Selamat pagi, Sobat Bidan!

Kenapa HPL meleset dari perkiraan?
Kadang kita menemui atau bahkan mengalami sendiri perihal melesetnya tanggal kelahiran dari perkiraan. HPL tanggal 17, tanggal 9-nya sudah melahirkan. Atau justru malah mundur, tanggal 24-nya baru melahirkan. Kira-kira kenapa ya, kok bisa begitu?

Oh, ternyata ini penyebabnya Sobat Bidan, simak sampai habis, yuk!

1. Salah mengingat HPHT

Cara yang paling sederhana untuk menentukan tanggal persalinan adalah dilihat dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT), padahal, cara ini hanya efektif bagi mereka yang siklus haidnya lancar. Akan sulit menentukan tanggal persalinan dengan hitungan HPHT jika siklus haid seseorang tidak lancar setiap bulannya.

Proses pembuahan dari pertama sel telur dan sperma bertemu adalah dua minggu. Karenanya, umur kehamilan yang matang dan siap melahirkan adalah 40 minggu yang berarti jarak dari pembuahan sampai HPL adalah 38 minggu. Nah, biasanya ibu juga akan lupa dengan HPHT-nya sendiri atau cuma sekadar mengingat-ingat saja. Jika HPHT-nya salah, tanggal pembuahan juga akan ikut salah sehingga HPL pun meleset dari perkiraan.

2. Ukuran rahim

Persalinan bisa terjadi lebih cepat apabila ukuran rahim seseorang besar dan sudah siap melakukan proses itu. Di awal kehamilan, yaitu usia 12 minggu, bagian atas rahim atau fundus sudah berada di atas panggul. Pada saat umur kehamilan mencapai 18 minggu, jarak antara tulang panggul dan rahim mungkin akan sama dengan jumlah minggu setelah berakhirnya periode haid. Inilah yang bisa membuat tanggal persalinan meleset dari perkiraannya.


3. Ukuran leher rahim (serviks)

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita yang ukuran leher rahimnya lebih pendek setelah diperiksa melalui USG, cenderung akan lebih cepat melahirkan. 85% persen wanita yang punya leher rahim sepanjang 1 cm saja lebih cepat melahirkan dibanding yang panjang leher rahimnya mencapai 2,5 cm. Saat proses kehamilan menjelang bersalin, leher rahim akan semakin menipis untuk memudahkan proses persalinan.

4. Posisi janin di dalam kandungan

Posisi janin di dalam kandungan juga menentukan cepat tidaknya persalinan. Posisi yang tepat dengan puncak kepala berada di bawah, kepala janin sudah masuk ke panggul dan mapan dengan sempurna, maka bersiaplah untuk persalinan yang lebih awal. Sementara bila sudah mendekati HPL tapi janin belum juga mapan, bisa jadi ada kelainan yang perlu diperiksa lebih lanjut lagi.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa penyebab kenapa tanggal HPL bisa bergeser dari perkiraan. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com
Selamat siang, Sobat Bidan!


Kehamilan merupakan salah satu keadaan yang paling rentan dan krusial bagi seorang wanita. Karena itu, kondisi selama atau pun sebelum hamil harus dipersiapkan dengan baik agar tidak sampai jatuh sakit apalagi sampai terkena komplikasi. Untuk meminimalisir hal tersebut, ada beberapa test yang mesti Sobat Bidan jalani sebelum memutuskan untuk hamil. Apa saja test tersebut? Simak ulasan ini sampai selesai, ya.

1. Tes darah untuk mendeteksi adanya penyakit genetik

Tes darah sebelum hamil banyak sekali tujuan maupun manfaatnya. Misal bagi ibu yang belum tahu golongan darahnya, dengan tes darah jadi tahu. Selain itu, tes darah ini lebih penting lagi sebagai pengecek adanya penyakit genetik atau tidak. Contoh penyakit genetik seperti Tay Sachs (kondisi yang menghancurkan sel-sel dalam tubuh), sel sabit (keadaan tidak adanya sel darah merah yang mengantarkan oksigen dalam tubuh), dan lain-lain. 

Apabila penyakit genetik ini sudah dideteksi sejak sebelum hamil, tentunya akan mencegah risiko penularan selama kehamilan. Wanita yang diketahui mengalami penyakit genetik dianjurkan untuk program bayi tabung supaya gen embrionya bisa dites lebih dulu.

2. Tes fungsi hormon tiroid

Masih dengan cara tes darah sederhana, tes ini berfungsi untuk mengetahui fungsi hormon tiroid. Hasilnya bisa jadi hipotroidisme, normal, ataupun hipertiroidisme. Hipotiroid adalah keadaan di mana tubuh memiliki hormon tiroid yang tidak cukup untuk perkembangan janin secara normal. Ini dapat berakibat hal yang sama bagi janin. Sedangkan hiper artinya tubuh memiliki hormon tiroid yang berlebihan. Ini juga berbahaya bagi janin karena hormon tersebut dapat masuk ke plasentanya dan membuat janin juga mengalami hipertiroidisme.

3. Pap Smear

Pap smear merupakan salah satu tes untuk mengecek adanya kanker serviks atau tidak di rahim wanita. Wanita yang sudah aktif berhubungan seksual lebih dari satu tahun, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pap smear untuk mendeteksi ada tidaknya kanker serviks. Bila ditemukan ada kelainan, maka dokter akan melakukan biopsi. Biopsi ini sebaiknya dilakukan sebelum hamil karena jika saat hamil dilakukan biopsi, ibu bisa mengalami nyeri atau kram yang hebat. 

