Friday, January 18, 2019

Bolehkah Melahirkan Secara Normal Bila Persalinan Sebelumnya Caesar?

Selamat siang, Sobat Bidan!

VBAC, yes or no?
Apakah ada Sobat Bidan yang pernah menanyakan hal ini: Boleh tidak melahirkan normal setelah persalinan sebelumnya dilakukan dengan operasi sesar? Jawabannya adalah tergantung bagaimana kondisi kesehatan ibu itu sendiri.

Melahirkan normal setelah sesar atau biasa disebut VBAC (Vaginal Birth After Caesarian) boleh-boleh saja dilakukan pada ibu hamil dengan kasus serupa. Meskipun begitu, tidak semua bisa melahirkan normal setelah sebelumnya bersalin dengan sesar karena risikonya yang tidak sedikit. Karena itu, ibu dan keluarga harus mempertimbangkannya terlebih dahulu secara matang untuk mengambil keputusan ini.

Adakah syarat jika ingin melahirkan normal setelah sesar?

Sebenarnya ada banyak hal yang harus dipenuhi bagi seorang ibu yang ingin melahirkan secara normal dengan riwayat sesar. Namun begitu, ada pula banyak kasus melahirkan normal setelah sesar yang lancar-lancar saja tanpa komplikasi. Berikut adalah syarat-syarat ibu bisa melakukan VBAC :

  • Bekas irisan di dinding rahim berbentuk transversal
  • Memiliki riwayat melahirkan normal minimal sekali baik sebelum atau sesudah operasi sesar
  • Proses persalinan normal terdahulu berlangsung spontan tanpa bantuan (dipacu dan sejenisnya)
  • Masalah kesehatan atau penyulit yang dulu menyebabkan harus dioperasi sekarang sudah tidak ada lagi
  • Usia kurang dari 35 tahun
  • Persalinan pada bayi cukup bulan
Bagaimana kondisi ibu yang berisiko VBAC?

Ada beberapa kondisi ibu hamil yang akan lebih tinggi risikonya jika melahirkan secara normal setelah sebelumnya bersalin secara sesar. Berikut di antaranya :
  • Adanya penyulit kehamilan seperti plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir), makrosomia (bayi besar), dan sebagainya
  • Masalah kesehatan atau penyulit yang dulu menjadi penyebab melahirkan secara sesar masih ada di kehamilan saat ini
  • Waktu persalinan berjarak 18 bulan atau 24 bulan dari persalinan sesar sebelumnya
  • Bekas irisan di dinding rahim berbentuk T atau vertikal
  • Kehamilan serotinus (lebih dari 40 minggu)
  • Beberapa faktor risiko dari ibu seperti bertubuh pendek, obesitas, dan menderita diabetes
Apa risiko VBAC?

Risiko yang dapat terjadi apabila ibu melakukan VBAC dengan adalah ruptur uteri atau robekan pada rahim. Hal ini dikarenakan rahim yang mengalami tekanan pada saat mengejan sehingga berisiko robek. Ruptur uteri sendiri sangat berbahaya bagi ibu, karena dapat terjadi perdarahan hebat. Sedangkan untuk bayi, kepalanya bisa saja cidera akibat ruptur uteri ini.

Bila keadaan sudah sangat darurat, maka dokter akan melakukan histerektomi atau pengangkatan rahim untuk menyelamatkan nyawa keduanya. Bila rahim ibu diangkat, maka ibu tidak bisa hamil lagi di kemudian hari.

Kesimpulannya, VBAC boleh dilakukan apabila kondisi ibu sesuai dengan syarat-syarat di atas dan tidak punya faktor risiko. Jika tidak, lebih baik ibu kembali melahirkan secara sesar demi keselamatannya dan janin. 



Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa hal tentang VBAC yang perlu Sobat Bidan tahu. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Ngidam Saat Hamil, Bagaimana Penjelasan Ilmiahnya? Ini Dia!

Selamat siang, Sobat Bidan!

Ngidam?
Istilah ngidam pasti sangat familiar sekali untuk kita semua, ya. Khususnya pada ibu hamil, ngidam bisa jadi merupakan satu peristiwa yang akan dialami. Ngidam itu apa sih, sebenarnya? Ngidam merupakan keinginan perempuan hamil terhadap makanan-makanan tertentu, biasanya yang agak aneh-aneh. Biasanya yang dijadikan alasan adalah: bawaan bayi.

