografik seperti umur yang masih terlalu muda, juga pengalaman selama hamil dan melahirkan yang kurang baik.

Semua faktor ini bisa menyebabkan seorang ibu mengalami baby blues atau post-natal syndrome. Menurut penelitian, 50-70% wanita pasca melahirkan akan mengalami gejala ini. Faktor lain yang menyebabkan baby blues adalah penurunan hormon progesteron yang begitu tiba-tiba. Selama hamil, hormon ini akan meningkat pesat dan setelah melahirkan akan menurun derastis. Hal ini akan memengaruhi kondisi fisik dan emosi ibu.

Baby blues merupakan gejala depresi masa nifas yang paling ringan. Biasanya gejala ini akan terjadi dalam hari ke empat sampai sepuluh hari pasca persalinan. Dengan adanya dukungan suami dan keluarga yang baik, baby blues bukan merupakan masalah yang serius dan akan hilang dengan sendirinya.

2. Post-Partum Blues

Beda dengan baby blues yang muncul pasca melahirkan, post-partum blues sudah dibawa sejak masa kehamilan. Selama masa-masa hamil ini, ibu senantiasa merasa sedih dan tidak senang atas kehadiran bayi di dalam rahimnya. Hal tersebut bisa disebabkan oleh berbagai faktor, misal karena kehamilan di luar nikah atau seorang istri yang mungkin belum ingin hamil.

Sebenarnya, post-partum blues merupakan gejala yang wajar mengingat letihnya proses persalinan yang menguras tenaga ibu. Bila mengalami post-partum blues, ibu akan merasa cemas, kesepian, khawatir akan kondisi bayi, serta tidak percaya diri. Selain itu, ibu yang mengalami gejala ini akan menurun hasrat seksualnya dan mudah sekali menangis.

Dukungan dari suami, keluarga, dan penyuluhan pasca melahirkan oleh nakes akan sangat membantu ibu melewati masa-masa ini.

3. Depresi Post-Partum

Tingkatan selanjutnya yang lebih parah dari perubahan psikologis masa nifas adalah depresi post-partum. Ini adalah perasaan sedih yang dirasakan oleh ibu karena merasa kebebasannya direnggut setelah dia punya anak. Selain itu, ketakutan akan estetika dan bentuk tubuh serta berkurangnya interaksi sosial dan kemandirian dapat menjadi penyebabnya.

Ibu yang mengalami depresi post-partum akan mengalami gejala psikologis seperti sulit tidur, tidak nafsu makan, cemas, kehilangan kontrol pikiran, dan merasa tidak berdaya. Selain itu, ibu akan dihantui oleh ketakutan-ketakutan sehingga dia tidak mau menyentuh bayinya, serta tidak peduli dengan keadaan si kecil. Sementara, gejala fisik yang menyertai adalah kesulitan untuk bernapas, serta jantung yang berdebar tidak beraturan.

Peran suami, keluarga, dan nakes sangat penting untuk membantu ibu melewati masa ini. Jangan sampai bersikap atau berbicara yang dapat menyinggungnya, ya. Tingkat sensitifitas ibu sedang tinggi-tingginya.

4. Depresi Masa Nifas

Inilah tingkatan yang paling serius bagi kondisi psikologis ibu pasca melahirkan. Depresi masa nifas biasanya disebabkan karena kesibukan dan keletihan ibu bahkan sejak sebelum hamil. Misalnya, seorang wanita karir yang sangat padat kegiatan hariannya, atau ibu yang kelelahan mengurusi anak-anaknya yang lain.

Apa ibu kelelahan?
Gejala dari depresi masa nifas antara lain ibu akan gampang sekali murung, mudah marah, serta tidak peduli pada bayinya. Bahkan, pada tingkatan yang lebih serius lagi, ibu bisa mengalami halusinasi pendengaran yang membisikkan dirinya untuk berbuat jahat pada sang bayi. Jika sudah begini, ibu harus dibawa ke psikiater untuk terapi agar tidak membahayakan sang bayi.


Nah, itu dia Sobat Bidan, empat perubahan psikologis masa nifas yang bisa terjadi pada siapa saja. Lalu, bisakah hal ini dicegah? Tentunya bisa, ya. Dengan kerjasama dan dukungan sepenuhnya dari suami dan keluarga, ibu pasti bisa mengatasi berbagai keadaan tersebut.

Buat ibu merasa bahagia dan nyaman sejak dari masa kehamilannya. Hal ini akan memberi pengaruh besar dalam menghadapi pasca persalinannya nanti. Jadi, sekali lagi saya tekankan, berbahagialah dengan kehamilan Sobat Bidan semua!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Apabila ada pertanyaan, kritik, dan saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by: Pixabay.com

No comments:

Post a Comment