4. Tes penyakit kelamin

Beberapa ahli medis menyarankan wanita untuk tes penyakit kelamin terlebih dahulu sebelum memutuskan hamil. Hal ini untuk mengetahui apakah ada penyakit kelamin yang diidap atau tidak, misalnya seperti klamidia atau bahkan HIV-Aids. Klamidia sendiri bisa menghambat proses pembuahan, jadi bila tahu sebelum hamil, maka bisa diobati terlebih dahulu. HIV tentu sangat berbahaya karena akan menular ke bayi selama proses hamil, jadi sebelum hamil tentu harus tahu dulu mengenai status ini.

5. Tes gula darah

Mengetahui kadar gula darah bagi wanita yang tidak menderita diabetes penting dilakukan sebelum hamil. Apalagi wanita yang punya diabetes, hal ini tentu menjadi kewajiban. Diabetes dapat menyebabkan komplikasi selama kehamilan, yaitu dapat menyebabkan bayi lahir dengan kdar gula darah yang rendah, bayi besar, bahkan kematian.

Persiapkan kehamilan Anda sebaik mungkin
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa tes yang dianjurkan untuk dilakukan sebelum memutuskan mengikuti program hamil. Semuanya demi kebaikan dan kesehatan ibu beserta janinnya. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com
Selamat siang, Sobat Bidan!

Skrining IVA untuk deteksi kanker serviks
Sobat Bidan sudah pernah dengar tentang IVA? Ya, ini merupakan skrining sederhana untuk mendeteksi kanker rahim pada wanita. Karena penyakit ini masih jadi momok nomor satu pembunuh wanita, maka sebaiknya kita bisa mencegah atau setidaknya mendeteksi dini penyakit ini.

Apa itu IVA? Siapa saja yang harusnya melakukan IVA? Simak ulasan selengkapnya sampai habis, ya!

IVA adalah?

IVA merupakan kependekan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat, merupakan cara sederhana untuk mendeteksi kanker serviks sedini mungkin.

Kelebihan IVA dengan pemeriksaan pap smear adalah lebih murah, praktis, dan sangat mudah dilakukan karena hanya menggunakan alat sederhana oleh tenaga medis selain dokter ginekologi sekalipun.

Bagaimana penatalaksanaan skrining IVA?

Berikut adalah langkah-langkah bila Sobat Bidan melakukan skrining IVA :

  • Akan diberi penjelasan terlebih dahulu tentang IVA dan prosedur pemeriksaan dengan privasi yang terjaga
  • Berbaring dengan posisi litotomi (kedua lutut ditekuk dan kaki membuka lebar)
  • Vagina akan dilihat terlebih dahulu secara visual, apakah ada kelainan atau tidak
  • Vagina akan dimasuki alat yang bernama spekulum steril (cocor bebek pelebar vagina) yang berfungsi untuk melihat leher rahim
  • Bila ada cairan yang menumpuk di leher rahim, maka akan digunakan kapas steril untuk menyerapnya
  • Larutan asam asetat 3-5℅ akan diteteskan ke leher rahim dengan menggunakan pipet dan reaksinya sudah bisa dilihat kurang dari 1 menit saja
  • Bila warna leher rahim berubah jadi keputih-putihan, itu merupakan tanda kemungkinan positif kanker, dan jika leher rahim tidak berubah warna menjadi putih berarti hasilnya negatif
Kapan sebaiknya IVA ini dilakukan?

WHO telah memberikan jadwal tersendiri mengenai skrining deteksi dini kanker serviks pada perempuan, yaitu :
  • Skrining pada setiap perempuan minimal 1x di usia 35-40 tahun
  • Lakukan setiap 10 tahun sekali pada usia 35-55 tahun bila fasilitas memungkinkan, akan lebih baik setiap 5 tahun sekali
  • Anjuran untuk melakukan skrining ini di Indonesia adalah 1 tahun bila hasil tes positif, dan 5 tahun bila hasilnya negatif
  • Idealnya dilakukan setiap 3 tahun pada perempuan usia 25-60 tahun
Syarat untuk mengikuti IVA?

Adapun perempuan yang sebaiknya melakukan tes ini adalah dengan syarat sebagai berikut  :
  • Perempuan yang sudah pernah dan aktif melakukan hubungan seksual
  • Tidak sedang hamil
  • Tidak sedang menstruasi
  • Tidak melakukan hubungan seksual 24 jam sebelumnya
Di mana melakukan IVA?

IVA bisa dilakukan di fasilitas kesehatan yang sudah terdapat peralatan untuk itu. Bisa juga dilakukan di klinik bidan atau dokter kandungan, juga dokter umum.

Sayangi rahimmu
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal yang harus Sobat Bidan tahu tentang IVA. Jadi, jangan tunggu lama-lama lagi, ya. Yuk, segera periksa!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com

Selamat siang, Sobat Bidan!


KB suntik masih menduduki peringkat pertama pemakaian. Angka ini mencapai 47% dibanding KB implan dan IUD. Padahal, jika dibandingkan kedua KB ini, KB suntik masih kalah tingkat efektivitasnya. Nah, untuk Sobat Bidan yang ingin memakai KB suntik 3 bulan, ada baiknya untuk mengetahui beberapa hal ini dulu. Simak sampai selesai, ya.

Apa itu KB suntik 3 bulan?

KB suntik 3 bulan merupakan kontrasepsi yang diberikan setiap 3 bulan sekali melalui injeksi. Isinya merupakan hormon progestin saja, tanpa estrogen. Jadi, ini merupakan metode KB hormonal. Hormon progestin nantinya akan dilepas ke dalam pembuluh darah, dan akan berangsur menurun sampai tahap penyuntikan selanjutnya. Untuk injeksi sendiri biasa dilakukan di bagian pantat, lengan atas, atau paha.