Nah, penjelasan ilmiahnya bagaimana, sih?

Sebenarnya, belum ada bukti ilmiah yang menyebutkan bahwa ngidam itu merupakan sebuah proses tubuh atau benar bawaan bayi. Memang ada beberapa teori yang menyebutkan bahwa ngidam merupakan akibat dari perubahan hormonal saat hamil. Perubahan hormon ini membuat indera perasa dan penciuman menjadi lebih sensitif, jadilah ngidam. Ngidam juga diartikan sebagai bentuk perubahan psiklogis seorang ibu hamil yang cenderung ingin diperhatikan dan dimanja suami. 

Namun, ada juga yang menyebutkan bahwa ngidam merupakan keinginan yang timbul akibat tubuh seorang wanita hamil kurang nutrisi tertentu. Misalnya tubuh ibu kurang protein, maka dia akan ngidam makanan yang banyak mengandung protein seperti daging-dagingan, dan sebagainya. Jadi, yang dibutuhkan sebenarnya bukan makanannya melainkan kandungan nutrisi yang ada di dalam makanan tersebut. 

Jika ada ibu hamil yang ngidam benda-benda membahayakan seperti krayon, bedak, dan sebagainya, kemungkinan dalam tubuhnya kekurangan zat besi. Untuk yang seperti ini, alangkah bijaknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan terlebih dahulu.


Sebaiknya dituruti atau diabaikan?


Mitos yang tersebar di Indonesia adalah anak akan jadi ngileran atau keluar air liur terus-terusan apabila saat ngidam tidak dituruti. Ini jelas hanyalah mitos belaka. Untuk menuruti atau mengabaikan ngidam ini, ibu harus menyesuaikan dengan kondisi tubuhnya.

Jangan sampai ngidam membuat berat badan jadi naik melebihi batas normal. Ibu dengan riwayat atau penderita diabetes juga sebaiknya tidak begitu saja dituruti saat ngidam yang manis-manis. Atau, bisa juga ngidamnya diganti dengan makanan yang serupa tapi kandungan gula dan lemaknya lebih sedikit.

Misal saat ibu ngidam es krim tinggi lemak, bisa diganti dengan es krim yang rendah lemak, atau yogurt. Jika ngidam donat atau kue sejenisnya, bisa diganti dengan roti yang terbuat dari biji-bijian utuh yang lebih rendah kalorinya. Ngidam keripik kentang bisa diganti popcorn tanpa mentega, dan minuman bersoda bisa diganti dengan jus buah.

Jadi, boleh menuruti ngidam selama itu sesuai dan tidak berbahaya untuk kondisi tubuh ibu. Bagaimana Sobat Bidan? Sudah ada gambaran mengenai ngidam, bukan? Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com

Thursday, January 17, 2019

Sobat Bidan, Ini Dia Ciri-Ciri Keputihan yang Normal

Selamat siang, Sobat Bidan!

Ciri keputihan yang normal
Pernahkah Sobat Bidan mengalami keputihan? Tentu setiap wanita pernah mengalami keputihan ya, karena keputihan sendiri merupakan siklus yang normal bagi wanita. Keputihan memiliki manfaat juga salah satunya untuk membersihkan vagina. Selain itu, keputihan dapat meningkat pada saat Sobat Bidan melakukan hubungan seks, olahraga, stres, masa ovulasi, dan pengaruh KB.

Namun, pernah tidak Sobat Bidan kadang merasa was-was karena keputihan yang berlebihan dan sebagainya? Untuk mengetahui itu, Sobat Bidan harus tahu dulu bagaimana tanda-tanda keputihan yang normal. 

1. Warna

Ciri pertama yang bisa dilihat apakah keputihan tersebut normal atau tidak adalah warnanya. Warna keputihan yang normal adalah putih dan jernih, dan akan jadi kekuningan saat kering. Jika warna keputihan Sobat Bidan tidak seperti ini, maka perlu diwaspadai adanya infeksi atau bakteri.

2. Tekstur

Jika tekstur keputihan Sobat Bidan menggumpal atau berbentuk busa dan seperti gelembung, maka waspadalah karena mungkin saja itu bukan keputihan yang normal. Keputihan normal memiliki tekstur yang bermacam-macam tergantung siklus tubuh yang sedang terjadi. Misalnya bertekstur seperti pasta, lengket, atau elastis pada saat masa subur. 