Bagaimana cara kerjanya?

Cara kerja kontrasepsi suntik 3 bulan ini adalah :

  • Menghentikan pelepasan sel telur ke dalam rahim, sehingga tidak terjadi pembuahan
  • Mengentalkan cairan vagina sehingga menghambat masuknya sperma
  • Menipiskan dinding rahim sehingga proses penempelan hasil pembuahan tidak berhasil
Apa kelebihan dan kekurangan KB suntik 3 bulan?

Mengenai kelebihan KB suntik 3 bulan, berikut di antaranya :
  • Tidak berpengaruh pada ASI. Jadi, ibu menyusui aman memakai KB ini
  • Tidak perlu menggunakan obat-obatan lain
  • Bisa mengurangi timbulnya kanker ovarium dan kanker rahim
  • Tidak perlu repot berhitung saat hendak berhubungan seksual
  • Tidak perlu mengingat-ingat seperti KB pil
  • Jika ingin berhenti, tidak perlu repot. Tinggal berhenti saja melakukan penyuntikan
Tidak berpengaruh pada ASI
Berikut di antara kekurangan KB suntik 3 bulan :
  • Memerlukan waktu satu tahun setelah pelepasan untuk kembali subur. KB ini tidak cocok untuk pasangan yang ingin segera mempunyai anak
  • Menimbulkan efek samping, seperti : pusing kepala, kenaikan berat badan, payudara nyeri, mens tidak teratur, dan perdarahan
  • Tidak mencegah dari penularan infeksi menular seksual, karenanya perlu memakai kondom
  • Dapat mengurangi kepadatan tulang, namun akan kembali normal setelah pelepasan
Siapa yang tidak dibolehkan memakai KB suntik?

Wanita yang memiliki kontraindikasi untuk melakukan KB suntik 3 bulan, yaitu :
  • Wanita dengan gangguan migrain, gangguan hati, pembekuan darah, riwayat penyakit jantung, penderita diabetes, kanker payudara, berisiko mengalami osteoporosis, dan mengalami perdarahan saat menstruasi
  • Wanita yang diduga hamil
  • Wanita yang siklus menstruasinya ingin tetap teratur
KB suntik 3 bulan membuat mens tidak teratur
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal mengenai KB suntik 3 bulan yang perlu Sobat Bidan tahu. Bagaimana, sudah ada gambarannya? Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com
Selamat siang, Sobat Bidan!


Angka Kematian Bayi masih menjadi PR besar bagi para tim medis. Khususnya pada bayi baru lahir, kejadian kematian bayi masih sering dialami. Utamanya di negara-negara berkembang, AKB dan AKI masih perlu ditekan agar semakin berkurang.

Bayi baru lahir atau neonatus memang masih sangat rentan sekali keadaannya. Salah sedikit saja, bisa membahayakan si kecil. Namun, ada 3 hal yang menjadi penyebab kematian terbesar bagi bayi baru lahir. Apa saja tiga hal itu? Simak sampai habis ya, Sobat Bidan!

1. Asfiksia (gagal napas)

Asfiksia biasanya terjadi pada bayi baru lahir yang disebabkan karena adanya gangguan susunan saraf pusat yang mengakibatkan paru-paru gagal bernapas. Faktor yang menyebabkan asfiksia pada bayi baru lahir juga banyak sekali, di antaranya adalah stres janin yang bisa terjadi karena ibu yang juga mengalami stres saat hamil. Asfiksia biasanya juga dialami pada bayi yang lahir kurang bulan (premature). Hal ini disebabkan karena belum matangnya organ pernafasan bayi. 

Akan kita bahas lebih lanjut tentang asfiksia pada bayi baru lahir ini di postingan selanjutnya, ya.

2. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Penyebab kematian bayi baru lahir selanjutnya adalah kasus BBLR pada bayi. Ini pun banyak sekali faktor penyebabnya, di antaranya adalah umur ibu yang terlalu muda (di bawah 20 tahun) atau terlalu tua (di atas 35 tahun). Ibu dengan umur yang tidak diperkenankan hamil lagi cenderung akan mengalami berbagai komplikasi kehamilan yang dapat menyebabkan berat bayi lahir rendah.

Hal ini tentu bisa dicegah dengan pemenuhan nutrisi dan gizi yang adekuat selama kehamilan, juga menjaga kesehatan ekstra bagi ibu. Bayi kurang bulan juga berisiko mengalami BBLR saat lahir.



3. Infeksi dan komplikasi dini pada saat lahir

Faktor penyebab kematian bayi baru lahir yang lain adalah infeksi dan komplikasi dini yang terjadi pada bayi. Indonesia sendiri merupakan negara dengan tingkat kematian ibu terbesar di Asia Tenggara. Tak kurang 10.000 ibu meninggal karena komplikasi yang terjadi selama kehamilan hingga persalinan. 

Kematian ibu erat kaitannya dengan kematian bayi. Infeksi pada bayi baru lahir berisiko lebih besar pada bayi-bayi premature dan BBLR. Misalnya saja karena infeksi bakteri sejak dari dalam rahim, infeksi tali pusat, serta komplikasi-komplikasi lainnya. 

Nah, itu dia Sobat Bidan, 3 penyebab paling besar kematian pada bayi baru lahir. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pixabay
Selamat sore, Sobat Bidan!


Sobat Bidan tentu pernah mendengar mitos atau istilah mutih, ya? Mutih merupakan tata cara makan minum dengan yang serba putih-putih dan direbus. Misalnya nasi putih, tahu tempe rebus, sayur rebus, dan air putih. Hal ini bagus untuk diet ya, tapi masyarakat kita kadang masih keliru menerapkan.

Mutih ini diterapkan pada ibu-ibu yang baru saja melahirkan selama masa nifas mereka atau 40 hari. Alasannya adalah agar tubuh sang ibu kembali singset ke bentuknya semula sebelum hamil. Namun, apakah mitos ini dibenarkan?

Tentu saja hal ini sangat salah, salah kaprah malah. Ibu nifas dilarang makan ikan, telur, katanya itu akan memperlama proses mengeringnya jahitan. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Protein dalam ikan dan telurlah yang akan mempercepat tumbuhnya jaringan baru. Karena alasan ini banyak ibu pasca melahirkan yang dipaksa untuk mutih oleh orangtua-orangtua mereka.

Makan makanan rebus yang itu-itu saja tentunya tidak akan bisa mencukupi gizi seorang ibu nifas. Bila kekurangan gizi, yang terjadi pada ibu nifas adalah terganggunya proses evolusi atau pemulihan organ-organ yang berperan selama melahirkan dan kehamilan. Selain itu, pengeluaran ASI juga menjadi terganggu karena kurangnya asupan gizi tadi. Tentunya ini akan merugikan ibu juga si kecil.

Supaya lebih jelas, berikut adalah daftar kebutuhan gizi dan nutrisi bagi ibu nifas.

1. Karbohidrat

Karbohidrat berfungsi sebagai sumber tenaga atau energi dalam tubuh untuk pembakaran atau pertumbuhan jaringan baru. Karbohidrat dapat diperoleh dari nasi, gandum, singkong, kentang, ubi, dll. Seorang ibu nifas yang terpenuhi menjadi fit dan tidak akan mudah letih. Tentunya ini akan sangat diperlukan karena mengurus bayi merupakan sesuatu yang melelahkan.

2. Protein

Berfungsi sebagai zat pembangun tubuh yang meregenerasi sel baru, protein sangat dibutuhkan ibu nifas untuk mempercepat keringnya jahitan dalam persalinan. Selain itu, protein hewani maupun nabati juga sangat berperan penting untuk kelancaran ASI. Protein dapat diperoleh dari tempe, tahu, telur, daging, udang, hati ayam, ikan, dll.



3. Vitamin

Zat ini bermanfaat untuk antibodi tubuh dari berbagai serangan kuman penyakit. Selain itu, vitamin berfungsi juga untuk memperlancar metabolisme dalam tubuh. Vitamin yang dibutuhkan ibu nifas adalah vitamin A,D,E,B,C dan K. Sumbernya dari bermacam sayur, buah, bahkan daging yang jelas tidak akan terpenuhi apabila ibu melakukan tradisi mutih.

4. Mineral

Mineral berupa fosfor, kalsium, dan zat besi sangat diperlukan ibu nifas agar terhindar dari anemia serta untuk menguatkan tulang dan gigi. Mineral bisa didapat di sayuran hijau, ikan, hati, dan daging yang diolah dengan olahan bermacam-macam.



5. Cairan

Seorang ibu yang sedang menyusui harus terpenuhi asupan cairan dalam tubuhnya. Ini supaya ASI yang keluar juga lancar sehingga kebutuhan bayi terpenuhi. Cairan yang dianjurkan adalah sekitar 1,5 - 3 liter per harinya. Ini bisa didapat dari minum air putih, atau air yang ada di buah maupun sayur.

Nah, itu dia Sobat Bidan, nutrisi yang harus dipenuhi selama nifas. Porsi yang ideal bagi ibu nifas yang menyusui adalah makan setara dengan 7 piring per harinya. Ini tentu demi kebaikan ibu dan terpenuhinya gizi si kecil.

Jadi, tradisi mutih selama nifas adalah suatu kesalahan. Alih-alih tubuh akan kembali langsing, yang ada ibu nifas hanya akan jatuh sakit dan bayi rewel karena lapar. Jangan dilaksanakan lagi ya, Sobat Bidan.

Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Serba-serbi water birth
Pasti Sobat Bidan sudah pernah mendengar istilah water birth, ya. Yup, ini merupakan metode melahirkan yang dilakukan di dalam air. Saat ini, water birth sedang menjadi trend melahirkan tanpa rasa sakit di kalangan ibu-ibu hamil. 

Sobat Bidan tertarik untuk melakukannya? Sebelum mengambil keputusan, alangkah baik jika Sobat Bidan tahu dulu apa saja manfaat dan risiko dari water birth ini. Simak postingan ini sampai selesai, ya.

Manfaat Water Birth

Beberapa manfaat dari melahirkan di dalam air ini, antara lain :

  • Dapat mengurangi rasa sakit karena air hangat yang digunakan dapat membuat ibu berelaksasi. Jika ibu dapat rileks saat menghadapi proses persalinannya, maka hormon endorfin akan mengalir. Hormon inilah yang akan meredakan nyeri pada ibu
  • Ibu dapat lebih leluasa bergerak sehingga bisa memilih posisi mana saja yang diinginkan saat persalinan nanti
  • Dapat membuat kontraksi rahim lebih efisien dan melancarkan sirkulasi darah sehingga aliran oksigen ke otot rahim menjadi maksimal, begitu pun oksigen yang dialirkan ke janin. Hal ini akan mengurangi rasa sakit ibu
  • Air dapat membuat otot perineum lebih elastis dan santai sehingga mengurangi risiko robekan perineum dan tindakan episiotomi (merobek jalan lahir dengan sengaja atas indikasi tertentu)
  • Air merupakan lingkungan yang hampir sama dengan keadaan di dalam kandungan yang dipenuhi air ketuban, sehingga kemungkinan dapat mengatasi stres pada bayi saat dilahirkan dan meningkatkan rasa nyaman untuknya
Water birth membuat ibu lebih rileks
Risiko Water Birth