3. Bau

Keputihan yang normal tidak berbau. Jika keputihan yang dialami Sobat Bidan berbau busuk atau amis, itu merupakan keputihan yang tidak normal.

4. Jumlah

Jumlah keputihan sendiri tidak bisa dijadikan tolak ukur normal atau tidaknya, tentu harus diamati juga dengan gejala yang lain. Jumlah keputihan pada wanita akan beragam tergantung siklus apa yang sedang terjadi di dalam tubuhnya.

Sobat Bidan perlu memperhatikan kondisi keputihan yang dialami. Jangan membandingkan dengan orang lain, itu justru kurang tepat karena setiap wanita berbeda kondisinya. Mengamati keputihan dengan memperhatikan warna, bau, tekstur dan jumlahnya sangat penting untuk mengetahui apakah itu keputihan yang normal atau tidak. Dengan begitu Sobat Bidan bisa membandingkan keputihan yang dialami kemarin dengan keputihan saat ini, dan seterusnya.

Jika keputihan tersebut disertai dengan gejala lain seperti demam, penurunan BB yang drastis, nyeri perut, kelelahan, dan meningkatkan rasa ingin BAK, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Bisa saja keputihan yang Sobat Bidan alami adalah gejala lain dari suatu penyakit.


Itu dia ciri-ciri keputihan normal yang mesti Sobat Bidan tahu. Semoga postingan ini bermanfaat!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels


Tuesday, January 15, 2019

Seputar KB Kalender yang Mesti Sobat Bidan Tahu

Selamat siang, Sobat Bidan!

Kb kalender? Why not?
Apakah Sobat Bidan termasuk wanita yang tidak suka menggunakan KB macam-macam? Efek samping dari berbagai alat kontrasepsi memang terkadang membuat wanita enggan ber-KB. Namun, Sobat Bidan tidak perlu khawatir, karena tetap bisa ber-Kb dengan KB yang sederhana atau tanpa alat. 

Salah satunya adalah KB kalender. Tentu sudah familiar sekali dengan istilah ini, bukan? Untuk penjelasan lengkapnya, silakan simak ulasan berikut sampai selesai, ya.

Apa itu KB kalender?

Kb kalender merupakan salah satu metode KB sederhana tanpa alat yang menitikberatkan pada perhitungan masa subur seorang wanita. 

Bagaimana cara penggunaannya?

Berbeda dengan KB menggunakan alat, KB kalender tentu penggunaannya pun manual dan hanya dibutuhkan kerjasama suami-istri di sini. 

  • Pertama, ibu harus mengetahui dulu kapan masa suburnya. Untuk menghitung masa subur ini, ibu juga harus mengamati siklus menstruasi selama 3-6 bulan terakhir. Siklus menstruasi dihitung dari hari pertama mens di bulan ini sampai hari pertama mens di bulan berikutnya.
  • Kedua, ibu harus menghitung masa subur atau ovulasi. Caranya dihitung mulai 14 hari sebelum masa mens bulan berikutnya, ditambah 5 hari sebelum itu, dan 1 hari sesudahnya. Jadi, total adalah 20 hari. Pada masa ini sebaiknya pasutri menghindari hubungan intim atau kombinasikan dengan metode KB yang lain.
  • Perlu dicatat, penghitungan seperti di atas berlaku hanya untuk wanita yang siklus menstruasinya teratur. Bagi wanita dengan siklus menstruasi tidak teratur, maka harus dicatat terlebih dahulu siklus menstruasinya selama 6 bulan. Setelah itu lihat mana hari terpendek dan hari terpanjang dari siklus menstruasi selama 6 bulan tersebut.
  • Begini rumus penghitungannya : Hari pertama masa subur = Jumlah hari terpendek - 18. Hari terakhir masa subur = Jumlah hari terpanjang - 11.
  •  Misalnya siklus terpendek ibu adalah 21 hari, maka 21 - 18 = 3. Kemudian, siklus terpanjang adalah 35 hari, maka 35-11 = 24. Jadi, hasilnya adalah awal masa subur ibu ada di tanggal 3, dan hari terakhir masa subur pada tanggal 24. Jadi, selama hari-hari itu dianjurkan untuk menggunakan KB lain saat berhubungan intim agar tidak hamil.
Apa keuntungan KB kalender?