Dari berbagai manfaat seperti yang telah disebutkan di atas, ada juga beberapa risiko yang mungkin bisa terjadi dalam proses melahirkan di air ini. Berikut di antaranya :
  • Infeksi pada ibu dan bayi. Hal ini menjadi pro kontra dengan dalih jika kesterilisasian dijaga dengan benar, maka risiko infeksi tidak akan terjadi
  • Ditakutkan bayi akan bernapas dalam air sehingga air akan terhirup. Hal ini sebenarnya tidak perlu dikuatirkan karena bayi baru lahir tidak akan langsung bernapas. Selama tali pusat belum dipotong, maka bayi masih akan mendapat pasokan oksigen dari plasenta
  • Potensi tali pusat terpuntir, tertekuk atau bahkan putus lebih dulu jadi kekuatiran selanjutnya. Ini akan berbahaya bagi bayi bila dia belum diangkat dari air. Diperlukan kehati-hatian yang optimal saat mengangkat bayi dari air ke dada ibu untuk menjaga keutuhan tali pusat ini
Itu dia beberapa manfaat dan risiko water birth. Selain itu, ada beberapa syarat diperbolehkannya seorang ibu melahirkan dengan metode water birth. Berikut di antaranya :
  • Kondisi ibu dan kehamilannya benar-benar sehat dan normal
  • Tidak menderita penyakit infeksi menular seperti HIV Aids, hepatitis, dan herpes
  • Kehamilan sudah cukup bulan (bukan premature)
  • Ketuban belum pecah saat memasuki air
  • Ukuran panggul ibu normal dan tidak ada kelainan fisiologis lainnya
Adapun syarat bagi janin antara lain :
  • Posisi bayi normal (presentasi kepala, ubun-ubun kecil), bukan posisi lintang atau sungsang
  • Bayi tunggal. Kehamilan kembar tidak dianjurkan melahirkan secara water birth
Selain kedua syarat di atas, air yang digunakan sebagai sarana melahirkan pun memiliki syarat tertentu, di antaranya harus steril dan dalam suhu yang sesuai (antara 36,5 - 37, 5 derajat celcius). Waktu yang tepat untuk masuk ke dalam kolam juga harus dipertimbangkan, dianjurkan setelah ibu memasuki pembukaan enam

Kondisi ibu dan kandungan harus normal
Nah, itulah serba-serbi water birth yang harus Sobat Bidan tahu sebelum memutuskan untuk menggunakan metode tersebut. Sudah ada gambaran, kan? Intinya, metode ini akan berhasil bila semua aspek terpenuhi dan berhati-hati. Sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter sebelum mengambil keputusan, ya. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Hamil ektopik?
Apa itu kehamilan ektopik?

Pernahkah mendengar tentang hamil ektopik? Hamil ektopik merupakan kehamilan yang terjadi di luar rahim, bisa di tuba falopii, ovarium, atau pun leher rahim.

Dalam proses normalnya, sel telur yang dibuahi akan menetap di tuba selama 3 hari. Karena faktor-faktor tertentu, hasil pembuahan ini akan menempel di tuba dan tidak beralih ke rahim. Jika hal ini terjadi maka akan terjadilah kehamilan ektopik tadi.

Apa penyebabnya?

Biasanya, organ yang paling sering jadi tempat bertumbuh kembang janin selain rahim adalah tuba falopii. Hal ini disebabkan karena ada peradangan, inflamasi, atau rusaknya organ tuba falopii sehingga menghalangi sel telur yang telah dibuahi untuk masuk ke rahim.

Selain itu, kadar hormon yang tidak seimbang atau perkembangan abnormal sel telur yang dibuahi bisa menjadi pemicu kehamilan ektopik tersebut.

Apa saja faktor risikonya?

Beberapa faktor ini bisa menjadi risiko kehamilan ektopik, antara lain :

  • Pemakaian KB IUD atau spiral. Penggunaan spiral memang efektif untuk mencegah kehamilan. Namun, bila terjadi kebobolan, hal ini memicu terjadinya hamil ektopik karena adanya IUD yang menghalangi penempelan hasil nidasi di rahim.
  • Infeksi atau inflamasi. Wanita yang pernah mengalami infeksi atau inflamasi seperti penyakit radang panggul, atau infeksi serviks akibat penyakit menular seksual seperti gonorhae, berisiko lebih besar mengalami hamil ektopik karena ada sumbatan di tuba yang menghalangi hasil konsepsi menuju rahim.
  • Pernah mengalami hamil ektopik sebelumnya. Wanita yang pernah mengalami hamil ektopik sebelumnya berisiko lebih besar untuk mengalami hamil ektopik lagi.
  • Masalah kesuburan dan cara pengobatannya terkadang bisa memicu terjadinya hamil ektopik.
  • Proses sterilisasi atau sebaliknya, hal ini berkaitan dengan KB steril seperti tubektomi yang mengikat tuba falopii. Jika prosedurnya dilakukan tidak sempurna, hal ini bisa memicu terjadinya kehamilan ektopik.

Bagaimana tanda gejalanya?

Kehamilan ektopik sama dengan kehamilan biasa, tanda gejala awalnya pun bisa jadi sama sehingga ibu tidak sadar bahwa kehamilan tersebut sebenarnya abnormal. Namun begitu, ada tanda-tanda spesifik yang membedakan antara kehamilan normal dengan hamil ektopik, berikut di antaranya :

  • Nyeri di tulang panggul
  • Perdarahan yang terjadi di vagina
  • Sakit pada perut bagian bawah, biasanya terjadi di salah satu sisi
  • Mual muntah disertai rasa nyeri
  • Pusing, lemas
  • Nyeri pada bahu
  • Jika tuba falopi sobek, akan memunculkan perdarahan hebat yang bisa sampai menghilangkan kesadaan
  • Merasa sakit dan tekanan nyeri pada anus saat BAB

Penegakan diagnosa

Untuk mengetahui apakah yang dialami ibu merupakan kehamilan ektopik atau bukan, maka dibutuhkan rangkaian pemeriksaan. Selain USG, yang harus diperiksa juga darah dan kadar HCG. USG yang dilakukan pun merupakan USG transvaginal. 

Namun, hal ini baru bisa dilakukan ketika kehamilan sudah mencapai umurnya. Jika masih  di awal-awal sekitar usia 5-6 minggu, tim medis akan melakukan pemeriksaan darah dan HCG. Pada kehamilan ektopik, HCG yang dihasilkan biasanya lebih sedikit dari kehamilan normal.

Penanganannya bagaimana?

Jika diketahui mengalami kehamilan ektopik, ibu harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan. Karena jika tidak dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan fatal untuk ibu.

Jika pada tuba tidak ada pertumbuhan janin yang terdeteksi, maka akan dilakukan suntik methotexrate untuk menghancurkan sel-sel yang sudah terbentuk. Jika setelah diinjeksi kadar HCG masih tinggi, maka suntikan methotexrate akan kembali dilakukan. 

Langkah yang lain adalah dengan operasi laparoskopi. Tuba falopii yang ditempati jaringan hamil ektopik akan diperbaiki jika memungkinkan.

Apa saja komplikasinya?

Jika kehamilan ektopik terlambat ditangani, maka ibu dapat mengalami komplikasi seperti pecahnya tuba atau rahim yang dapat mengakibatkan perdarahan di dalam tubuh. Hal ini sangat berbahaya dan berujung fatal pada kematian ibu.

Jika sudah seperti ini, maka harus dilakukan operasi besar untuk memperbaiki tuba jika masih bisa, meski pada umumnya tuba falopii harus diangkat. Penanganan dengan pembedahan pun mempunyai komplikasi tersendiri seperti akan terjadinya perdarahan, infeksi, dan rusaknya bagian di sekitar organ yang dioperasi. 


Pencegahan?

Tidak ada cara khusus untuk mencegah kehamilan ektopik ini. Jika ingin mencegah, maka yang harus dicegah adalah faktor risikonya seperti yang sudah disebutkan di atas.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal mengenai kehamilan ektopik. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar)

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Serba-serbi KB suntik 1 bulan
KB suntik merupakan salah satu kontrasepsi yang paling banyak digemari ibu-ibu, ya. Seperti yang sudah kita ketahui, KB suntik ini ada dua macam, yaitu KB suntik 1 bulan dan KB suntik 3 bulan. Perbedaannya ada pada kurun waktu, kandungan obat, dan juga efek sampingnya. Nah, pada postingan kali ini kita akan membahas dulu KB suntik yang 1 bulan. 

Jika Sobat Bidan berminat menggunakannya, pastikan Sobat Bidan tahu dulu tentang KB suntik 1 bulan ini. Simak sampai habis, ya. 

Apa itu KB suntik 1 bulan?

KB suntik 1 bulan merupakan metode kontrasepsi yang diberikan dengan cara menginjeksi secara intramuskular (di bokong atau lengan) setiap 1 bulan sekali, plus minus 3 hari. Kb suntik 1 bulan ini mengandung campuran hormon esterogen progesterone yang berupa medoryxprogesterone acetat dan estradiole cypionate tiap 10 ml. 

Efektivitas dan irreversibilitas?

Kb suntik 1 bulan ini cukup efektif untuk mencegah kehamilan, hanya sekitar 0,3 % wanita yang hamil dalam kurun beberapa tahun. Pengembalian kesuburan juga lumayan cepat, sekitar 3-6 bulan setelah berhenti pemakaian, haid akan segera teratur lagi dan bisa hamil.

Bagaimana cara kerjanya?

Berikut adalah cara kerja KB suntik 1 bulan :

  • Menghambat terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) sehingga kecil kemungkinan untuk bertemu sperma
  • Perubahan endometrium menjadi tipis sehingga hasil pembuahan tidak bisa menempel
  • Mukus serviks dan tuba falopii menghasilkan penghambat penetrasi sperma sehingga sulit mencapai sel telur
  • Mempersulit terjadinya nidasi (penempelan hasil pembuahan)

Efek sampingnya?

Banyak efek samping yang bisa terjadi jika Sobat Bidan menggunakan KB suntik 1 bulan, namun tidak akan terjadi semuanya. Bahkan ada pengguna yang tidak merasakan efek samping sama sekali karena memang KB ini bersifat hormonal yang beda-beda hasilnya pada setiap orang.

Berikut efek samping yang bisa terjadi :
  • Mual, sakit kepala, nyeri, berat badan naik
  • Gangguan pada kulit seperti terjadi penggelapan warna kulit, gatal-gatal, dan kandidiasis (infeksi jamur)
  • Perdarahan tidak teratur setelah suntik pertama, biasanya selama 30 hari
  • Terjadi gangguan menstruasi seperti amenorea (tidak haid sama sekali), spotting, ngeflek, haid datang lebih cepat atau lebih lama
  • Mudah lelah, mudah tersinggung, dan depresi
  • Payudara menjadi lembek dan keluar cairan dari puting
  • Tidak nafsu makan
Kontraindikasi?