Berikut beberapa keuntungan apabila ibu menggunakan KB kalender :
  • Sederhana
  • Bisa digunakan setiap wanita dengan riwayat kesehatan bagaimana pun
  • Tidak perlu peralatan medis untuk penerapannya
  • Tidak mengganggu kenyamanan saat berhubungan seksual
  • Tidak perlu pengeluaran biaya
  • Dapat terhindar dari risiko dan efek samping alat kontrasepsi
  • Tidak perlu tempat pelayanan KB
Bagaimana dengan keterbatasannya?

Jika ada keuntungan yang didapat, KB kalender juga memiliki keterbatasan atau kerugian tertentu, sebagai berikut :
  • Memerlukan kerjasama antara suami istri untuk efektivitasnya
  • Pasutri tidak bisa berhubungan setiap saat
  • Angka kegagalan yang tinggi yaitu antara 14-47 persen
  • Tidak melindungi dari penyakit menular seksual
  • Cukup sulit untuk wanita yang siklus menstruasinya tidak teratur
  • Lebih efektif jika dikombinasikan dengan alat kontrasepsi lain
Ayo ber-KB!
Nah, itu dia beberapa hal yang perlu Sobat Bidan ketahui tentang KB kalender jika ingin mencoba menggunakannya. Semoga artikel ini bermanfaat, ya!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com

Sunday, January 13, 2019

Bahaya Pemakaian Diapers Pada Bayi yang Harus Sobat Bidan Ketahui

Selamat siang, Sobat Bidan!

Bahaya pemakaian diapers
Adakah di antara Sobat Bidan yang terus-menerus memakaikan bayi dengan diapers? Kecenderungan di zaman yang serba instan ini berpengaruh juga pada cara berpakaian, contohnya penggunaan diapers pada bayi. Banyak ibu yang mengenakan pada bayi mereka terus menerus, padahal hal tersebut sangat tidak baik untuk si kecil.

Pemakaian diapers terus-menerus bisa berbahaya bagi bayi. Apa saja bahaya yang perlu diwaspadai itu? Simak ulasan berikut sampai selesai, ya!

1. Ruam popok

Tentu Sobat Bidan sudah tidak asing dengan istilah ini, ya? Ruam popok merupakan iritasi yang terjadi di selangkangan bayi. Tekstur diapers yang tebal dan kasar cenderung membuat bayi tidak nyaman dan merasa ada yang mengganjal saat dikenakan. Hal ini dapat menumbuhkan bakteri atau jamur karena adanya kotoran dan kurangnya sirkulasi udara. Banyak pengalaman bayi yang harus menjalani operasi genetalnya karena mengalami kesulitan untuk BAK disebabkan adanya pengendapan air seni pada diapers.

2. Kurang sehat

Tahukah Sobat Bidan bahwa diapers mengandung bahan kimia yang tertinggal saat proses pemutihan? Zat ini disebut dioxin dan kabar buruknya adalah bahwa dioxin merupakan penyebab pertama kanker. Selain itu ada juga TBT yang bisa menyebabkan masalah hormonal karena itu merupakan polutan beracun. Ada juga sodium polyacrylate yaitu zat yang bisa berubah menjadi jelly saat terkena cairan dan bisa menyebabkan kemandulan jika digunakan terus-menerus.

3. Infeksi pada kulit

Pemakaian diapers yang mengandung kotoran dalam waktu yang lama bisa menyebabkan infeksi pada kulit jika terdapat luka. Luka tersebut akan terkontaminasi dengan kotoran dan menyebabkan infeksi pada si kecil. Rasa nyaman pada pemakaian diapers yang sudah terdapat kotoran di dalamnya justru merupakan kelemahan dari diapers itu sendiri. Maka, segera ganti diapers si kecil jika sudah penuh, ya.

4. Penyakit kulit

Beda dengan infeksi yang memang sudah dipicu karena adanya luka, penyakit kulit pada bayi bisa disebabkan karena diapers yang tebal dan tidak ada sirkulasi udara. Ini bisa menyebabkan kulit bayi gatal dan kemerahan.

5. Trauma 

Jika bayi memberontak saat hendak dipakaian diapers, jangan dipaksa, ya. Kemungkinan bayi mengalami trauma karena pemakaian diapers yang memang tidak nyaman tadi. Jika dipaksa, ini akan berimbas pada kesehatan si kecil dan tentu akan merugikan orangtua.

Nah, itu dia Sobat Bidan, risiko pemakaian diapers terus-menerus pada si kecil. Cukup pakaikan diapers pada bayi di waktu-waktu tertentu dan di saat-saat penting saja, ya. Jangan sampai bayi selalu memakai diapers selama 24 jam karena ini bukanlah hal yang baik. Semoga postingan ini bermanfaat!



Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels

Friday, January 11, 2019

Makan Pedas Saat Masa Menyusui, Boleh Tidak?

Selamat siang, Sobat Bidan!

Makan pedas saat menyusui, bolehkah?
Di bahasan nifas kali ini, yuk, kita bahas satu rumor yang menyatakan bahwa makan pedas saat menyusui itu dilarang. Alasannya macam-macam, katanya bayi bisa ikut diare jika ibu makan makanan pedas. Benarkah demikian? Itu mitos atau fakta? Simak ulasan berikut sampai habis, ya!

Rupanya, itu hanya mitos

Dr. Paula Meier Ph.D menyebutkan bahwa sebenarnya tidak ada pantangan makan bagi ibu menyusui termasuk makanan pedas sekalipun. Jelas, ini hanyalah mitos yang beredar di masyarakat karena tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan kebenarannya. 

Payudara ibu sudah mempunyai penyaring nutrisi yang nantinya akan diproduksi menjadi ASI dan disimpan sebagai nutrisi atau sumber tenaga ibu. Proses produksi dari makanan menjadi ASI ini pun berlangsung cukup lama, antara 4-6 jam setelah makan. Ibu hanya perlu menghindari makanan yang jelas memberi efek buruk bagi tubuh seperti alkohol. 

Apa rasa ASI akan berubah?

Pada dasarnya, rasa dari ASI tidak akan dengan mudahnya berubah meski ibu makan makanan dengan beraneka ragam rasa seperti pedas, manis, asam, mau pun asin. Bila pun terjadi perubahan rasa pada ASI setelah ibu mengkonsumsi makanan tertentu, pedas misalnya, itu akan menjadi pengalaman baru bagi bayi untuk mencecap aneka ragam rasa makanan. Akan tetapi, rasa ASI-nya pun tetap akan lebih dominan dari rasa yang lain, jadi ibu tidak perlu khawatir.

Ada keuntungannya, lho!

Mungkin belum banyak ibu yang tahu bahwa mengkonsumsi makanan pedas saat menyusui juga memiliki keuntungan bagi si kecil. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa bayi yang menyusu dari ibu yang makan beraneka ragam makanan seperti manis, pedas, asin, dan sebagainya, kelak tidak akan pilah-pilih makanan saat dia mulai makan. 

Hal ini terjadi karena sejak menyusui si kecil biasa mencecap beraneka rasa tersebut, jadi lidahnya akan mudah menyesuaikan saat dia mulai makan makanan padat. Karena inilah, bayi ASI biasanya lebih doyan makan daripada bayi yang hanya disusui dengan sufor yang punya rasa sama.

Amati efeknya

Meskipun tidak dilarang, namun tentunya ibu tidak boleh berlebihan saat makan makanan pedas di masa menyusui ini. Bisa jadi makanan pedas tersebut akan mengganggu pencernaan ibu sendiri, seperti diare. 

Begitu pula, perhatikan reaksi pada bayi setelah minum ASI saat ibu makan makanan pedas. Ada kemungkinan bayi akan jadi rewel, tidur lebih sebentar, tampak tidak nyaman, diare, dan timbul reaksi pada kulit. Jika timbul gejala demikian, berarti si kecil termasuk sensitif dengan rasa pedas yang dikonsumsi ibu. Namun, perlu juga diperhatikan faktor lainnya, karena bisa saja bayi mengalami hal tersebut bukan karena rasa pedasnya.



Nah, itu dia Sobat Bidan, penjelasan seputar konsumsi makanan pedas pada masa menyusui. Intinya, ibu tidak dilarang makan makanan pedas saat menyusui asal jangan berlebihan dan si kecil tidak menunjukkan gejala sensitifnya terhadap rasa pedas. Semoga postingan ini bermanfaat, ya!

Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels.com

Thursday, January 10, 2019

Persalinan Sudah Dekat Jika Sobat Bidan Merasakan Tanda-Tanda Ini

Selamat siang, Sobat Bidan!

Tanda-tanda persalinan
Adakah yang masih menunggu detik-detik hari perkiraan lahir si bayi? Sudah menyiapkan berbagai keperluan yang diperlukan belum? Jangan ragu untuk segera mengemasi perlengkapan bayi dan ibu dalam sebuah tas, ya. Agar jika tiba saatnya bersalin, sudah tidak perlu repot lagi.