Ada pun wanita yang sebaiknya tidak menggunakan KB suntik 1 bulan ini, antara lain :
  • Wanita yang sedang hamil atau diduga hamil
  • Menderita kanker payudara
  • Pernah mengalami gangguan tromboembolik
  • Menderita kanker di saluran reproduksi
  • Sering migrain
  • Punya penyakit jantung atau pembuluh darah
  • Pernah atau sering mengalami perdarahan yang tidak normal
  • Berusia 45 tahun atau lebih
  • Punya penyakit jantung dan hati yang akut
  • Alergi terhadap kandungan obat suntik Kb 1 bulan
Mari ber-KB!
Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal yang patut Sobat Bidan ketahui tentang KB suntik 1 bulan sebelum menggunakannya. Semoga postingan ini bermanfaat, ya.

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar)

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!


Setelah kemarin membahas ikterus atau kuning yang normal pada bayi baru lahir di sini, sekarang kita bahas kuning pada bayi baru lahir yang tidak normal, ya. Dalam bahasa medis lebih dikenal dengan istilah ikterus patologis.

Ikterus sendiri merupakan warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan mukosa yang terjadi karena penumpukan bilirubin. Sedangkan hiperbilirubinemia adalah ikterus yang terjadi akibat kadar penumpukan bilirubin yang berlebihan, sehingga menjurus pada kenikterus (ikterus yang mengancam nyawa bayi) bila kadar bilirubin ini tidak segera ditangani.

Berikut adalah beberapa keadaan yang cenderung akan menjadi ikterus patologis :

  • Peningkatan kadar bilirubin lebih dari 5mg/dl tiap 24 jam
  • Ikterus terjadi pada 24 jam pertama setelah kelahiran
  • Ikterus yang disertai dengan : masa gestasi kurang dari 36 minggu, berat lahir kurang dari 2000 gr, asfiksia, hipoksia, sindrom gawat napas, trauma pada kepala, hipoglikemia (kurang zat gula), dan infeksi
  • Ikterus yang disertai proses hemolisis (pembekuan darah)
  • Ikterus yang menetap lebih dari 8 hari pada bayi cukup bulan dan lebih dari 14 hari pada bayi dengan kehamilan kurang bulan

Sedangkan gejala lain yang dapat terjadi selain kuning di mulut, konjungtiva, dan mukosa antara lain sebagai berikut :
  • Dehidrasi, asupan kalori tidak adekuat, misal bayi muntah-muntah
  • Trauma lahir, ada perdarahan di kepala
  • Penumpukan darah karena keterlambatan memotong tali pusat
  • Ada tanda gejala infeksi (panas, demam)
  • Ada bintik merah di kulit yang dikaitkan dengan infeksi konginetal
  • Mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil), sering dikaitkan dengan infeksi bawaan dan juga anemia hemolitik
  • Adanya peradangan hati dan limpa
  • Feses berwarna dempul pucat dan urin berwarna cokelat
Jika menemukan tanda gejala tersebut pada bayi, segera periksakan ke dokter anak terdekat agar bisa segera ditangani. Penanganan ikterus normal dan tidak normal jelas berbeda. Selain itu, teruslah beri ASI yang adekuat.

Nah, itu dia Sobat Bidan, tanda gejala ikterus yang tidak normal pada bayi. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar)

Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!



Seperti yang kita ketahui, ASI merupakan asupan yang sangat penting bagi bayi, utamanya pada bayi baru lahir. Manfaat pemberian ASI bagi bayi sudah pernah kita bahas di sini, ya. Sedangkan manfaat pemberian ASI bagi ibu sudah pernah kita bahas juga di sini.

Kalau macam-macam ASI dan apa saja komponen yang terkandung di dalamnya, Sobat Bidan sudah tahu belum? Nah, pada postingan kali ini kita akan membahas kedua hal tersebut. Simak sampai habis, ya!

1.     1.  Macam-macam ASI

ASI terbagi menjadi tiga macam, yaitu :
  • Kolostrum. Ini merupakan cairan kental yang berwarna kekuningan dan disekresi pertama kali oleh kelenjar payudara. Kolostrum lebih banyak mengandung protein (gamma globulin) dan mulai diproduksi pada minggu ke-16 kehamilan. Kolostrum biasanya keluar antara 1-3 hari pasca melahirkan.
  • ASI masa transisi. Merupakan ASI yang keluar pada hari ke-4 sampai 10 setelah persalinan. Kadar protein pada ASI ini makin rendah, namun kadar karbohidrat, lemak, dan volumenya semakin meningkat
  •  ASI matur.  Merupakan cairan berwarna putih kekuningan yang berasal dari Ca-kasein, riboflavin, dan karoten. ASI matur keluar mulai hari ke-10 dan seterusnya.