Adakah Sobat Bidan yang masih awam mengenai tanda-tanda persalinan? Bagi Sobat Bidan yang baru pertama kali hamil, mungkin masih bingung tentang bagaimana tanda menjelang persalinan. Baiklah, simak ulasan berikut sampai habis, ya!


1. Bayi terasa turun

Sudah pernah merasakan sensasi ini? Di mana kepala bayi seolah memenuhi rongga panggul hingga membuat kandung kemih terdesak sehingga sering bolak-balik kamar mandi. Jika ibu sudah merasakannya, maka bersiaplah, sebentar lagi persalinan akan menjelang. Empat minggu sebelum bersalin atau pada umur kehamilan 36 minggu biasanya bayi di dalam perut sudah mapan seperti ini. 

Namun begitu, pada ibu primigravida atau yang baru pertama kali hamil, penurunan kepala bisa terjadi di detik-detik menjelang persalinan atau justru pada saat persalinan itu berlangsung. Sedangkan normalnya, penurunan kepala pada primigravida terjadi sebelum umur kehamilan 38 minggu.

2. Nyeri punggung dan kram perut yang hebat

Jika Sobat Bidan mulai merasakan nyeri di sekitar punggung bagian bawah dan paha yang menjalar semakin hebat, segera bersiaplah, sebentar lagi akan memasuki proses persalinan. Selain itu, Sobat Bidan juga akan merasakan tekanan di area panggul sampai dubur yang teratur. Itu menandakan bahwa otot dan sendi tubuh sedang bergeser untuk persiapan proses persalinan.

3. Cairan keputihan berwarna kemerahan dan lebih kental 

Tanda-tanda menjelang persalinan yang berikutnya adalah bloody show. Bloody show artinya keluarnya bercak-bercak kemerahan menyerupai darah yang kental dari jalan lahir. Cairan ini merupakan cairan yang tersumbat oleh leher rahim. Karena mendekati persalinan leher rahim akan semakin melonggar, maka keluarlah cairan yang tersumbat ini. Jika sudah muncul bloody show, saatnya Sobat Bidan berangkat ke tempat bersalin yang sudah direncanakan.

Pakai pembalut 
4. Kontraksi yang kuat dan teratur

Beda dengan kontraksi Braxton His atau kontraksi tipuan yang jarang-jarang, saat menjelang persalinan Sobat Bidan akan merasakan kontraksi yang teratur. Kontraksi tersebut misalnya dimulai dari satu kali setiap lima menit sekali dengan durasi 40 detik, begitu terus hingga terjadi semakin sering. 

Kontraksi terjadi sebagai upaya penurunan kepala bayi dan untuk mendorong adanya pembukaan pada leher rahim untuk proses persalinan. Tubuh Sobat Bidan bisa jadi menggigil meski tidak kedinginan. Tapi jangan khawatir, itu merupakan salah satu mekanisme tubuh yang normal untuk mengurangi rasa sakit selama kontraksi. Redakan dengan pijat atau berendam di air hangat.

5. Pecahnya air ketuban

Jika di kehamilan tua Sobat Bidan sering merasakan rembes-rembes di celana dalam, itu merupakan air ketuban yang keluar sedikit-sedikit. Hal ini yang menyebabkan wanita saat kehamilan tua bisa mengalami penurunan berat badan, karena keluarnya cairan ketuban tersebut. Sebagian besar wanita akan mengalami hal ini, dan hanya 15-20 persen saja yang air ketubannya pecah secara langsung.

Namun, bila Sobat Bidan mengalami pecah air ketuban dalam satu waktu sehingga membuat basah kuyup di umur kehamilan yang sudah mendekati HPL, maka segeralah pergi ke tempat bersalin. Ini merupakan tanda pasti persalinan yang harus ditangani sesegera mungkin. Tapi, bila air ketuban itu pecah jauh sebelum waktu persalinan, ini merupakan salah satu tanda bahaya yang akan kita bahas nanti di postingan selanjutnya.

Nah, itu dia Sobat Bidan, beberapa tanda-tanda persalinan yang mesti diketahui. Segera berangkat ke faskes terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan jika Sobat Bidan sudah mengalami tanda-tanda di atas. Semoga postingan ini bermanfaat!

Semoga persalinannya lancar!
Salam sayang,

Bidan Ayu

Pic by : Pexels