2.       2. Komposisi kandungan gizi dalam ASI

Kandungan
Kolostrum
ASI Masa Transisi
ASI Matur
Energi (kg ka)
67,0
63,0
65,0
Laktosa (gr/100ml)
6,5
6,7
7,0
Lemak (gr/100 ml)
2,9
3,6
3,8
Protein (gr/100 ml)
1,195
0,965
1,324
Mineral (gr/100 ml)
0,3
0,3
0,2
Ig A (mg/100 ml)
335,9
-
119,6
Ig G (mg/100 ml)
5,9
-
2,9
Ig M (mg/100 ml)
17,1
-
2,9
Lisosim
14,2 -16,4
-
14,3 – 27,5
Laktoferin
420 - 520
-
250 -270

3.      3.  Komponen unggulan dalam ASI
  •       Faktor bifidus, berperan untuk mendukung pertumbuhan bakteri yang menguntungkan di dalam usus bayi dan mencegah bakteri jahat

  •       Laktoferin, berfungsi untuk mengikat zat besi di dalam ASI sehingga tidak digunakan bakteri patogen yang merugikan
  •       Laktoperoidase, berguna untuk membunuh bakteri-bakteri patogen

  •       Faktor antistafilkokus, berfungsi untuk menghambat pertumbuhan stafilokokus patogen

  •       Sel-sel fagosit, berguna untuk memakan bakteri-bakteri patogen

  •       Sel limfosit dan makrofag, bertugas untuk mengeluarkan antibodi dan meningkatkan imunitas tubuh bayi

  •       Lisosim, berfungsi untuk membantu mencegah masuknya bakteri penyakit

  •       Interveron, berfungsi untuk menghambat tumbuhnya virus

  •       Faktor pertumbuhan epidermis, berguna untuk membantu pertumbuhan selaput usus bayi untuk menghindari zar-zat merugikan yang masuk ke peredaran darah  bayi


Nah, itu dia Sobat Bidan, macam-macam ASI berikut komponen-komponennya. Jadi, sudah tidak ada lagi alasan untuk tidak memberi ASI pada si kecil, kan? Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik, atau saran silakan tinggalkan di kolom komentar)


Pic by : Pixabay
Selamat siang, Sobat Bidan!

Posisi dalam persalinan
Sobat Bidan sedang menantikan masa-masa akhir kehamilan? HPL tinggal menunggu hitungan hari lagi? Kalau begitu, Sobat Bidan wajib tahu berbagai posisi yang bisa digunakan dalam proses persalinan normal. 

Posisi-posisi berikut ini disiapkan saat Sobat Bidan sudah siap mengejan atau mendekati pembukaan lengkap. Saat masih ada dalam fase pembukaan laten, posisi ini belum dianjurkan. Apa saja posisi itu? Simak sampai habis, ya!

1. Posisi berbaring (litotomi)

Posisi ini caranya adalah dengan telentang dengan kaki ditumpukan pada penyangga khusus untuk bersalin. Posisi berbaring sangat memudahkan tim medis untuk melakukan pemeriksaan dan biasanya dilakukan untuk tindakan kuret.

Kekurangannya, punggung ibu jadi merasa lebih pegal dan juga menyulitkan saat mengejan karena posisi yang pasif. Selain itu, risiko robekan perineum (jalan lahir) juga lebih besar.
Posisi litotomi

2. Posisi setengah duduk (semi fowler)

Posisi setengah duduk ini yang paling sering digunakan, ya? Caranya, ibu berbaring dengan punggung bersandar bantal, kaki ditekuk dan paha membuka. Posisi ini memudahkan nakes untuk melakukan pemeriksaan, juga mempermudah ibu saat proses mengejan karena bantuan gaya gravitasi. Selain itu, jalan lahir bayi juga relatif pendek dan suplai oksigen dari plasenta ke bayi juga optimal.

Setengah duduk
3. Posisi miring (lateral)

Posisi ini mengharuskan ibu miring dengan salah satu kaki diangkat ke atas sementara kaki yang satunya lurus. Biasanya, posisi ini dilakukan saat kepala bayi belum pas berada di jalan lahir. Posisi miring akan menghemat energi ibu, juga mengalirkan oksigen ke bayi dengan optimal karena peredaran darah ibu menjadi lancar dalam posisi ini. Namun, posisi miring akan sedikit menyulitkan nakes untuk memeriksa pembukaan ibu.

Posisi lateral
4. Posisi berlutut

Caranya, ibu bertumpu pada kedua lutut yang ditekuk dan terbuka. Posisi ini mengandalkan gravitasi bumi untuk persalinan dan memungkinkan ibu bisa mengontrol saat mengejan
5. Posisi jongkok (squatting)

Mengambil posisi jongkok saat melahirkan berarti banyak melibatkan peran suami karena harus ada penopang yang kuat di belakang ibu. Selain itu, bisa juga menggunakan bangku kecil untuk posisi ini. Selain itu, dibutuhkan bantalan khusus untuk menahan kepala bayi yang akan lahir. 

Posisi ini memudahkan persalinan karena ada bantuan dari gravitasi bumi. Ibu juga dapat mengontrol saat mengejan. Namun, nakes jadi agak kesulitan melakukan pemeriksaan dalam posisi berjongkok ini.

Posisi jongkok dan berdiri
6. Posisi merangkak

Melahirkan dengan merangkak? Posisi ini menguntungkan ibu karena dapat mengurangi banyak rasa sakit di punggung. Bisa juga mempercepat penurunan kepala bayi, lho! Caranya, ibu mengambil posisi seperti merangkak dengan menggunakan lengan di depan sebagai tumpuan untuk menopang tubuh.

Posisi merangkak
7. Posisi berdiri tegak

Dalam posisi ini, ibu bisa bersandar ke depan atau ke belakang. Posisi berdiri tegak membuat ibu lebih leluasa bergerak dan mengalihkan perhatian saat terjadi kontraksi. Gerakan bayi pun bisa mempercepat penurunan kepala.

Nah, itu dia Sobat Bidan, ketujuh posisi yang bisa dilakukan saat melahirkan. Sobat Bidan bisa memilih mana yang paling nyaman untuk Sobat Bidan sendiri. Tapi, jangan lupa konsultasikan dulu dengan dokter atau bidannya, ya. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

(Jika ada pertanyaan, kritik, dan saran silakan tinggalkan di kolom komentar).

Pic by : Pixabay